Pelajaran Hidup: Kisah Tujuh Murid dan Gurunya
Pernah membaca Dharmasutra yang mengerikan? Telinga Sudra harus diisi timah? Ternyata itu metafora! Begitu pula kisah tujuh murid dalam kelompok spiritual—ada yang sombong, ada yang pamer, dan hanya satu yang datang dengan kerendahan hati. Guru bukan budak, dan iman tidak bisa dipaksakan. Inilah pelajaran tentang apa artinya benar-benar belajar.
Suatu hari ada seorang teman dari agama lain bertanya, dalam Gautama Dharmasutra, disebutkan bahwa, bila seorang Sudra sengaja mendengarkan Weda, telinganya harus diisi dengan timah atau pernis (lac) cair, bahkan lidahnya juga harus dipotong bila melafalkannya dan tubuhnya harus dibelah dua. Bila benar maka hukum jaman dulu sangat mengerikan. Pertanyaan seperti ini sering muncul dari mereka yang membaca teks kuno tanpa memahami konteks dan lapisan maknanya.
Meluruskan Makna Sudra dalam Dharmasutra
Baiklah, ini sepertinya harus diluruskan, bahwa tidak ada satupun Weda yang mengatakan Sudra tidak boleh belajar. Bahkan banyak doa menggunakan kata "visvam" atau "sarve" artinya untuk semua manusia. Sri Krishna bahkan dalam Bhagavad Gita juga mengatakan:"Karmāṇi pravibhaktāni svabhāva-prabhavair guṇaiḥ"
Sudra dalam bahasa Sansekerta memiliki arti "tidak berpengetahuan". Mereka terlahir karena kecenderungan karmanya, yang artinya bukan status sosial masyarakat. Orang miskin belum tentu Sudra, dan orang kaya juga belum tentu berada di tiga kasta tertinggi. Sudra merupakan kondisi kesadaran, bukan kelahiran.
Pertanyaan Jarang Dibahas: Mengapa ada larangan seperti itu?
Itu terjadi tidak hanya di zaman sekarang, di mana orang memiliki pengetahuan sedikit sudah merasa mengetahui segalanya. Padahal mereka hanya meniru ucapan orang lain, ketika mereka berdebat dan tidak memahami ranah yang sedang diperdebatkan dengan baik. Bukankah telinga mereka akan terasa panas, dan lidahnya terasa kelu, bahkan badannya akan terasa terbelah ketika menyadari, telah dikalahkan oleh orang yang lebih berilmu? Itulah makna sebenarnya dari Gautama Dharmasutra.
Hukum tersebut adalah metafora, tentang apa yang terjadi secara internal, ketika seseorang yang belum siap mencoba memahami kebenaran yang terlalu tinggi. Telinga yang diisi timah adalah simbol ketulian spiritual. Lidah yang dipotong adalah simbol ketidakmampuan untuk mengucapkan kebenaran dengan benar. Tubuh yang dibelah adalah simbol hancurnya ego yang menganggap dirinya mengetahui padahal tidak.
Kisah Tujuh Murid: Potret Keragaman Spiritual
Ketika kami para murid sedang berkumpul, umumnya mereka yang lebih tua semuanya tersenyum pada saya dengan merendahkan dan berkata, "Kamu ragu karena kamu kurang beriman." Senyum mereka membuat saya merasa jengkel. Meskipun guru sendiri terkadang memuji atas semangat spiritual mereka, baik di depan wajahnya maupun di depan kenalan-kenalannya yang lain, secara pribadi beliau cukup menyadari keterbatasan dari murid-muridnya.Murid Pertama: Sang Pengabdi yang Sombong
Murid guru yang tertua adalah fondasi kelompok spiritual ini. Dia telah belajar dengan baik, dan sekarang menghabiskan seluruh waktu luangnya dengan menjelajah ke pedesaan untuk melakukan homa. Tidak ada yang salah dengan ini; bahkan itu adalah hal yang baik. Namun, sebenarnya dia bisa belajar banyak bila menghabiskan lebih banyak waktu bersama guru. Bagaimanapun, beliau lah yang mengajarinya melakukan homa sejak awal. Namun sedikit pengetahuannya telah membuatnya sombong.Murid Kedua: Sang Ahli Astrologi yang Terobsesi
Begitu pula dengan murid kedua, yang terus berusaha membuat saya terkesan dengan astrologinya. Ia telah mengembangkan apa yang di yakini sebagai sistem yang sangat jitu untuk bisa menghasilkan uang di trading (pasar saham) dan telah menjadi pemain tetap, meskipun guru telah mengatakan kepadanya lebih dari sekali bahwa selama puluhan tahun dalam astrologi, belum pernah melihat sistem yang sangat jitu. Artinya ia pikir telah mengetahui lebih banyak, dan terkadang guru harus bersikap kasar kepadanya, karena tidak ingin sang murid tersebut menghancurkan dirinya sendiri. Meskipun beliau tahu ucapannya telah menyakitinya, tetapi seorang guru tidak bisa menjadi tablet kina yang manis. Lebih baik muridnya sedikit terluka sekarang, dan belajar dari kesalahannya, dibandingkan membiarkan orang lain memecahkan balon egonya yang menggelembung nanti, yang mungkin justru lebih menyakitkan.Murid Ketiga dan Keempat: Pencari Perhatian dan Pencari Bantuan
Murid ketiga hanya datang terutama untuk mencoba membuat saya terkesan dengan pencapaian dan pengalaman spiritualnya, sedangkan murid keempat hanya datang terutama untuk mendapatkan bantuan—mnegenai pernikahan putra dan putri mereka, perbaikan keuangan mereka serta perluasan usaha mereka.Guru menasihati murid keempat untuk tidak menikah anaknya karena telah tidak ditakdirkan untuk menikah dengan bahagia. Kemudian kerabatnya mulai menekannya, dan mengingatkannya betapa suramnya hidup bila dijalani sendirian. Pada akhirnya mereka menyerah, dan datang dengan penuh semangat kepada sang guru untuk memperoleh restunya. Namun, Apa yang mampu guru katakan kepadanya? Selain berkata "Silakan!"
"Pernikahan itu seperti kelepon (makanan dengan gula merah): bila Anda menggigitnya, Anda akan menyemprotkan gulanya di mulut Anda, tetapi jika Anda tidak menggigitnya, Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda bertanya-tanya bagaimana rasanya."
Murid Kelima: Sang Pencari yang Terpecah
Lalu murid kelima, ia benar-benar melakukan sadhana dengan sangat bagus, tetapi tidak memiliki cukup uang untuk bisa menikah meskipun menginginkannya. Dia bersahabat dengan seorang pertapa yang baik, yang terus menyuruhnya untuk tinggal di ashramnya, dan melupakan pekerjaan kecilnya yang bodoh, hampir tidak memberinya cukup uang untuk bertahan hidup.Sedangkan di ashram, dia akan diberi makan, pakaian, tempat berteduh, bahkan bisa melakukan sadhana dengan bebas sepanjang hari. Apa yang bisa lebih baik untuknya? Di sinilah Tuhan berkata kepadanya, "Ayo, anakku, Aku ingin kamu melakukan sadhana, Aku telah mengatur segalanya." Tetapi apakah dia pindah ke ashram? Tidak! Dia takut meninggalkan kenyamanan dari lingkaran kerabat dan teman-temannya. Sedangkan jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih berpikir mungkin masih bisa menikah suatu hari nanti. Jadi dia tetap di kontrakannya dan melakukan sadhana.
Di mana setengah dari pikirannya tertuju pada gambar-gambar dewa yang dipajang di dindingnya, dan setengahnya lagi mendorongnya untuk melakukan masturbasi. Bagaimana dia bisa membangun cukup tejas untuk membuat kemajuan spiritual, bila tidak berhenti mengalami orgasme setidaknya selama beberapa bulan? Itu sia-sia, kata sang guru, itu merupakan tindakan membuang potensi yang baik.
Murid Keenam: Sang Pamer Pengetahuan
Selanjutnya ada murid keenam yang datang hanya bertujuan memamerkan pengetahuan Ayurwedanya. Namun, seperti biasa, justru menyadari dirinya telah diajari sesuatu baru, seperti yang dilakukannya pada suatu hari dengan menyombong membawa sebuah amplop plastik kecil berisi sebuah benda cokelat kecil berlabel "serangga hidung unta."Guru bertanya, "Apakah kamu baru saja ke Rajasthan?"
Murid keenam itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, "ya," dalam keheningan yang tercengang. Awalnya saya sendiri juga ragu tentang kebenaran cerita yang agak mengada-ada ini, tetapi ketika bertahun-tahun kemudian melakukan penyelidikan, saya menemukan bahwa semua detailnya sudah benar.
Murid Ketujuh: Sang Rendah Hati
Murid ketujuh, yang memiliki perusahaan transportasi, adalah salah satu dari sedikit murid yang tidak terlalu peduli. Dia tidak mengaku sebagai sesuatu yang bukan dirinya, atau berpura-pura cenderung lebih pintar daripada dirinya. Setiap kali ia mengirimi guru makan siang tanpa pemberitahuan, sang guru segera menyadari bahwa muridnya punya masalah—salah satu truknya mungkin hilang, atau mungkin ia ingin membawa muatan yang sangat berat tapi kondisi truknya tidak memungkinkan.Murid tersebut pasti akan tiba beberapa jam setelah makanannya tiba, dan akan mulai memijat kaki sang guru sambil menjelaskan masalahnya. Sang guru kemudian akan melesat pergi dalam tubuh astralnya untuk memperbaiki masalahnya sementara pijatan masih berlangsung, dan sang murid pun akan pulang setelahnya dengan yakin, bahwa kesulitan terakhirnya akan segera berlalu.
Refleksi Guru: Mengapa Tidak Semua Murid Berubah
Guru kami mencoba secara berkala untuk membuat "anak-anaknya" memahami kesalahan jalan mereka, tetapi mereka lebih menyukai melanjutkan jalan yang telah mereka tempuh, sednagkan guru lebih suka tidak ikut campur. "Berikan mereka cukup tali dan mereka akan gantung diri," katanya."Karena Alam mencintaiku, maka juga akan mencintai 'anak-anakku', dan melakukan banyak pertolongan untuk mereka. Tetapi sayangnya banyak dari mereka yang mengharapkan aku, untuk memaksa Alam menyelesaikan semua masalah mereka. Mengapa aku harus melakukannya? Aku melakukan sadhana untuk keuntunganku sendiri, dan untuk keuntungan mereka yang mencintaiku apa adanya. Inilah sebabnya aku lebih tertarik untuk melunasi Rina Bandhana (ikatan hutang karma) yang sudah kulakukan dengan para murid yang telah disebut ini.
Pelajaran dari Murid Ketujuh: Kerendahan Hati adalah Kunci
Ketika guru dan saya duduk bermain catur ia berkata kepada saya, "Murid ketujuh itu adalah salah satu dari sedikit orang yang berakal sehat, yang datang untuk meminta tolong dariku. Ia tidak pernah mencoba untuk pamer. Ia menyadari akan datang untuk mengemis dan datang dengan rendah hati, itu yang aku hargai. Selanjutnya, ia tidak menggangguku saat aku melakukan pertolongan; sebaliknya, ia justru membantuku dengan pijatannya."Akhir Kata: Menjadi Murid yang Rendah Hati
Kisah tujuh murid ini telah mengajarkan kita, bahwa menjadi murid bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, atau seberapa sering kita datang ke guru, atau seberapa besar keinginan kita untuk dipuji. Menjadi murid adalah tentang kerendahan hati untuk menyadari bahwa kita tidak tahu, dan keberanian untuk tetap belajar meskipun tidak selalu dipuji.Murid pertama sombong karena sedikit pengetahuannya. Murid kedua terobsesi dengan sistem buatannya sendiri. Murid ketiga haus perhatian. Murid keempat mengabaikan nasihat lalu mengeluh. Murid kelima terpecah antara keinginan dan ketakutan. Murid keenam pamer pengetahuan yang akhirnya terbukti dangkal.
Hanya murid ketujuh yang datang dengan kesadaran bahwa ia sedang mengemis—dan karena itu, ia menerima apa yang ia butuhkan.
Iman, dalam perspektif ini, bukan tentang seberapa keras kita memaksa diri untuk percaya. Iman adalah kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan, dan keberanian untuk menerimanya dengan cara yang diberikan—bukan dengan cara yang kita inginkan.
Seperti kata guru dalam kisah ini, "Berikan mereka cukup tali dan mereka akan gantung diri." Alam mengasihi, tetapi ia tidak akan memaksa. Guru mengasihi, tetapi ia tidak akan menjadi budak. Hanya mereka yang datang dengan tangan terbuka dan hati rendah yang benar-benar menerima—bukan hanya manisan dan bunga, tetapi transformasi sejati.
Komentar
Posting Komentar
"Terima kasih banyak telah meninggalkan komentar di blog kami! Kami sangat menghargai partisipasi Anda. Komentar Anda membantu kami untuk terus berkembang dan memberikan konten terbaik. Kami akan segera membalasnya begitu kami online. Tetaplah terhubung dan terus berbagi pemikiran Anda!
Jejaktantra — berbagi makna, menumbuhkan kesadaran."