Kegelisahan masih menyelimuti istana Ayodhya. Rama terus diam dalam kesedihan yang tak terucapkan, Dasaratha tak berdaya dihadapannya, dan Vasistha—sang guru spiritual—hanya mampu mengatakan bahwa ada sebab besar di balik semua ini. Belum memuaskan Dasaratha untuk memperoleh jawaban, ketika keheningan istana tiba-tiba diguncang oleh kedatangan yang tak terduga.
Di tengah suasana yang sarat tanya, seorang maharsi agung tiba di gerbang Ayodhya...
.Dan ketika Dasaratha melangkah keluar, ia melihat sosok yang membuatnya tertegun. Wiswamitra berdiri di tanah gerbang istana—seperti harimau di antara para muni. Tubuhnya yang renta oleh usia dan tapa justru memancarkan tejas yang menyilaukan, bagaikan matahari pagi yang baru terbit. Rambut gimbalnya yang merah menyala melingkari bahu seperti awan senja menyelimuti gunung. Di tangannya tergenggam bejana dan sendok saji, lambang kesempurnaan seorang brahmana. Namun dari seluruh tubuhnya memancar kewibawaan seorang kesatria—perpaduan langka antara kekuatan spiritual dan keperkasaan duniawi.
“Apa sebenarnya yang dicari Wiswamitra di Ayodhya?”
“Dan yang lebih penting—mengapa ia datang tepat di saat Rama sedang diliputi kesedihan yang misterius? Apakah ada hubungan antara kegelisahan Rama dan kedatangan sang maharesi?”
“Apakah ini yang dimaksud Vasistha sebagai “sebab besar” di balik perubahan Rama?”
Di balik tabir istana, takdir sedang merangkai pertemuan yang akan mengubah segalanya. Wiswamitra akan mengajukan permohonan yang tak terduga. Dan Rama—yang selama ini terdiam dalam kesunyian—akan dipanggil untuk melangkah ke babak yang sama sekali baru.
Ikuti terus. Karena di sinilah perjalanan sejati Rama dimulai—bukan di istana yang nyaman, bukan dalam pelukan keluarga, melainkan di hutan yang penuh tantangan, ditemani oleh seorang guru yang dahulu adalah musuh, dan dengan misi yang akan membawanya pada penyingkapan jati dirinya yang sejati.
❖ Kedatangan Viswamitra Di Istana Kerajaan
श्रीवाल्मीकिरुवाच ।
इत्युक्ते मुनिनाथेन संदेहवति पार्थिवे ।
खेदवत्यास्थिते मौनं किंचित्कालप्रतीक्षणे ॥ १ ॥
śrī vālmīkir uvāca,
Ityukte munināthena saṃdehavati pārthive, Khedavatyāsthite maunaṃ kiṃcitkālapratīkṣaṇe (1)
Terjemahan: 1. Sri Valmiki berkata: Setelah disampaikan (ukte) demikian (iti) oleh pemimpin para muni (munināthena) yang masih diragukan (saṃdehavati) keturunan bumi (pārthive); Masih dalam kondisi (sthite) kesedihan (khedavati), keheningan (maunam), menunggu (pratīkṣaṇe) sejenak (kiṃcitkālam).
परिखिन्नासु सर्वासु राज्ञीषु नृपसद्मसु ।
स्थितासु सावधानासु रामचेष्टासु सर्वतः ॥ २ ॥
Parikhinnāsu sarvāsu rājñīṣu nṛpasadmasu, Sthitāsu sāvadhānāsu rāmaceṣṭāsu sarvataḥ (2)
Terjemahan: 2. Para permaisuri (rājñīṣu) di kediaman raja (nṛpasadmasu) dengan kesedihan yang merasuki (parikhinnāsu) seluruhnya (sarvāsu); Terhadap gelagat (ceṣṭāsu) Rama (rāma) dari segala arah (sarvataḥ) berdiam (sthitāsu) dengan penuh perhatian (sāvadhānāsu).
एतस्मिन्नेव काले तु विश्वामित्र इति श्रुतः ।
महर्षिरभ्यगाद्द्रष्टुं तमयोध्यानराधिपम् ॥ ३ ॥
Etasminneva kāle tu viśvāmitra iti śrutaḥ, Maharṣirabhyagāddraṣṭuṃ tamayodhyānarādhipam (3)
Terjemahan: 3. Dan (tu) Vishvamitra (maharṣiḥ) demikian (iti) yang dikenal (śrutaḥ) tepat (eva) di sini (etasmin) pada waktunya (kāle); Sang Maharsi (maharṣiḥ) datang (abhyagāt) untuk menemui (draṣṭum) penguasa manusia [raja] (narādhipam) Ayodhya (ayodhyā) itu (tam).
तस्य यज्ञोऽथ रक्षोभिस्तथा विलुलुपे किल ।
मायावीर्यबलोन्मत्तैर्धर्मकार्यस्य धीमतः ॥ ४ ॥
Tasya yajño'tha rakṣobhistathā vilulupe kila, Māyāvīryabalonmattairdharmakāryasya dhīmataḥ (4)
Terjemahan: 4. Konon (kila) dirusak (vilulupe) semacam (tathā) para raksasa (rakṣobhiḥ) pada saat itu (atha) sedang melaksanakan yajna (yajñaḥ) miliknya (tasya); Dari seorang bijak (dhīmataḥ) dengan tugas (kāryasya) dharmanya (dharma) mabuk oleh (unmattaiḥ) kekuatan (bala) keperkasaan (vīrya) kesaktian (māyā).
रक्षार्थं तस्य यज्ञस्य द्रष्टुमैच्छत्स पार्थिवम् ।
नहि शक्नोत्यविघ्नेन समाप्तुं स मुनिः क्रतुम् ॥ ५ ॥
Rakṣārthaṃ tasya yajñasya draṣṭumaicchatsa pārthivam, Nahi śaknotyavighnena samāptuṃ sa muniḥ kratum (5)
Terjemahan: 5. Dia (saḥ) ingin (aicchat) menemui (draṣṭum) sang raja (pārthivam) untuk tujuan perlindungan (rakṣārtham) dirinya (tasya) dalam beryajna (yajñasya); Sebab ia tidak (na hi) mampu (śaknoti) tanpa terganggu (avighnena) Sang (sa) muni (muniḥ) menyelesaikan (samāptum) ritual itu (kratum).
ततस्तेषां विनाशार्थमुद्यतस्तपसां निथिः ।
विश्वामित्रो महातेजा अयोध्यामभ्यगात्पुरीम् ॥ ६ ॥
Tatasteṣāṃ vināśārthamudyatastapasāṃ nithiḥ, Viśvāmitro mahātejā ayodhyāmabhyagātpurīm (6)
Terjemahan: 6. Mereka (teṣām) kemudian (tataḥ) bertujuan (artham) memusnahkan (vināśa) yang telah bangkit (udyataḥ) dari segala tapa (tapasām) yang tersimpan (nidhiḥ); Vishvamitra (viśvāmitraḥ) berkekuatan spiritual besar (mahātejā), mendatangi (abhyagāt) kota (purīm) Ayodhya (ayodhyām).
स राज्ञो दर्शनाकाङ्क्षी द्वाराध्यक्षानुवाच ह ।
शीघ्रमाख्यात मां प्राप्तं कौशिकं गाधिनः सुतम् ॥ ७ ॥
Sa rājño darśanākāṅkṣī dvārādhyakṣānuvāca ha, śīghramākhyāta māṃ prāptaṃ kauśikaṃ gādhinaḥ sutam (7)
Terjemahan: 7. Beliau (saḥ) kepada sang raja (rājñaḥ) menginginkan (ākāṅkṣī) pertemuan (darśana), segera (ha) berkata (uvāca) kepada para penjaga pintu (dvārā dhyakṣān); “Beritahukanlah (ākhyāta) cepat (śīghram), bahwa aku (mām) Kausika (kauśikam) putra (sutam) Gādhi (gādhinaḥ) telah datang (prāptam).”
तस्य तद्वचनं श्रुत्वा द्वास्था राजगृहं ययुः ।
संभ्रान्तमनसः सर्वे तेन वाक्येन चोदिताः ॥ ८ ॥
Tasya tadvacanaṃ śrutvā dvāsthā rājagṛhaṃ yayuḥ, Saṃbhrāntamanasaḥ sarve tena vākyena coditāḥ (8)
Terjemahan: 8. Para penjaga pintu (dvāsthāḥ) setelah mendengar (śrutvā) perkataan (vacanam) itu (tad) darinya (tasya) bergegas (yayuḥ) ke istana raja (rājagṛham); Dengan pikiran (manasaḥ) bingung (saṃbhrānta) semua (sarve) itu (tena) melalui perkataan (vākyena) yang menggerakkan (coditāḥ).
ते गत्वा राजसदनं विश्वामित्रमृषिं ततः ।
प्राप्तमावेदयामासुः प्रतीहाराः पतेस्तदा ॥ ९ ॥
Te gatvā rājasadanaṃ viśvāmitramṛṣiṃ tataḥ, Prāptamāvedayāmāsuḥ pratīhārāḥ patestadā (9)
Terjemahan: 9. Selanjutnya (tataḥ) Rsi (ṛṣim) Vishvamitra (viśvāmitram) ke balairung raja (rājasadanam) setelah pergi (gatvā) mereka (te); Saat itu (tadā) kepada sang patih (pateḥ) oleh para penjaga pintu (pratīhārāḥ) diumumkan (āvedayāmāsuḥ) kedatangannya (prāptam).
अथास्थानगतं भूपं राजमण्डलमालिनम् ।
समुपेत्य त्वरायुक्तो याष्टीकोऽसौ व्यजिज्ञपत् ॥ १० ॥
Athāsthānagataṃ bhūpaṃ rājamaṇḍalamālinam, Samupetya tvarāyukto yāṣṭīko'sau vyajijñapat (10)
Terjemahan: 10. Raja (bhūpam) yang dikelilingi (mālinam) oleh lingkaran kerajaan (rājamaṇḍala) telah berada di balairung (āsthānagatam) kemudian (atha); Setelah mendekat (samupetya) dengan tergesa-gesa (tvarāyuktaḥ) petugas protokol (yāṣṭīkaḥ) itu (asau) melaporkan (vyajijñapat).
देव द्वारि महातेजा बालभास्करभासुरः ।
ज्वालारुणजटाजूटः पुमाञ्छ्रीमानवस्थितः ॥ ११ ॥
Deva dvāri mahātejā bālabhāskarabhāsuraḥ, Jvālāruṇajaṭājūṭaḥ pumāñchrīmānavasthitaḥ (11)
Terjemahan: 11. Berkekuatan spiritual besar (mahātejā) yang bersinar (bhāsuraḥ) bagai matahari pagi (bālabhāskara) di pintu gerbang (dvāri) dewa [raja] (deva); Seorang laki-laki (pumān) mulia (śrīmān) sedang berdiri (avasthitaḥ) dengan jambul (jūṭaḥ) gimbal (jaṭā) berwarna merah menyala (jvālāruṇa).
सभासुरपताकान्तं साश्वेभपुरुषायुधम् ।
कृतवांस्तं प्रदेशं यस्तेजोभिः कीर्णकाञ्चनम् ॥ १२ ॥
Sabhāsurapatākāntaṃ sāśvebhapuruṣāyudham, Kṛtavāṃstaṃ pradeśaṃ yastejobhiḥ kīrṇakāñcanam (12)
Terjemahan: 12. Dengan [ham-sa] (sa) kuda [hrim] (aśva) gajah [Gam] (ibha) manusia [so-ham] (puruṣa) senjata [Phat] (ayudham), dihiasi (antam) panji-panji kehormatan (patāka) yang indah (asura) di aula pertemuan (sabhā); Itu (tam) membuatnya menjadi (kṛtavān) wilayah (pradeśam) dengan sinarnya (tejobhiḥ) berkilau keemasan (kīrṇakāñcanam).
वीक्ष्यमाणे तु याष्टीके निवेदयति राजनि ।
विश्वामित्रो मुनिः प्राप्त इत्यनुद्धतया गिरा ॥ १३ ॥
Vīkṣyamāṇe tu yāṣṭīke nivedayati rājani, Viśvāmitro muniḥ prāpta ityanuddhatayā girā (13)
Terjemahan: 13. Tapi (tu) petugas protokol (yāṣṭīke) itu sedang memberikan laporan (nivedayati) kepada sang raja (rājani) ketika saat diperhatikan (vīkṣyamāṇe); Dengan tidak bernada sombong (anuddhatayā) sedemikian (iti) dalam bersuara (girā) “Rsi (muniḥ) Vishvamitra (viśvāmitro) telah datang (prāptaḥ)”.
इति याष्टीकवचनमाकर्ण्य नृपसत्तमः ।
स समन्त्री ससामन्तः प्रोत्तस्थौ हेमविष्टरात् ॥ १४ ॥
Iti yāṣṭīkavacanamākarṇya nṛpasattamaḥ, Sa samantrī sasāmantaḥ prottasthau hemaviṣṭarāt (14)
Terjemahan: 14. Demikianlah (iti) raja yang terbaik (nṛpasattamaḥ) setelah mendengar (ākarṇya) perkataan (vacanam) petugas protokol (yāṣṭīka); Bersama para menteri (sa-samantrī) dan para raja bawahan (sasāmantaḥ), bangkit berdiri (prottasthau) dari singgasana emas (hema-viṣṭarāt).
पदातिरेव सहसा राज्ञां वृन्देन मालितः ।
वसिष्ठवामदेवाभ्यां सह सामन्तसंस्तुतः ॥ १५ ॥
Padātireva sahasā rājñāṃ vṛndena mālitaḥ, Vasiṣṭhavāmadevābhyāṃ saha sāmantasaṃstutaḥ (15)
Terjemahan: 15. Hanya (eva) dengan prajurit infanteri [pejalan kaki] (padātiḥ) seketika (sahasā) para raja (rājñām) bersama rombongan (vṛndena) yang mengelilingi (mālitaḥ); Bersama (saha) dengan Vamadeva (vāmadevābhyām) Vasistha (vasiṣṭha) yang keduanya dipuji (saṃstutaḥ) oleh para raja bawahan (sāmanta).
जगाम तत्र यत्रासौ विश्वामित्रो महामुनिः ।
ददर्श मुनिशार्दूलं द्वारभूमाववस्थितम् ॥ १६ ॥
Jagāma tatra yatrāsau viśvāmitro mahāmuniḥ, Dadarśa muniśārdūlaṃ dvārabhūmāvavasthitam (16)
Terjemahan: 16. Ia berangkat (jagāma) ke tempat (tatra) di mana (yatra) berada (asau) Vishvamitra sang Mahamuni; Ia melihat (dadarśa) harimau di antara para muni (muniśārdūlam) yang berdiri (avasthitam) di tanah gerbang istana (dvārabhūmau).
केनापि कारणेनोर्वीतलमर्कमुपागतम् ।
ब्राह्मेण तेजसाक्रान्तं क्षात्रेण च महौजसा ॥ १७ ॥
Kenāpi kāraṇenorvītalamarkamupāgatam, Brāhmeṇa tejasākrāntaṃ kṣātreṇa ca mahaujasā (17)
Terjemahan: 17. Telah terbit (upāgatam) matahari (arkam) ke permukaan bumi (urvī talam) disebabkan (kāraṇena) entah oleh apa (kenāpi); Brahmana (brāhmeṇa) yang diliputi (ākrāntam) kekuatan spiritual (tejasā), dan kesatria (kṣātreṇa) dengan keperkasaan besar (mahaujasā).
जराजरठया नित्यं तपःप्रसररूक्षया ।
जटावल्या वृतस्कन्धं ससंध्याभ्रमिवाचलम् ॥ १८ ॥
Jarājaraṭhayā nityaṃ tapaḥprasararūkṣayā, Jaṭāvalyā vṛtaskandhaṃ sasaṃdhyābhramivācalam (18)
Terjemahan: 18. Yang renta (jaraṭhayā) oleh umurnya (jarā) senantiasa (nityam) terpancar (prasara) oleh kerasnya (rūkṣayā) pertapaanya (tapaḥ); Dengan jalinan (valyā) rambut gimbal (jaṭā) yang melingkupi (vṛta) bahu (skandham) bagaikan (iva) gunung (acalam) dengan awan senja (sa-saṃdhyābhram).
उपशान्तं च कान्तं च दीप्तमप्रतिघाति च ।
निभृतं चोर्जिताकारं दधानं भास्वरं वपुः ॥ १९ ॥
Upaśāntaṃ ca kāntaṃ ca dīptamapratighāti ca, Nibhṛtaṃ corjitākāraṃ dadhānaṃ bhāsvaraṃ vapuḥ (19)
Terjemahan: 19. Dan (ca) bersinar terang (dīptam) tak tertahankan (apratighāti) dan (ca) indah (kāntam) dan (ca) tenang (upaśāntam); Penampilannya (vapuḥ) bercahaya cemerlang (bhāsvaram) yang membawa (dadhānam) wujud (ākāram) perkasa (ūrjita) tenang terkendali (nibhṛtam).
पेशलेनातिभीमेन प्रसन्नेनाकुलेन च ।
गम्भीरेणातिपूर्णेन तेजसा रञ्जितप्रभम् ॥ २० ॥
Peśalenātibhīmena prasannenākulena ca, Gambhīreṇātipūrṇena tejasā rañjitaprabham (20)
Terjemahan: 20. Dan (ca) intensitas (akulena) yang jernih (prasannena) dengan kelembutan (peśalena) sangat menakutkan dan menggetarkan (atibhīmena); Kesempurnaan (atipūrṇena) kewibawaan (gambhīreṇa) oleh tejas [kekuatan spiritual] (tejasā) bercahaya (prabham) penuh warna(rañjita).
अनन्तजीवितदशासखीमेकामनिन्दिताम् ।
धारयन्तं करे श्लक्ष्णां कुण्डीमम्लानमानसम् ॥ २१ ॥
Anantajīvitadaśāsakhīmekāmaninditām, Dhārayantaṃ kare ślakṣṇāṃ kuṇḍīmamlānamānasam (21)
Terjemahan: 21. Tanpa tercela (aninditām) satu pun (ekām) sahabat (sakhīm) dari kondisi (daśā) kehidupan (jīvita) yang tak berakhir (ananta); Yang memegang (dhārayantam) di tangan (kare) dengan lembut (ślakṣṇām) pikiran (mānasam) yang tak terguncang (amlāna) dalam bejana (kuṇḍīm).
करुणाक्रान्तचेतत्तवात्प्रसन्नैर्मधुराक्षरैः ।
वीक्षणैरमृतेनेव संसिञ्चन्तमिमाः प्रजाः ॥ २२ ॥
Karuṇākrāntacetattavātprasannairmadhurākṣaraiḥ, Vīkṣaṇairamṛteneva saṃsiñcantamimāḥ prajāḥ (22)
Terjemahan: 22. Dengan suku kata-suku kata (akṣaraiḥ) manis (madhura) kejernihan (prasannaiḥ) kondisi batin (cetattva) yang dipenuhi (krānta) belas kasih (karuṇā); Bagaikan (iva) amrta [nektar keabadian] (amṛtena) dengan pandangan (vīkṣaṇaiḥ) ini (imāḥ) menyirami (saṃsiñcantam) umat manusia (prajāḥ).
युक्तयज्ञोपवीताङ्ग धवलप्रोन्नतस्रुवम् ।
अनन्तं विस्मयं चान्तः प्रयच्छन्तमिवेक्षितुः ॥ २३ ॥
Yuktayajñopavītāṅga dhavalapronnatasruvam, Anantaṃ vismayaṃ cāntaḥ prayacchantamivekṣituḥ (23)
Terjemahan: 23. Tubuh (aṅga) dengan tali upavita [untuk yajna] (yajñopavīta) yang menghiasi (yukta) dengan sendok saji (sruvam) terangkat tinggi (pronnata) yang bercahaya putih (dhavala); Seolah-olah (iva) bagi yang melihat (īkṣituḥ) menganugerahkan (prayacchantam) ke dalam sanubari (antaḥ) dan (ca) membuat kagum (vismayam) terus menurus (anantam).
सुनिमालोक्य भूपालो दूरादेवानताकृतिः ।
प्रणनाम गलन्मौलिमणिमानितभूतलम् ॥ २४ ॥
Sunimālokya bhūpālo dūrādevānatākṛtiḥ, Praṇanāma galanmaulimaṇimānitabhūtalam (24)
Terjemahan: 24. Sang raja (bhūpālaḥ) bahkan (eva) dengan sikap membungkuk (ānatākṛtiḥ) dari kejauhan (dūrāt) setelah melihat (ālokya) sang muni (sunim); Tergelincir (galan) mahkota (mauli) permata (maṇi) yang dihormati (mānita) bersujud (praṇanāma) ke permukaan tanah (bhūtalam).
मुनिरप्यवनीनाथं भास्वानिव शतक्रतुम् ।
तत्राभिवादयांचक्रे मधुरोदारया गिरा ॥ २५ ॥
Munirapyavanīnāthaṃ bhāsvāniva śatakratum, Tatrābhivādayāṃcakre madhurodārayā girā (25)
Terjemahan: 25. Bagaikan (iva) bercahaya (bhāsvān) Indra-seratus yajna (śatakratum) penguasa bumi (avanīnātham) juga (api) sang muni (muniḥ); Dengan suara (girā) yang manis (madhura) dan mulia (udārayā) menyampaikan (cakre) salam (abhivādayāṃ) di sana (tatra).
ततो वसिष्ठप्रमुखाः सर्व एव द्विजातयः ।
स्वागतादिक्रमेणैनं पूजयामासुरादृताः ॥ २६ ॥
Tato vasiṣṭhapramukhāḥ sarva eva dvijātayaḥ, Svāgatādikrameṇainaṃ pūjayāmāsurādṛtāḥ (26)
Terjemahan: 26. Sesungguhnya (eva) para dvija (brahmana) kemudian (tataḥ) dipimpin oleh (pramukhāḥ) Vasistha semua (sarva); Dengan penuh hormat (ādṛtāḥ) memuja (pūjayāmāsuḥ) kepadanya (enam) sesuai tata krama (krameṇa) ucapan selamat datang dan seterusnya (svāgata-ādika).
दशरथ उवाच ।
अशङ्कितोपनीतेन भास्वता दर्शनेन ते ।
साधो स्वनुगृहीताः स्मो रविणेवाम्बुजाकराः ॥ २७ ॥
Daśaratha Uvāca,
Aśaṅkitopanītena bhāsvatā darśanena te, Sādho svanugṛhītāḥ smo raviṇevāmbujākarāḥ (27)
Terjemahan: 27. Dasaratha berkata: Dengan penampakan (darśanena) mu (te) yang bersinar (bhāsvatā) datang secara tak terduga (aśaṅkitopanītena); Wahai, orang baik (sādho) diberkahi (nugrahītāḥ) oleh mu (sva) kami (smaḥ), bagaikan (iva) kolam teratai (ambujākarāḥ) oleh matahari (raviṇā).
यदनादि यदक्षुण्णं यदपायविवर्जितम् ।
तदानन्दसुखं प्राप्तं मया त्वद्दर्शनान्मुने ॥ २८ ॥
Yadanādi yadakṣuṇṇaṃ yadapāyavivarjitam, Tadānandasukhaṃ prāptaṃ mayā tvaddarśanānmune (28)
Terjemahan: 28. Tanpa awal [Oṃ] (anādi) karena (yad) tak terputus [Hrīṃ] (akṣuṇṇam) karena (yad) kematian [Kṣaṃ] (apāya) karena (yad) terbebasakan [Phaṭ](vivarjitam); Wahai, Muni (mune) karena penampakan (darśanāt) mu (tvat) olehku (mayā) telah diraih (prāptam) kesenangan (sukham) kebahagiaan (ānanda) itu (tad).
अद्य वर्तामहे नूनं धन्यानां धुरि धर्मतः ।
भवदागमनस्येमे यद्वयं लक्ष्यमागताः ॥ २९ ॥
Adya vartāmahe nūnaṃ dhanyānāṃ dhuri dharmataḥ, Bhavadāgamanasyeme yadvayaṃ lakṣyamāgatāḥ (29)
Terjemahan: 29. Hari ini (adya) kami berada (vartāmah) sungguh (nūnam) dari orang-orang yang diberkati (dhanyānām) di puncak (dhuri) dari jalan dharma (dharmataḥ); Telah tercapai (āgatāḥ) tujuan (lakṣyam) kami (vayam) karena (yad) ini (ime) oleh kedatangan (āgamanasya) Tuanku (bhavat).
एवं प्रकथयन्तोऽत्र राजानोऽथ महर्षयः ।
आसनेषु सभास्थानमासाद्य समुपाविशन् ॥ ३० ॥
Evaṃ prakathayanto'tra rājāno'tha maharṣayaḥ, āsaneṣu sabhāsthānamāsādya samupāviśan (30)
Terjemahan: 30. Demikianlah (evam) para Maharsi dan (atha) para raja (rājānaḥ) sambil bercakap-cakap (prakathayantaḥ) pada saat itu (atra); Mereka duduk bersama (samupāviśan) setelah tiba (āsādya) di balairung (sabhāsthānam) di tempat duduk (āsaneṣu).
स दृष्ट्वा मालितं लक्ष्म्या भीतस्तमृषिसत्तमम् ।
प्रहृष्टवदनो राजा स्वयमर्घ्यं न्यवेदयत् ॥ ३१ ॥
Sa dṛṣṭvā mālitaṃ lakṣmyā bhītastamṛṣisattamam, Prahṛṣṭavadano rājā svayamarghyaṃ nyavedayat (31)
Terjemahan: 31. Dia (saḥ) tergetar (bhītaḥ) terhadap (tam) Rsi (ṛṣi) Agung (sattamam) setelah melihat (dṛṣṭvā) dihiasi (mālitam) oleh kemuliaan (lakṣmyā); Raja (rājā) sendiri (svayam) menawarkan air penghormatan (arghyam) sebagai persembahan (nyavedayat) dengan wajah (vadanaḥ) berseri-seri (prahṛṣṭa)
स राज्ञः प्रतिगृह्यार्घ्यं शास्त्रदृष्टेन कर्मणा ।
प्रदक्षिणं प्रकुर्वन्तं राजानं पर्यपूजयत् ॥ ३२ ॥
Sa rājñaḥ pratigṛhyārghyaṃ śāstradṛṣṭena karmaṇā, Pradakṣiṇaṃ prakurvantaṃ rājānaṃ paryapūjayat (32)
Terjemahan: 32. Ia (saḥ) dengan tindakan (karmaṇā) yang sesuai (dṛṣṭena) śāstra (śāstra) setelah menerima (pratigṛhya) tawaran air penghormatannya (arghyam) sang raja (rājñaḥ); Menghormati sepenuhnya (paryapūjayat) Sang Raja (rājānaṃ) yang sedang melakukan (prakurvantam) penghormatan dengan mengelilingi searah jarum jam [ritual pradakṣiṇa] (pradakṣiṇam).
स राज्ञा पूजितस्तेन प्रहृष्टवदनस्तदा ।
कुशलं चाव्ययं चैव पर्यपृच्छन्नराधिपम् ॥ ३३ ॥
Sa rājñā pūjitastena prahṛṣṭavadanastadā, Kuśalaṃ cāvyayaṃ caiva paryapṛcchannarādhipam (33)
Terjemahan: 33. Ia (saḥ) kemudian (tadā) dengan wajah (vadanās) berseri-seri (prahṛṣṭa) itu (tena) dipuja (pūjitaḥ) yang oleh sang raja (rājñā); Sungguh (eva) bertanya dengan penuh perhatian (paryapṛcchat) kepada penguasa manusia [raja] (narādhipam) dan (ca) mengenai kesejahteraan (kuśalam) dan (ca) kemakmuran (avyayam).
वसिष्ठेन समागम्य प्रहस्य मुनिपुंगवः ।
यथार्हं चार्चयित्वैनं पप्रच्छानामयं ततः ॥ ३४ ॥
Vasiṣṭhena samāgamya prahasya munipuṃgavaḥ, Yathārhaṃ cārcayitvainaṃ papracchānāmayaṃ tataḥ (34)
Terjemahan: 34. Sang pemuka para muni (munipuṃgavaḥ) tersenyum (prahasya) setelah bertemu (samāgamya) Vasistha (vasiṣṭhena); Kemudian (tataḥ) bertanya (papraccha) tentang kesejahteraan (anāmayam) dan (ca) setelah menghormati (arcayitvā) nya (enam) sesuai kelayakan (yatha arham).
क्षणं यथार्हमन्योन्यं पूजयित्वा समेत्य च ।
ते सर्वे हृष्टमनसो महाराजनिवेशने ॥ ३५ ॥
Kṣaṇaṃ yathārhamanyonyaṃ pūjayitvā sametya ca, Te sarve hṛṣṭamanaso mahārājaniveśane (35)
Terjemahan: 35. Dan (ca) setelah berkumpul (sametya) sejenak (kṣaṇam) sebagaimana layaknya (yathārham) saling (anyonyam) memuja (pūjayitvā); Mereka semua (te sarve) dengan pikiran (manasaḥ) gembira (hṛṣṭa) di kediaman Maharaja (mahārāja niveśane).
यथोचितासनगता मिथः संवृद्धतेजसः ।
परस्परेण पप्रच्छुः सर्वेऽनामयमादरात् ॥ ३६ ॥
Athocitāsanagatā mithaḥ saṃvṛddhatejasaḥ, Paraspareṇa papracchuḥ sarve'nāmayamādarāt (36)
Terjemahan: 36. Setelah duduk (gatā) di tempat duduk (asana) seharusnya (yathoucita) bersama-sama (mithaḥ) dengan kekuatan spiritual [tejas] (tejasaḥ) yang telah berkembang (saṃvṛddha); Saling (paraspareṇa) menanyakan (papracchuḥ) dengan penuh hormat (ādārāt) tentang kesejahteraan (anāmayam) semua (sarve).
उपविष्टाय तस्मै स विश्वामित्राय धीमते ।
पाद्यमर्घ्यं च गां चैव भूयोभूयो न्यवेदयत् ॥ ३७ ॥
Upaviṣṭāya tasmai sa viśvāmitrāya dhīmate, Pādyamarghyaṃ ca gāṃ caiva bhūyobhūyo nyavedayat (37)
Terjemahan: 37. Ia (saḥ) kepada Vishvamitra (viśvāmitrāya) yang bijaksana (dhīmate) kepada beliau (tasmai) yang telah duduk (upaviṣṭāya); Seperti (iva) berulang kali (bhūyobhūyaḥ) mempersembahkan (nyavedayat) dan (ca) menawarkan air penghormatan (arghyam) untuk ritual mencuci kaki (pādyam) dan (ca) seekor sapi (gām).
अर्चयित्वा तु विधिवद्विश्वामित्रमभाषत ।
प्राञ्जलिः प्रयतो वाक्यमिदं प्रीतमना नृपः ॥ ३८ ॥
Arcayitvā tu vidhivadviśvāmitramabhāṣata, Prāñjaliḥ prayato vākyamidaṃ prītamanā nṛpaḥ (38)
Terjemahan: 38. Setelah memuja (arcayitvā) dan (tu) berkata kepada (abhāṣata) Vishvamitra (viśvāmitram) sesuai aturan (vidhivat); Sang raja (nṛpaḥ) dengan pikiran senang (prītamanā) ini (idam) ucapannya (vākyam) penuh perhatian (prayataḥ) dengan tangan terkatup (prāñjaliḥ).
✎ᝰ Catatan Esoteris…
Kedatangan Vishvamitra adalah deus ex machina spiritual. Beliau muncul tepat saat krisis batin mencapai puncaknya (Rama dalam kemelankolian, istana dalam kebingungan). Kehadirannya adalah intervensi kosmis. Ia bukan sekadar tamu, tetapi “pembawa masalah” sekaligus “pembawa solusi”. Gangguan pada yajna-nya adalah alegori eksternal untuk gangguan pada yajna kehidupan Rama (dharma sebagai putra mahkota).
Vishvamitra datang untuk “meminjam” Rama– bukan maju dalam perang fisik biasa, melainkan untuk perang kosmis melawan kekuatan perusak (raksasa) yang juga merepresentasikan kekuatan penghambat dalam diri (antah karana vighna). Bagian ini menyiapkan panggung untuk inisiasi Rama ke dalam dunia aksi spiritual yang lebih tinggi, yang akan menjadi jalan keluar dari kebingungan eksistensialnya.
Komentar
Posting Komentar
"Terima kasih banyak telah meninggalkan komentar di blog kami! Kami sangat menghargai partisipasi Anda. Komentar Anda membantu kami untuk terus berkembang dan memberikan konten terbaik. Kami akan segera membalasnya begitu kami online. Tetaplah terhubung dan terus berbagi pemikiran Anda!
Jejaktantra — berbagi makna, menumbuhkan kesadaran."