Rahasia Chakra: Menyingkap Pusat Energi Spiritual
Kebanyakan orang hanya tahu 6 chakra. Tantra membuka tabir 3 chakra rahasia di kepala—Golata, Lalata, Lalana—yang menjadi gerbang keabadian. Dengan Khecari Mudra, lidah menjadi kunci membuka pintu nektar bulan. Inilah perbedaan antara Nara (manusia) dan Khara (keledai). Yang satu hidup untuk makan dan seks, yang lain untuk keilahian. Anda pilih yang mana?
Selama ini kita mendengar bahwa tubuh memiliki tujuh Chakra utama. Namun, Tantra berbicara lebih dalam. Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa ada enam Chakra. Namun Kami akan menyampaikan ada sembilan. Untuk bisa memahami pernyataan ini setidaknya kita harus mengetahui perbedaan antara Nara (manusia) dan Khara (keledai) terlebih dahulu.
Seorang Khara hanya percaya pada tiga Chakra terendah, yaitu Chakra yang bertugas makan, berkembang biak, dan buang air. Sedangkan penis keledai yang panjang, merupakan simbol bagi mereka yang mempunyai nafsu besar terhadap kesenangan duniawi.
Artikel ini akan membawa Anda melampaui pemahaman populer mengenai Chakra. Kita akan menyelami tiga Chakra rahasia yang tersembunyi di kepala—Golata, Lalata, Lalana—yang hanya bisa diakses setelah Kundalini terbangun sepenuhnya. Kita akan mengungkap misteri Khecari Mudra, nektar bulan (amrita), dan mengapa manusia biasa disebut "mayat hidup" sebelum Kundalini menari di atas kesadaran Siwa.
Nara dan Khara: Dua Tingkatan Kesadaran
Seorang Khara hanya percaya pada tiga Chakra terendah (Muladhara, Svadhisthana dan Manipura), yaitu Chakra yang bertugas makan, berkembang biak, dan buang air. Sedangkan penis keledai yang panjang, merupakan simbol bagi mereka yang memiliki nafsu besar terhadap kesenangan duniawi. Khara hanya akan hidup dalam lingkaran terbatas: bertahan hidup, reproduksi, dan kematian. Mereka tidak menyadari bahwa ada dimensi kesadaran yang lebih tinggi di dalam dirinya.Sedangkan Seorang Nara hidup secara eksklusif di tiga Chakra teratas (Anahata, Visuddha dan Ajna). Namun, hanya sedikit Nara yang ada di dunia dalam kurun satu waktu, dan hanya satu Nara yang mampu menjadi Narayana, yaitu Tuhan itu sendiri dengan pencapaian tiga Chakra tertinggi.
Pertanyaan Umum: Apa perbedaan Nara dan Narayana?
Nara adalah manusia yang telah mencapai kesadaran spiritual tinggi, hidup di tiga chakra atas (Anahata, Visuddha dan Ajna). Narayana merupakan realisasi tertinggi di mana kesadaran individu menyatu dengan kesadaran kosmik. Nara masih merasakan dirinya sebagai bagian dari Tuhan; sedangkan Narayana adalah Tuhan itu sendiri yang menjelma.
Tiga Tingkatan Alam: Adhibhautika, Adhyatmika, Adhidaivika
Tiga Chakra terbawah (Muladhara, Svadhisthana dan Manipura) adalah untuk alam duniawi, yang disebut dengan adhibhautika. Tiga yang teratas (Anahata, Visuddha dan Ajna) adalah untuk spiritual yaitu adhyatmika, dan Tiga yang terakhir adalah untuk hal-hal yang melampaui fisik serta spiritual. Beberapa orang biasa menyebutnya dengan astral, sedangkan dalam bahasa Sansekerta, menyebutnya adhidaivika.Ketiga Chakra terakhir ini berada di dalam kepala, yang memungkinkan bagi makhluk abadi untuk tetap bersinggasana di dalam tubuh manusia, bila mereka mampu mempertahankan berkah tersebut.
Ketiga Chakra terakhir ini bersifat rahasia, dan tidak bisa dijelaskan seperti enam Chakra lainnya. Itu hanya bisa dialami oleh sadhaka sendiri setelah Kundalini terbangun sepenuhnya. Tiga Chakra rahasia tersebut adalah Golata, Lalata, dan Lalana, dikatakan terletak di uvula di bagian belakang tenggorokan, di atas Chakra Ajna, dan di dalam langit-langit lunak atas.
Khecari Mudra: Kunci Membuka Pintu Keabadian
Dengan berlatih Khecari Mudra, dimana linguae (lingual frenulum) di bawah lidah dipotong secara progresif, dan lidah secara bertahap memanjang dengan cara diregangkan, hingga mencapai titik di antara kedua mata. Selanjutnya lidah diputar ke dalam dan diarahkan ke atas untuk menekan serta memasuki saluran ular berkepala dua untuk menutup pintu kesepuluh di dalam rongga tengkorak di atas langit-langit lunak.Pertanyaan Jarang Dibahas: Apakah praktik memotong lidah ini masih dilakukan?
Secara harfiah, praktik ini sudah sangat langka dan hanya dilakukan oleh segelintir Yogi di Himalaya serta harus di bawah bimbingan seorang guru yang berpengalaman. Namun secara simbolis, "memotong lidah" berarti mengendalikan keinginan berbicara yang tidak perlu, menghentikan "kebocoran" energi melalui kata-kata. Versi modernnya adalah melatih lidah untuk diam, tidak bergoyang saat meditasi, dan menarik energi ke atas.
Tekanan kuat oleh lidah pada "Ama Kala" atau yang disebut dengan wadah nektar bulan, menyebabkan nektar bulan (amrita; soma) akan mengalir deras ke bawah, dan meresap ke seluruh tubuh dengan memberikan perasaan kebahagiaan tertinggi. Hasil yang diperoleh adalah berupa Khecari Siddhi, yaitu menganugerahkan keabadian ilahi yang bebas dari penuaan, kerusakan serta penyakit, juga diberkahi dengan delapan kekuatan tertinggi.
"Ular berkepala dua adalah saluran yang membentang dari bagian belakang tenggorokan hingga 'bulan' atau tepat di atas Chakra Ajna. Sedangkan Pintu kesepuluh adalah lubang kesepuluh pada badan dan 'Ama-Kala' adalah batu keabadian spiritual sejati."
Anatomi Halus: Sushumna, Chandra, Surya
Pusat tubuh halus adalah Sushumna Nadi (api), di kiri dan kanannya masing-masing ada Chandra (bulan) dan Surya (matahari) Nadi. Saluran-saluran tersebut digambarkan memiliki ketebalan seperseribu rambut. Baik Surya Nadi dan Chandra nadi akan masuk atau menyatu dengan Sushumna di Chakra Muladhara dan naik ke lokasi Chakra Anja, kemudian turun ke lubang hidung kiri serta kanan, sedangkan Sushumna naik ke Chakra Sahasrara. Dari kedua lubang hidung terbentang saluran prana yang membawa nafas, hingga selebar dua belas jari.Sembilan Chakra: Peta Perjalanan Kundalini
Seperti yang telah kita ketahui bahwa di dasar Sushumna terdapat Chakra Muladhara yang terletak di perineum, di mana Kundalini berbaring melingkar, dan tertidur dengan kepalanya menutup bohlam (Kanda) atau pintu masuk ke Sushumna. Chakra Muladhara sendiri digambarkan memiliki empat kelopak (pleksus nadi) yang disegel dengan elemen tanah berwarna kuning persegi.Selanjutnya naik ke Chakra Svadhisthana yang terletak daerah kemaluan, memiliki enam kelopak, dan disegel dengan bulan sabit putih dari elemen air. Di pusar terdapat Chakra Manipura yang terdiri dari sepuluh kelopak dan disegel dengan segitiga api merah. Kemudian Di dekat jantung terdapat Chakra Anahata, dengan dua belas kelopak dan disegel dengan heksagram udara biru.
Vishuddha di tenggorokan dengan enam belas kelopak dan disegel dengan lingkaran putih dari elemen angkasa. Chakra Ajna terletak di tengah dahi dengan dua kelopak, yang tidak disegel dengan satupun dari lima elemen kasar, melainkan oleh esensi halus dari Pikiran.
Dari Chakra Ajna berpindah ke Sahasrara yang terletak di puncak kepala, yang sama sekali bukan Chakra, dengan bunga teratai berkelopak seribu yang cemerlang oleh esensi halus dari Pikiran.
Simbolisme Teratai: Lebih dari Sekadar Bunga
Masing-masing Chakra digambarkan memiliki berbagai dewa dan bija mantra di pusatnya dan setiap kelopaknya. Namun, sebenarnya tidak ada bunga teratai atau huruf yang terukir di atasnya. Istilah ini digunakan untuk mewakili realitas pengalaman yoga. Pernahkah kita berpikir untuk bertanya, "Mengapa harus teratai? Mengapa bukan bunga lain, atau sesuatu selain bunga?"Bunga teratai digunakan sebagai simbol kesucian, meskipun hidupnya di dalam lumpur, ia tidak dikotori oleh lumpur melainkan naik ke atasnya. Demikianlah analogi bunga teratai yaitu diskriminasi dan lumpur Maya. Tapi masih ada lagi. Teratai hanya terbuka saat disentuh matahari pagi, dan menutup saat matahari terbenam. Demikian pula, bunga teratai dari Enam Chakra hanya terbuka ketika Kundalini Shakti telah hadir di dalamnya, bila tidak, mereka akan tetap tertutup.
Pertanyaan Umum: Apakah chakra bisa "tertutup" lagi setelah terbuka?
Bisa, bila praktisi lengah. Chakra bukan saklar on-off permanen. Mereka seperti bunga yang mekar saat disinari matahari (kesadaran) dan menutup saat matahari terbenam (kelengahan). Itulah mengapa latihan konsisten sangat penting.
Selain itu, meskipun matahari bersinar, bunga teratai akan menutup bila disiram air. Seorang spiritualis juga harus belajar menjadi seperti teratai di dalam air; harus menutup diri terhadap pengaruh luar agar Tiga Guna yang menganugerahkan kekuatan super tidak mengganggu langkah spiritual.
Setiap Chakra memiliki jumlah kelopak yang berbeda, ada empat, enam, sepuluh, dua belas, enam belas, dan dua, dalam urutan naik untuk membedakannya. Setiap kelopak adalah Bija Mantra (benih mantra) berbeda untuk Chakra tertentu. Namun, dengan melakukan ritual yang sesuai dengan Bija Mantra tersebut, pengetahuan mengenai cara membedakannya bisa diperoleh.
Sahasrara: Bukan Chakra, Melainkan Tujuan
Sahasrara, "Teratai Seribu Kelopak", ada di bagian atas kepala. Meskipun berbentuk bunga teratai, sebenarnya ia bukanlah Chakra karena tidak terdapat pleksus nadi di sana, hanya ada satu nadi yang menghubungkan Sahasrara dengan Chakra Ajna, yang dianggap semacam batang teratainya. Teratai Sahasrara memiliki jumlah kelopak terbanyak. Jumlah kelopak terbanyak berikutnya ada di Chakra Vishuddha, yang berjumlah enam belas. Semua Bijanya adalah vokal, karena vokal adalah dasar vokalisasi, yang terletak dari tenggorokan, sebagai kedudukan Chakra Vishuddha.Kundalini: Dari Ular Tidur Menjadi Tarian Kosmik
Kundalini tidur melingkar seperti ular di Chakra Muladhara. Dia mempunyai tiga setengah gulungan, memiliki arti tiga mengacu pada Tiga Guna, dan setengah mengacu pada mulut ular, sebagai tempat kedudukan ego. Hanya setengah karena ego adalah Shakti, yang hanya separuh dari Siwa, sebagai sosok Shaktiman atau pengendali Shakti.Sedangkan tujuan Yoga Kundalini adalah untuk menyatukan kembali Siwa dengan Shakti, dan menciptakan wujud abadi Siwa, yaitu Sadasiwa.
Pertanyaan Jarang Dibahas: Apa perbedaan Siwa, Sadasiwa, dan Ardhanariswara?
- Siwa adalah kesadaran murni, aspek maskulin, tanpa bentuk.
- Shakti adalah energi, aspek feminin, yang menciptakan alam semesta.
- Ardhanariswara adalah wujud di mana Siwa dan Shakti bersatu dalam satu tubuh—setengah pria, setengah wanita. Ini adalah realisasi di tingkat individu.
- Sadasiwa adalah wujud kosmik di mana Siwa dan Shakti telah bersatu sempurna, namun belum menyatu seutuhnya. Masih ada sedikit dualitas untuk memungkinkan "permainan" (lila) berlanjut.
Sadasiwa sendiri ada dalam skala kosmik, sedangkan dalam diri individu, dikenal sebagai Ardhanariswara (Tuhan yang Setengah Perempuan). Agar bisa mewujudkan Sadasiwa, Kundalini harus dibangkitkan sepenuhnya, karena perwujudan Siwa yang tertinggi dalam diri manusia terletak di kepala, yaitu bagian tubuh yang tertinggi.

Kundalini bukanlah ular yang harus ditakuti, melainkan Ibu yang harus dicintai. Ia adalah Shakti Anda sendiri, energi Anda sendiri, yang selama ini tertidur karena Anda lebih memilih menjadi keledai (Khara) daripada manusia sejati (Nara).
Sekarang, pilihan ada di tangan Anda. Tetap menjadi mayat hidup yang sibuk dengan makan dan seks, atau membangunkan sang Ular, membuka tiga Chakra rahasia, dan menyatu dengan Sadasiwa di mahkota kepala. Jalan ini tidak mudah, tetapi ujungnya adalah kebahagiaan yang tidak pernah pudar—keabadian di dalam tubuh fana.
Mayat Hidup: Realitas Pahit Manusia Biasa
Pada manusia biasa Kundalini tertidur di dasar tulang belakang, sehingga Siwa kehilangan Shaktinya. Orang seperti itu bukanlah Siwa melainkan hanya Shava (mayat). Kita bisa melihat setiap orang hanyalah mayat hidup karena itulah sejatinya mereka bila tanpa kesadaran, sampai Kundalini Shakti terbangun dan mulai menari di atas Siwa-Nya, yang artinya mereka benar-benar sudah mati karena penyatuan kedua-Nya."Tanpa Kundalini, manusia hanyalah mayat yang berjalan. Bernapas, makan, bekerja, tidur—lalu mati. Hidup tanpa kesadaran akan keilahian di dalam diri adalah kematian yang berkepanjangan."
Akhir Kata: Membangunkan Sang Ular, Menemukan Keabadian
Rahasia Chakra bukanlah sekadar pengetahuan untuk menambah wawasan. Melainkan sebuah peta untuk perjalanan pulang. Tiga Chakra bawah mengikat kita pada dunia. Tiga Chakra tengah membawa kita pada spiritualitas. Tiga Chakra rahasia di kepala membuka pintu menuju keabadian.Kundalini bukanlah ular yang harus ditakuti, melainkan Ibu yang harus dicintai. Ia adalah Shakti Anda sendiri, energi Anda sendiri, yang selama ini tertidur karena Anda lebih memilih menjadi keledai (Khara) daripada manusia sejati (Nara).
Sekarang, pilihan ada di tangan Anda. Tetap menjadi mayat hidup yang sibuk dengan makan dan seks, atau membangunkan sang Ular, membuka tiga Chakra rahasia, dan menyatu dengan Sadasiwa di mahkota kepala. Jalan ini tidak mudah, tetapi ujungnya adalah kebahagiaan yang tidak pernah pudar—keabadian di dalam tubuh fana.
Komentar
Posting Komentar
"Terima kasih banyak telah meninggalkan komentar di blog kami! Kami sangat menghargai partisipasi Anda. Komentar Anda membantu kami untuk terus berkembang dan memberikan konten terbaik. Kami akan segera membalasnya begitu kami online. Tetaplah terhubung dan terus berbagi pemikiran Anda!"