Featured Post

Pengiwa dan Penengen Dualitas Gelap-Terang Spiritual Tantra


Pernah mendengar Pengiwa (jalan kiri) yang menggunakan darah dan tengkorak? Jangan buru-buru menghakimi. Dalam Tantra, hitam dan putih hanyalah alat menuju kebenaran. Ritual "sesat" seperti Panchamakara menyembunyikan rahasia besar: bagaimana daging, anggur, hingga seks bisa menjadi jalan menyelaraskan lima elemen alam semesta. Apakah Anda siap melihat cahaya di balik kegelapan?


Dalam hiruk-pikuk spiritualitas modern, kita sering disuguhi dikotomi sederhana: putih itu baik, hitam itu buruk. Namun, alam semesta tidak bekerja dalam biner yang kaku. Di Bali, konsep Rwa Bhineda mengajarkan bahwa keberadaan tidak akan utuh tanpa dua sisi yang berlawanan.

Dalam tradisi Tantra yang lebih dalam, dualisme ini dipersonifikasikan sebagai Pengiwa dan Penengen. Banyak yang terpaku pada kulit luarnya yang mengerikan—darah, tengkorak, ritual seks—lalu dengan mudah mencapnya sebagai "ilmu hitam" atau sesat. Padahal, kedua jalur ini adalah produk dari alam maya yang sama, diciptakan bukan untuk pertentangan, melainkan sebagai instrumen untuk mencapai kebenaran tertinggi.

Artikel ini akan mengupas tuntas makna di balik tabir gelap Pengiwa, menjelaskan Panchamakara dalam tiga lapis pemahaman, hingga bagaimana ritual "kotor" ini justru menjadi jalan menuju kesehatan dan keselarasan universal yang abadi.

Pengiwa dan Penengen Dualitas Gelap-Terang Spiritual Tantra

Di Antara Dua Sisi: Pengiwa dan Penengen sebagai Cermin Diri

Segala sesuatu yang hadir di dunia Maya tak bisa dilepaskan dari konsep dualisme. Hanya dengan pengetahuan (mata) yang sejati akan mampu untuk menghancurkan efek dualisme dan memunculkan kebenaran. Ini sebabnya pengiwa dan penengen akan selalu seiring sejalan. Mereka seperti dua sisi mata uang yang sama; tanpa kegelapan, kita tidak akan pernah memahami apa itu cahaya.

Pengiwa dan Penengen, adalah bagian dari dualisme yang tidak bisa dielakkan. Dalam ritual spiritual akan selalu diajarkan, bahwa dari gelap akan datang terang dan begitu juga sebaliknya, karena mereka selalu mempengaruhi satu sama lain. Bila ritual penengen selalu dianggap baik (positif) maka pengiwa akan selalu dianggap buruk (negatif), padahal mereka berdua hasil produksi maya yang bisa dimanfaatkan untuk kemajuan spiritual.

Pertanyaan Umum: Apakah Pengiwa itu sama dengan Ilmu Hitam?

Secara harfiah, iya jika dilihat dari perlengkapannya. Namun secara filosofis, tidak. Pengiwa atau Vama Marga adalah jalan kiri yang menggunakan objek-objek yang tabu untuk meledakkan ego, bukan untuk memuaskan nafsu rendah. Praktisi sejati menggunakan tengkorak bukan untuk memuja kematian, tetapi untuk mengingatkan dirinya sendiri akan kefanaan tubuh.

Pengiwa dan Penengen Dualitas Gelap-Terang Spiritual Tantra

Jalan Kiri dan Jalan Kanan: Dua Pendakian yang Berbeda

Ritual yang menggunakan objek berupa darah, mayat dan tengkorak secara harfiah tersedia bagi mereka yang ingin mendapatkan hasil yang cepat. Praktik semacam itu adalah bagian dari ajaran Vama Marga, atau Pengiwa, yang merupakan lawan dari Dakshina Marga, atau penengen. Mengapa ada jalan yang cepat dan berbahaya? Karena tidak semua orang memiliki sisa waktu berkalpa-kalpa untuk bermeditasi di gua.

Bila Dakshina Marga ditujukan bagi mereka yang mencari kemajuan spiritual dengan aman, stabil dan mengurangi bahaya kemunduran. Sedangkan Vama Marga dikenal juga dengan sebutan Zhighra, Ugra dan Tivra, atau dengan kata lain cepat, mengerikan dan intens. Di jalan Vama Marga peluang tersesat dan terjerumus akan bahaya sangat besar, kecuali bila memiliki perlindungan dari seorang guru spiritual, ini menyebabkan banyak yang mengatakan bahwa Vama Marga sebagai ilmu sesat, karena faktanya banyak yang tersesat, karena mempelajari ilmu ini secara otodidak, tanpa bimbingan oleh guru yang kompeten.
"Seperti halnya ritual seks, yang banyak beredar namun tidak memiliki pemahaman yang cukup cara mempelajari dengan benar, membuat Tantra terkenal sebagai bagian dari Vama Marga. Api yang sama yang bisa menerangi rumah, juga bisa membakarnya hangus. Tanpa guru, Vama Marga adalah api tanpa perapian."

Pengiwa dan Penengen Dualitas Gelap-Terang Spiritual Tantra

Membongkar Tabir Panchamakara: Bukan Sekadar Pesta

Ritual di mana seks sebagai objek, diketahui sebagai ritual Panchamakara, sebenarnya dari tiga jenis versi yang akan saya jelaskan dibawah ini, dan hanya dalam satu jenis versi, hubungan seksual yang sebenarnya terjadi. Inilah poin krusial yang jarang dipahami orang awam. Panchamakara adalah teknologi kesadaran yang dikemas dalam simbol.
  1. Versi pertama, ditujukan untuk orang Tamasic, Tamas artinya kelambanan mental atau kebodohan. Sedangkan intensitas dari lima (Pancha) berarti lima barang sebagai objek ritual yaitu, daging, ikan, biji-bijian kering, anggur dan seks. Kelima objek ini dianggap mampu, untuk menguasai kebodohan pikiran dengan jalan rangsangan. Bila orang yang akan mempelajari praktek ini, benar benar sudah dipersiapkan dengan matang, peningkatan energi mental ini bisa membantu evolusi spiritualnya. Namun bagi orang yang belum matang dalam persiapannya, akan dengan mudah dikalahkan oleh rangsangan dan jatuh ke dalam kesenangan yang menyesatkan.
  2. Versi kedua ditujukan untuk Orang Rajas, yang artinya memiliki aktivitas mental, memiliki pikiran yang aktif dan harus disalurkan dengan benar. Mereka hanya akan membutuhkan lebih sedikit rangsangan, namun lebih banyak cara mengontrol, dan dengan memanfaatkan jahe, lobak, biji-bijian rebus (sebagai lawan dari kering), santan dan bunga di dalam praktek Panchamakara mereka.
  3. Versi ketiga ditujukan untuk orang Sattvic, mereka secara alami menikmati Sattva (keseimbangan pikiran dan kewaspadaan) yang cukup dan tidak memerlukan bantuan eksternal untuk menjalankan ritual. Mereka memanfaatkan daging keheningan (menjaga lidah), memakan ikan (pengendalian nafas sebagai teknik konsentrasi), anggur (mabuk akan ke-Tuhanan), dan hubungan ego seseorang dengan Yang Mutlak.
Pertanyaan Jarang Dibahas: Apa makna "seks" dalam versi tertinggi Panchamakara?

Dalam versi Sattvic, "seks" atau Maithuna bukanlah hubungan fisik. Ia adalah penyatuan simbolis antara Kundalini (energi feminin) dan Siwa (kesadaran maskulin) di dalam cakra mahkota. Ini adalah orgasme kosmik di mana individu meleleh dan menyatu dengan yang Ilahi.

Pengiwa dan Penengen Dualitas Gelap-Terang Spiritual Tantra

Bahasa Rahasia Sansekerta: Ikan yang Berenang di Sungai Nafas

Terminologi bahasa Sansekerta yang digunakan untuk menggambarkan Panchamakara, yaitu dengan cara menyembunyikan makna ini di bawah eksteriornya. Ini adalah Sandhya Bhasha, atau bahasa senja, di mana kata-kata biasa memiliki makna teknis yang sangat berbeda.

Contohnya, ikan adalah arti dari kontrol napas, karena dua lubang hidung manusia disebut dalam terminologi Yoga sebagai sungai, karena mereka terus mengalir (yang kanan disebut Gangga dan yang kiri sebagai Yamuna). Ini sama seperti ikan yang sedang berenang di sungai, teknik bernapas melalui lubang hidung secara bergiliran dari yang kanan kemudian ke kiri dan kemudian mulai untuk menahan napas (Kevala Kumbhaka) sama dengan "memakan ikan". Jadi, memakan ikan di sini adalah mencapai keheningan di antara dua arus nafas, yang merupakan gerbang menuju kesadaran sejati.

Pengiwa dan Penengen Dualitas Gelap-Terang Spiritual Tantra

Menyelaraskan Lima Elemen: Dari Ritual Menuju Kesehatan Abadi

Panchamakara hanyalah salah satu dari sekian banyak ritual Tantra, tetapi mampu menggambarkan dengan apik, konsep dasar dari Tantra yaitu mengenai pengenalan Bhuta Shuddhi. Wujud dari Alam semesta adalah hasil permutasi dari lima Elemen Besar: Bumi, Air, Udara, Api dan Eter, masing-masing setara dengan keadaan materi padat, cair, dan gas, panas (mengubah materi dari satu keadaan ke keadaan lain), dan medan dimana semua kegiatan berlangsung.

Agar bisa tercapai keselarasan universal, maka ke lima elemen ini harus diselaraskan. Panchamakara adalah cara yang cepat dan intens untuk melakukan proses ini: daging simbol dari Bumi, ikan untuk Air, anggur untuk Api, biji-bijian untuk Udara, dan seks untuk Eter. Ketika manusia mampu untuk mencapai tahap keseimbangan, di mana input (elemen) itu sendiri tidak lagi menyebabkan ketidakseimbangan dari kesadaran atau metabolisme, maka akan sangat kecil kemungkinannya bahwa fluktuasi lain, dari lima elemen tersebut akan mampu untuk menyebabkan ketidakharmonisan, dan kondisi kesehatan yang diharapkan telah tercapai, karena kesehatan adalah keseimbangan dan penyakit adalah ketidakseimbangan. Kesehatan ini akan jauh lebih permanen daripada kesehatan biasa.

Pengiwa dan Penengen Dualitas Gelap-Terang Spiritual Tantra

Memperbesar Emosi, Bukan Mematikannya

Agar mampu untuk menangani lima elemen ini, meskipun penting dalam setiap sadhana Tantra, namun otoritas Tantra menganjurkan personifikasi belajar dalam iringan. Dibandingkan dengan cara berusaha untuk memusnahkan emosi mereka sepenuhnya, seperti yang dilakukan oleh para praktisi Yoga. Disini Tantra bekerja sebaliknya, yaitu dengan memperbesar emosi mereka dan mentransfernya sepenuhnya ke Dewa, sebagai kekuatan kosmik yang dipersonifikasikan.

Inilah revolusi yang ditawarkan Tantra. Semua emosi dari praktisi spiritual secara alami, bisa dihabiskan dalam hubungan penyembahan Dewa ini, untuk menghindari penekanan keinginan apa pun, yang kemungkinan bisa meledak dan mengganggu keseimbangan. Jadi disini Tantra menegaskan bahwa, tidak ada Mukti (kebebasan dari delusi) tanpa Bhukti (kesenangan). Kenikmatan sendiri mengacu pada penerimaan semua fenomena, yang mungkin terjadi baik itu menyenangkan atau menyakitkan pada diri individu.

Praktisi Tantra bergantung pada kemurahan hati Alam (dipersonifikasikan sebagai dewa) untuk melindungi dan menyediakan. Yoga dan Vedanta ini ditujukan langsung pada Mukti, yang sangat sesuai diterapkan di zaman dahulu ketika kehidupan duniawi tidak terlalu banyak menuntut. Namun, Tantra akan lebih praktis untuk zaman sekarang.

Akhir Kata: Memberi Makan Sisi yang Tepat

Pengiwa dan penengen bagian dari sistem alam semesta untuk menjaga keseimbangan. Kebaikan dan keburukan akan selalu seiring sejalan tergantung pada sisi mana yang di berikan makan. Pada akhirnya, tidak ada jalan yang sepenuhnya putih atau hitam. Yang ada hanyalah kesadaran yang memberi makan egonya dengan kegelapan, atau yang memberi makan kebijaksanaannya dengan cahaya. Tantra mengajarkan kita untuk tidak lari dari bayangan, tetapi duduk diam di tengah-tengahnya, menyadari bahwa kita adalah sumber dari semua cahaya itu sendiri. Ketika Anda bisa menerima iblis Anda dengan kasih sayang yang sama seperti Anda menerima malaikat Anda, saat itulah dualisme runtuh dan kebenaran abadi terungkap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesadaran Rasa: Pengaruh Enam Rasa terhadap Tubuh dan Pikiran

Mantra: Kekuatan Perlindungan Pikiran dan Pencerahan

Materi Tantrik: Kunci Memahami Keragaman Spiritualitas