Featured Post

Segalanya Sadhana: Dunia Menjadi Altar Spiritual


Tidak perlu lari ke gua untuk bertemu Tuhan. Makan, tidur, bahkan seks bisa menjadi sadhana—asalkan dipersembahkan. Tapi hati-hati: jalan cepat (Tamasic) bisa menghancurkan astral tubuh jika salah langkah. Sementara jalan Sattvic butuh kesabaran seperti lebah dalam kisah Siwa. Yang mana pilihan Anda? Ingat, bahwa dewa tak suka dijambak rambutnya.


Kita tidak harus meninggalkan segalanya untuk meningkatkan spiritual dengan pesat. Kita bisa membuat segalanya menjadi sadhana. Persembahkan setiap suapan makanan kepada dewa yang dipuja, pergilah tidur di malam hari mengingat-Nya, bahkan ketika berhubungan seks. Ini adalah inti dari Tantra: tidak menolak dunia, tetapi mengubahnya menjadi altar.

Namun jalan ini bukan tanpa tantangan. Di sini kita tidak perlu mengetahui ritual seksual yang rumit untuk mempersembahkan mantra dengan setiap hentakan. Yang diperlukan hanyalah kesadaran yang terus-menerus mengingat Yang Ilahi.

Artikel ini akan mengupas bagaimana setiap aspek kehidupan mampu menjadi spiritual, perbedaan antara jalan Sattvic yang lembut dan jalan Tamasic yang cepat namun berbahaya, rahasia Ojas, dan mengapa para dewa—seperti anak kecil—hanya datang kepada mereka yang mampu menjadi polos di hadapan-Nya. Kisah lebah yang terperangkap dalam teratai dan akhirnya menyatu dengan Siwa menjadi pengingat abadi: tidak ada usaha spiritual yang sia-sia.

Segalanya Sadhana: Dunia Menjadi Altar Spiritual

Segalanya Adalah Sadhana: Mengubah Dunia Menjadi Altar

Selalu persembahkan apa pun yang Anda lakukan kepada dewa, dan Beliau akan selalu menjaga Anda. Namun, apakah begitu mudahnya mengingat untuk mengucapkan mantra pada setiap hentakan penis setelah pelukan seksual menjadi nyata serta intens? Inilah sebabnya dikatakan bahwa semakin banyak potensi kecanduan yang bisa dihilangkan, maka semakin cepat kemajuan spiritual.

Pertanyaan Umum: Apakah ini berarti kita boleh melakukan apa saja?

Boleh, asalkan dengan kesadaran penuh dan sebagai persembahan. Kuncinya bukan pada tindakannya, tetapi pada siapa yang melakukan dan untuk siapa. Bila Anda makan karena lapar, itu biologis. Namun, bila Anda makan sebagai persembahan kepada dewa, maka setiap suapan menjadi ritual. Di mana perbedaannya terletak pada niat dan kesadaran.

Makanan setidaknya berpotensi menghasilkan Sattva, tidur pasti menghasilkan Tamas, dan seks menghasilkan Rajas yang luar biasa. Dan zat atau aktivitas apa pun yang bisa menghasilkan salah satu dari Tiga Guna, bergantung pada seberapa baik Anda mampu untuk mencernanya.

Pada awalnya kita harus mengumpulkan Sattva, ini sudah jelas. Ketika kesadaran Anda sudah penuh dengan Sattva, maka kekuatan pembedaan akan menjadi dominan, sehingga mampu menilai dengan mudah apa yang baik atau buruk bagi diri sendiri. Bila membiarkan Rajas atau Tamas yang berlebih dalam kesadaran, maka entah ego diri yang akan mengamuk, atau akan menjadi budak indra, atau keduanya.

Segalanya Sadhana: Dunia Menjadi Altar Spiritual

Dua Jalan: Sattvic dan Tamasic

Jalan Sattvic: Cermin Bulan di Kolam

Dalam Tantra Sattvic kita diberikan mantra beserta deskripsi bentuk visualnya untuk dimeditasikan. Dengan gambaran mental tersebut kita akan membentuk wujud dewa dalam tubuh astral, dan pada akhirnya dewa tersebut akan memproyeksikan dan menunjukkan diri-Nya kepada pemujanya. Visualisasi sangat penting karena keutamaan mata. Namun, tidak semua orang cocok untuk melakukan visualisasi, tetapi bila cocok, maka pada akhirnya akan mampu melihat dewa tepat di depan mata.

Namun, apa yang akan dilihat bukanlah dewa yang sebenarnya; itu adalah ciptaan diri sendiri, yang berasal dari tubuh astral. Inilah yang disebut Bimba-Pratibimba Nyaya atau Hukum Pencitraan dan Refleksi.

"Saat bulan bersinar di atas kolam yang tenang, kita bisa melihat pantulan bulan yang sempurna di atas air. Bentuknya mirip bulan, tapi sebenarnya bukan. Apa yang kita buat di tubuh astral menurut sadhana Tantra hanyalah cerminan dari gambaran mengenai ketuhanan diri. Tapi karena gambaran tersebut telah diberikan semua kekuatan dewa, maka refleksi bisa membantu, dan pada akhirnya akan membawa kita kepada ketuhanan yang sebenarnya. Inilah jalan yang sudah pasti dan hanya dibutuhkan sedikit waktu."

Pertanyaan Jarang Dibahas: Apakah ini berarti dewa yang kita sembah tidak nyata?

Dewa itu nyata, tetapi bentuk yang Anda visualisasikan adalah "pintu masuk" menuju realitas tersebut. Seperti halnya foto orang yang Anda cintai—foto itu bukan orangnya, tetapi mampu membangkitkan perasaan cinta yang nyata. Demikian pula visualisasi adalah foto spiritual yang mengarahkan Anda pada Yang Asli.

Jalan Tamasic: Menjambak Rambut Dewa

Di Tantra Bhairawa yang murni Tamasic, kita tidak perlu repot-repot untuk mengundang dewa dengan manis agar berkenan datang. Di sini kita justru mampu memaksa dewa supaya segera datang, bahkan menjambak rambutnya serta menyeretnya bila perlu. Teknik Tantra ini juga menggunakan minuman keras serta alat bantu lainnya, karena menginginkan proses cepat dengan menggunakan serangan kilat.

Tapi perlu diingat bahwa proses ritual ini menghasilkan Rajas dan Tamas yang berlebihan, dan bila Anda melakukan kesalahan sekecil apa pun, akan menghancurkan tubuh astral sendiri. Dan menurut Anda, apakah dewa sendiri akan merasa senang bila rambutnya dijambak supaya segera datang?

Dewa tentu akan berkata, "Baiklah, bila orang ini menganggap dirinya begitu hebat, mari kita lihat apa yang terjadi ketika Aku memberinya rasa dari obatnya sendiri." Selanjutnya Anda harus bersiap untuk menanggung permainan Tamasic-nya Dewa, yang bukan lelucon. Tantra adalah hal yang berbahaya untuk dibuat mainan.

Segalanya Sadhana: Dunia Menjadi Altar Spiritual

Kesabaran dan Iman: Kunci Kemajuan

Dalam kemajuan spiritual, intinya adalah bersabar karena kemajuan setiap orang memang berbeda-beda dan iman sebagai kuncinya. Cara terbaik untuk meningkatkan kadar keimanan adalah dengan mengulang-ulang nama Tuhan, dan menyerahkan seluruh keberadaanmu kepada Tuhan. Inilah inti dari sadhana.

Salah satu alasan mengapa harus bersabar adalah karena para dewa tidak suka mendatangi kita bila mereka bisa menghindarinya. Mereka lebih seperti hewan dalam hal itu. Ketika Anda berada di hutan, akankah seekor rusa segera mendatangi Anda meski telah memanggilnya dengan cinta? Tidak, karena jauh di lubuk hatinya ada ketakutan bahwa suatu hari Anda akan datang dan memotong lehernya. Demikian pula dewa takut bila mendekati manusia, karena akan menangkapnya dan memberi mereka pekerjaan untuk dilakukan.

Untuk mengatasi ketakutan ini, manusia harus mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh dewa yang kita puja. Kita harus mempersembahkan kepada-Nya apa yang diinginkannya. Lalu bagaimana ini bisa berjalan? Para dewa suka bermain-main, dan mungkin akan mencoba melakukan beberapa aksi sebagai balasannya. Tapi bila itu tidak bisa mempengaruhi kita, maka akan baik-baik saja. Namun, bila bimbang atau tidak memahami maksudnya, maka tidak akan mendapatkan-Nya.
Segalanya Sadhana: Dunia Menjadi Altar Spiritual

Menjadi Seperti Anak Kecil

Dewa itu sangat sederhana. Mereka sangat mirip anak-anak. Saat mencintai manusia, mereka mencintai tanpa batas, tetapi bila mencoba menipu atau melecehkan-Nya, mereka juga tidak akan pernah melupakannya. Bila benar-benar ingin dekat dengan dewa yang dipuja, kita juga harus menjadi seperti anak kecil.

Kita harus bisa mengatakan kepada-Nya dengan tulus, "Saya sangat kesepian; Saya tidak punya teman bermain lainnya. Silakan datang dan bermainlah dengan saya." Namun, akan sangat sulit untuk melupakan posisi, ego, serta apa yang dimiliki sekarang agar bisa menjadi seorang anak kecil lagi.

Dibutuhkan kerja keras bertahun-tahun untuk mencapai tahap ini, tahap ketika kita mampu berkata kepada seorang kekasih tanpa sedikit pun terlihat licik. Seorang anak tidak tahu cara menyuap, jadi itu diperbolehkan. Tapi kita yang sudah dewasa tentu tahu, dan harus melupakannya.

Segalanya Sadhana: Dunia Menjadi Altar Spiritual

Siwa: Pembunuh Kenangan

Nama lain dari Siwa adalah Smarahara, "Pembunuh Kenangan". Hanya beliau yang mampu menghapus seluruh ingatan tentang siapa diri kita sebenarnya, dan begitulah cara-Nya membunuh Anda. Siwa mampu membuat Kundalini manusia begitu mencintai-Nya, sehingga lupa saat itu juga untuk mengidentifikasi diri dengan tubuh manusia.

Dan bila melakukan hal ini dengan sengaja dalam sadhana lalu Anda "mati saat masih hidup", maka dewa bisa diidentifikasi dengan kepribadian baru. Salah satu alasan orang suci senang menyendiri adalah, karena mereka membutuhkan waktu untuk jauh dari manusia lain, agar mereka bisa melupakan diri mereka sendiri.

Segalanya Sadhana: Dunia Menjadi Altar Spiritual

Ojas: Energi Aura dan Bahayanya

Perlu diketahui bahwa untuk mencapai kesuksesan di Tantra, kita memerlukan kejantanan yang kuat dan harus kuat untuk melakukan sadhana. Semakin banyak sadhana yang dilakukan, maka semakin banyak ojas yang akan diciptakan. Namun, apa sebenarnya Ojas itu?

Ojas adalah konsep dalam Ayurweda yang merupakan esensi energi fisik yang menghasilkan aura serta kekebalan terhadap serangan penyakit atau parasit yang tak diinginkan lainnya. Ketika memiliki banyak ojas, maka aura akan menjadi sangat meningkat, yang bahkan akan menarik banyak orang untuk datang mengganggu.

Pertanyaan Umum: Mengapa orang suci justru didekati banyak orang?

Karena ojas mereka menarik. Namun bagi seorang praktisi, ini bisa menjadi gangguan. Agar tidak menarik perhatian orang lain, kita harus meminta Dewi Bhavatharini untuk mengubahnya menjadi normal kembali, dan hanya "menarik secara batin". Dengan demikian, ia akan menyimpan seluruh ojasnya ke dalam dirinya, dan mampu mengidentifikasi dirinya dengan sempurna bersama-Nya; kemudian menyatu dengan-Nya.

Ketika Cinta Tak Terucapkan

Saat mencapai tahap tertentu dalam cinta terhadap Tuhan, yang hanya bisa dilakukan hanyalah cinta, dan tidak akan bisa mengungkapkan cinta tersebut melalui kata-kata meskipun menginginkannya. Hal ini terkadang juga terjadi di antara manusia, bila mereka benar-benar saling mencintai. Begitu juga berlaku pada binatang.

Karma Buruk: Tagihan yang Harus Dibayar

Ada orang yang mengatakan, "Saya semakin tidak tenang bila saya terus mengulangi mantra, dan masalah semakin bertambah ketika sedang menjalankan sadhana." Di sini kita bisa yakin bahwa orang tersebut semakin dekat dengan dewanya. Kita tidak mampu menyadari ketuhanan sampai kesadaran diri menjadi jernih dan bersih, sehingga kita harus membuang semua karma buruk yang melekat terlebih dahulu.

Ketika menjadi lebih kuat dalam sadhana, maka semakin banyak karma buruk dari kehidupan ini dan dari ribuan kehidupan sebelumnya yang terlepas dari tubuh kausal. Kita pasti akan terpengaruh oleh hal ini. Semua orang senang berbelanja, tapi tidak ada seorang pun yang suka membayar tagihannya—tetapi jangan biarkan hal itu menghentikan kita untuk maju. Lanjutkan, sampai mampu mencapainya; maka kita akan memahami bahwa itu 100% sepadan.

Tantangan Kali Yuga

Namun ini adalah Kali Yuga, dan begitu kebanyakan orang mulai merasakan efek negatif dari penghapusan karma buruknya, mereka berpikir bahwa ini adalah kesalahan dari mantranya, dan mereka berhenti berlatih sama sekali, tepat pada saat mereka harus melakukannya dengan lebih giat. Apakah mengherankan bila mereka tidak pernah memperoleh hasil apapun dari sadhananya?

Segalanya Sadhana: Dunia Menjadi Altar Spiritual

Kisah Lebah dan Siwa: Karma Tak Pernah Sia-Sia

Ini adalah cerita. Suatu ketika ada seorang laki-laki yang melakukan pertapaan kepada Dewa Siwa selama seratus tahun tanpa memiliki pengalaman pribadi apapun dengan-Nya. Ketika orang ini terbaring sekarat dia berpikir, "Apa ini? Apakah semua pertapaanku sia-sia?" Ia seharusnya ingat bahwa sebagaimana materi (zat) tidak bisa dihancurkan, semua tindakan akan membuahkan hasil; ini hanyalah masalah waktu. Waktu hanya ada untuk kita yang fana, bukan untuk yang abadi. Roda alam berputar sangat lambat, seperti roda penggiling, namun seperti roda penggiling, alam akan menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi jalannya.

Selanjunta, pria itu terlahir kembali sebagai seekor lebah. Dia lupa mantra yang diucapkannya, dia lupa ritualnya, dia lupa segalanya, tapi yang ada di balik pikirannya adalah kecenderungan untuk memuja Siwa, setidaknya sebanyak itu yang terbawa dari kehidupan sebelumnya.

Mungkin kecenderungan yang masih ada inilah, yang menyebabkan suatu hari lebah itu terbang ke Benaras, kota utama Siwa. Dia sampai di taman seorang pedagang, dan melihat bunga teratai yang indah di sana, lalu mulai menghisap madunya. Dia telah melupakan segalanya tentang Siwa dan segala hal lainnya; dia hanya memikirkan madu. Menjadi sangat mabuk karena madu sehingga dia tidak menyadari bahwa malam tiba dan bunga teratai menutup, saat dia masih berada di dalam salah satu bunga tersebut. Menyadari dirinya terjebak. kemudian berfikir apa yang harus dilakukan? Dia harus menunggu sampai pagi agar bisa melarikan diri.

Keesokan paginya sebelum fajar, saudagar itu pergi ke kebunnya, memotong teratai yang menampung lebah itu, membawanya ke ruang ibadahnya, berkata, "Bhole!" dan letakkan teratai di atas gambar Dewa Siwanya.

Saat matahari terbit, sinarnya jatuh ke teratai, yang terbuka dan memungkinkan lebah keluar. Dewa Siwa, yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan, berkata pada diri-Nya, "Wah, wah! Inilah seorang laki-laki yang memujaku dan melakukan pertapaan selama seratus tahun, lalu mati dan kembali sebagai lebah dan hinggap di kepalaku! Varam bruhi (Minta anugerah!)"

Lebah itu berkata, "Apa gunanya itu 'varam bruhi' sekarang? Itu hanya akan berguna ketika aku masih seorang manusia. Sekarang jadikan aku seperti Anda." Dan seketika itu juga dia menjadi seperti Siwa. Dan faktanya, dia menjadi salah satu pelayan dekat Siwa, yang abadi."

Akhir Kata: Bersabarlah seperti Lebah, Menjadi Siwa pada Akhirnya

Kisah lebah mengajarkan kita bahwa tidak ada usaha spiritual yang sia-sia. Mungkin hasilnya tidak instan atau datang dalam kehidupan ini, mungkin Anda harus menjadi lebah lebih dulu, tetapi pada akhirnya, setiap tetes bakti akan mengantarkan Anda pada pangkuan Yang Ilahi.

Segalanya adalah sadhana—makan, tidur, seks, bahkan menjadi lebah yang terjebak dalam teratai. Yang diperlukan hanyalah kesabaran, iman, dan kemampuan untuk menjadi seperti anak kecil di hadapan Tuhan. Jangan takut pada karma buruk yang muncul saat sadhana memanas; itu adalah tagihan yang harus dibayar. Jangan berhenti di tengah jalan hanya karena rasa tidak nyaman.

Pada akhirnya, ketika Siwa memanggil, "Varam bruhi," Anda tidak akan meminta apa pun lagi. Anda hanya akan meminta untuk menjadi seperti Dia. Dan permintaan itu, yang lahir dari jutaan tahun kesadaran, akan dikabulkan dalam sekejap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesadaran Rasa: Pengaruh Enam Rasa terhadap Tubuh dan Pikiran

Mantra: Kekuatan Perlindungan Pikiran dan Pencerahan

Materi Tantrik: Kunci Memahami Keragaman Spiritualitas

"Menyebarkan pengetahuan adalah bagian dari persembahan (Yadnya) yang saya jalani dengan penuh syukur. Jika tulisan di Jejak Tantra telah memberikan manfaat dalam perjalanan batin Anda, Anda dapat memberikan dukungan sukarela untuk menjaga ruang berbagi ini agar tetap mandiri."

☕ Apresiasi Ruang Berbagi

(Apresiasi Anda membantu operasional & keaslian konten blog ini)