Vairagya Prakarana: Bab 15 Kecaman terhadap Egoisme
Vairagya Prakarana
Rama telah berbicara tentang kemakmuran, kefanaan usia, dan liar-nya pikiran. Namun ia tahu bahwa semua itu hanya cabang dari satu akar: ego. Kini, dengan ketajaman yang memukau, ia membedah ke-aku-an—ahamkara—yang menjadi musuh abadi setiap pencari kebenaran.
"Sungguh, kebodohan bertumbuh karena musuh berupa ke-aku-an yang jahat.
Aku ketakutan oleh ilusi kepalsuan yang diciptakan oleh egoku sendiri."
Kemudian ia menyatakan keputusannya dengan tegas:
Pikiranku, segala eksistensi—bukan hasratku.
Aku bukan Rama yang selama ini kukenal.
Seperti seorang Jina—penakluk sejati—aku ingin tinggal dalam ketenangan."
Pengakuannya semakin jujur:
semuanya di bawah kendali ke-aku-an.
Sungguh, itu semua kekosongan.
Ke-aku-an bukanlah realitas—ia adalah kepalsuan.
Jika aku bersedih, jika aku menderita—
bukankah itu karena aku menganggap ada 'aku' yang menderita?
Karena itu, yang terbaik adalah tanpa ke-aku-an. Maka berbahagialah."
Pada akhir perenungannya, Rama memohon bimbingan:
Wahai yang berkekuatan agung, bimbinglah aku dengan sisa kesedihan yang sangat melingkupi pijakan ke-aku-an ini—dengan kesungguhan.”
- ✣ Balairung Ayodhya menjadi saksi dari pengakuan paling jujur yang pernah keluar dari mulut seorang manusia. Rama bukan lagi pangeran yang bersedih, bukan lagi putra mahkota yang murung—ia adalah pencari yang telah mengidentifikasi musuh sejatinya.
- ✣ Wiswamitra tersenyum. Ia tahu bahwa ini adalah momen yang ia nantikan. Rama tidak membutuhkan senjata ilahi untuk melawan raksasa—karena ia telah menemukan senjata yang lebih kuat: kesadaran bahwa tidak ada "aku" yang harus dilindungi.
- ✣ Vasistha mengangguk pelan. Ia melihat bahwa Rama telah melewati tahap awal pencarian—tahap di mana seseorang masih mengidentifikasi dirinya dengan penderitaan. Kini, Rama telah mencapai pemahaman bahwa penderitaan muncul karena kepercayaan pada ego.
- ✣ Namun ada satu pertanyaan tersisa—pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh perenungan semata: setelah mengetahui bahwa ego adalah musuh, bagaimana cara hidup tanpanya? Bagaimana cara berada di dunia tanpa terikat olehnya?
Wiswamitra akan menjawab. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan sebuah ajakan—sebuah ajakan yang akan membawa Rama keluar dari istana Ayodhya menuju hutan, menuju pertemuan dengan raksasa, menuju perjalanan yang akan mengubah segalanya.
Ikuti terus.
मुधैवाभ्युत्थितो मोहान्मुधैव परिवर्धते ।
मिथ्यामयेन भीतोऽस्मि दुरहंकारशत्रुणा ॥ १ ॥
mithyāmayena bhīto'smi durahaṃkāraśatruṇā (1)
Oleh musuh (śatruṇā) berupa ke-aku-an [ego] jahat (durahaṃkāra) aku (asmi) ketakutan (bhītaḥ) oleh ilusi (mayena) kepalsuan (mithyā).
ददाति दीनदीनानां संसारो विविधाकृतिः ॥ २ ॥
dadāti dīnadīnānāṃ saṃsāro vividhākṛtiḥ (2)
Dengan bentuk (ākṛtiḥ) yang bermacam-macam (vividha) di dunia (saṃsaraḥ) kepada yang paling (dīnānām) menyedihkan (dīna) diberikan (dadāti).
अहंकारवशादीहा त्वहंकारो ममामयः ॥ ३ ॥
ahaṃkāravaśādīhā tvahaṃkāro mamāmayaḥ (3)
Penyakit (amayaḥ) milikku (mama) adalah ke-aku-an [ego] (ahaṃkāraḥ) memang (tv) disini (īhā) karena (at) pengaruh (vaśa) ke-aku-an [ego] (ahaṃkāra).
न भुजे न पिबाम्यम्भः किमु भोगान्भुजे मुने ॥ ४ ॥
na bhuje na pibāmyambhaḥ kimu bhogānbhuje mune (4)
Wahai, Muni (mune), menikmati (bhuje) kesenangan (bhogān) apalagi (kimu)? air (ambhaḥ) diminum (pibāmi), tidak (na)? makan (bhuje), tidak (na)?
ततोऽहंकारदोषेण किरातेनेव वागुरा ॥ ५ ॥
tato'haṃkāradoṣeṇa kirāteneva vāgurā (5)
Bagaikan (iva) oleh pemburu (kirāteṇa) menjerat (vāgurā) karena kesalahan (doṣeṇa) ke-aku-an [ego] (ahaṃkāra) kemudian (tataḥ).
अहंकारात्प्रसूतानि तान्यगात्खदिरा इव ॥ ६ ॥
ahaṃkārātprasūtāni tānyagātkhadirā iva (6)
Bagaikan (iva) duri akasia [khadira-acacia] (khadirāḥ) yang telah menusuk (agāt), mereka (tāni) terlahir (prasūtāni) dari ke-aku-an [ego] (ahaṃkārāt).
साम्यमेघशरत्कालमहंकारं त्यजाम्यहम् ॥ ७ ॥
sāmyameghaśaratkālamahaṃkāraṃ tyajāmyaham (7)
Aku (aham) meninggalkan (tyajāmi) ke-aku-an [ego] (ahaṃkāram) di musim gugur (śarat-kālam) dengan ketenangan (sāmya) awan (megha).
शान्त आसितुमिच्छामि स्वात्मनीव जिनो यथा ॥ ८ ॥
śānta āsitumicchāmi svātmanīva jino yathā (8)
Bagaikan (yathā) seorang Jina [penakluk/pertapa] (jino), bagaikan (iva) diri (ātmani) sendiri (sva) aku ingin (icchāmi) tinggal (āsitum) dalam ketenangan (śāntaḥ).
सर्वं तत्तदवस्त्वेव वस्त्वहंकाररिक्तता ॥ ९ ॥
sarvaṃ tattadavastveva vastvahaṃkārariktatā (9)
Sungguh (eva) kekosongan (ṛiktatā) ke-aku-an [ego] (ahaṃkāra) realitas (vastu) bukan realitas (avastu), itu adalah (tat tad) semuanya (sarvam).
नास्ति चेत्सुखितस्तस्मादनहंकारिता वरम् ॥ १० ॥
nāsti cetsukhitastasmādanahaṃkāritā varam (10)
Terbaik (varam) adalah tanpa ke-aku-an [ego] (anahaṃkāritā), oleh karena itu (tasmāt) berbahagialah (sukhitaḥ) bila (ced) ada (asti), tidak (nā)?.
अवतिष्ठे गतोद्वेगो भोगौघो भङ्गुरास्पदः ॥ ११ ॥
avatiṣṭhe gatodvego bhogaugho bhaṅgurāspadaḥ (11)
Tempat (āspadaḥ) yang rapuh (bhaṅgura) dari arus (oghaḥ) kegelisahan (udvegaḥ) telah lenyap (gata) kenikmatan (bhoga) yang berdiam (avatiṣṭhe).
तावद्विकासमायाति तृष्णाकुटजमञ्जरी ॥ १२ ॥
tāvadvikāsamāyāti tṛṣṇākuṭajamañjarī (12)
Kuncup (mañjarī) bunga kutaja [Holarrhena antidysenterica] (kuṭaja) dari keinginan (tṛṣṇā) hingga (āyāti) mekar (vikāsam) selama itu (tāvat).
शान्तदीपशिखावृत्त्या क्वापि यात्यतिसत्वरम् ॥ १३ ॥
śāntadīpaśikhāvṛttyā kvāpi yātyatisatvaram (13)
Sangat (ati) cepat (sattvaram) pergi (yāti) ke suatu tempat (kvāpi) dengan cara (vṛttyā) nyala api (śikhā) lampu (dīpa) yang tenang (śānta).
विस्फूर्जति घनास्फोटैः स्तनितैरिव वारिदः ॥ १४ ॥
visphūrjati ghanāsphoṭaiḥ stanitairiva vāridaḥ (14)
Bagaikan (iva) suara guntur (stanitaiḥ) dari awan hujan (vāridaḥ) dengan letusan (āsphoṭaiḥ) keras (ghanа) bergemuruh (visphūrjati).
योऽयमुल्लसति स्फारस्तेनेदं जगदाततम् ॥ १५ ॥
yo'yamullasati sphārastenedaṃ jagadātatam (15)
Terbentang (ātatam) dunia (jagat) ini (idam) olehnya (tena) dengan sangat hebat (sphāraḥ) bergejolak (ullasati) ini (ayaṃ) nya (yaḥ).
अहंकारोग्रखिङ्गेन कण्ठे मुक्तावली कृता ॥ १६ ॥
ahaṃkārograkhiṅgena kaṇṭhe muktāvalī kṛtā (16)
Dijadikan (kṛtā) untaian (avalī) mutiara (mukta) di leher (kaṇṭhe) oleh singa (khiṅgena) ganas (ugra) ke-aku-an [ego] (ahaṃkāra).
प्रसारितमनेनेह मुनेऽहंकारवैरिणा ॥ १७ ॥
prasāritamaneneha mune'haṃkāravairiṇā (17)
Musuh (vairiṇā) ke-aku-an [ego] (ahaṃkāra) Wahai, Muni (mune) di sini (iha) oleh ini (anena) yang terbentang (prasāritam).
प्रमार्जिता भवन्त्येते सर्व एव दुराधयः ॥ १८ ॥
pramārjitā bhavantyete sarva eva durādhayaḥ (18)
Sungguh (eva) penderitaan batin (durādhayaḥ) semuan (sarve) ini (ete) menjadi (bhavanty) tersapu bersih (pramārjitāḥ).
मनोगगनसंमोहमिहिका क्वापि गच्छति ॥ १९ ॥
manogaganasaṃmohamihikā kvāpi gacchati (19)
Lenyap (gacchati) entah ke mana (kvāpi) kabut (mihikā) membingungkan (saṃmoha) langit (gagana) pikiran (manas).
यत्किंचिदुचितं ब्रह्मंस्तदाख्यातुमिहार्हसि ॥ २० ॥
yatkiṃciducitaṃ brahmaṃstadākhyātumihārhasi (20)
Engkau seharusnya (arhasi) di sini (iha) menjelaskan (ākhyātum) itu (tad), Wahai, Brahmana (brahman) yang pantas (ucitam) apa pun (kiṃcit) itu (yat).
यत्नादहंकृतिपदं परितोऽतिदुःखं शेषेण मां समनुशाधि महानुभाव ॥ २१ ॥
yatnādahaṃkṛtipadaṃ parito'tiduḥkhaṃ śeṣeṇa māṃ samanuśādhi mahānubhāva (21)
Wahai, yang berkekuatan agung (mahānubhāva) bimbinglah (samanuśādhi) aku (mām) dengan sisa (śeṣeṇa) kesedihan (duḥkham) yang sangat (ati) dikelilingi (paritaḥ) pijakan (padam) ke-aku-an [ego] (ahaṃkṛti) dengan kesungguhan (yatnāt).
✎ᝰ Catatan Esoteris...
Monolog panjang Rama, dari analisis sri dan ayuh, telah mencapai puncaknya dalam dekonstruksi total terhadap ahamkara. Merupakan proses “ātma-vicāra” (penyelidikan diri) yang paling mendalam. Rama telah melakukan diagnosa yang sempurna: akar samsara dan duhkha adalah keakuan palsu.
Namun, klimaksnya bukanlah pada pencapaian pembebasan, melainkan pada pengakuan akan kebutuhan seorang Guru. Karena pengetahuan (jnana/span>) saja tidak cukup. Rama membutuhkan upadesa (ajaran langsung), kriya (tindakan), dan diksa (inisiasi) dari seorang siddha seperti Vishvamitra. Permohonannya, “Sasena mam samanusadhi” (Bimbinglah aku dengan sisa waktuku), bentuk penyerahan diri (saranagati/span>) total. Ia kemudian berkata, “Aku telah memahami teorinya. Aku telah meninggalkan ke-aku-an secara intelek-tual. Tapi aku masih menderita. Sekarang, gunakan sisa hidupku ini. Beri aku tugas. Bimbing aku dalam tindakan. Jadikan hidup yang tersisa ini bermakna sesuai definisi-Mu.”
Dengan demikian, seluruh rangkaian ratapan filosofis Rama sebenarnya ada-lah proses penyucian (suddhi) serta penyiapan (sadhana-catustaya-sampatti) yang diperlukan sebelum inisiasi. Vishvamitra telah diam-diam mengujinya, dan Rama telah lulus dengan menunjukkan pola kedalaman vairagya dan viveka-nya. Sekarang, sang Guru akan bertindak. Jawaban Vishvamitra berikutnya akan menjadi “mantropadesa” (pemberian mantra) dan ”karya-nirdesa” (penugasan misi) yang akan mengubah pengetahuan pasif Rama menjadi kekuatan aktif yang akan menyelamatkan dunia.
Komentar
Posting Komentar
"Terima kasih banyak telah meninggalkan komentar di blog kami! Kami sangat menghargai partisipasi Anda. Komentar Anda membantu kami untuk terus berkembang dan memberikan konten terbaik. Kami akan segera membalasnya begitu kami online. Tetaplah terhubung dan terus berbagi pemikiran Anda!
Jejaktantra — berbagi makna, menumbuhkan kesadaran."