Featured Post

Ringkasan Konstitusi Ayurweda: Membaca Buku Karma Kesehatan

Gambar
Gaya Hidup, Uang, dan Ringkasan Konstitusi: Membaca Karma dalam Kebiasaan Sehari-hari ⎯ Ringkasan Konstitusi Ayurweda — Membaca Buku Karma Kesehatan — Vata sulit membentuk kebiasaan, uang cepat habis, pengeluaran impulsif. Pitta merencanakan dengan bijak, mengalokasikan sumber daya untuk tujuan spesifik. Kapha menikmati rutinitas, menyisihkan uang untuk masa depan, bahkan cenderung kikir. Inilah peta karma yang tersembunyi dalam kebiasaan sehari-hari — dan cara membacanya untuk mengenal diri sendiri.

Vairagya Prakarana: Bab 8 Jawaban Dasaratha Kepada Rsi Wiswamitra

Ketika Seorang Raja Terjepit di Antara Cinta dan Dharma⎯
Vairagya Prakarana: Bab 8 Jawaban Dasaratha Kepada Rsi Wiswamitra

Vairagya Prakarana

— Bab 8 Jawaban Dasaratha Kepada Rsi Wiswamitra —
Wiswamitra telah menyampaikan permintaannya dengan tegas: ia membutuhkan Rama—pemuda bermata teratai yang masih berusia enam belas tahun—untuk melindungi yajna-nya dari gangguan para raksasa. Dasaratha mendengar semua itu. Dan untuk pertama kalinya, sang raja yang bijaksana itu terdiam. Ia duduk sejenak tanpa bergerak, penuh duka, seolah-olah waktu berhenti di balairung Ayodhya.

Kemudian, dengan suara yang bergetar, Dasaratha mulai berbicara...

“Wahai penguasa,” kata Dasaratha, “Rama masih belia—enam belas tahun, kurang. Ia tidak memiliki kemampuan untuk berperang melawan para raksasa. Aku sendiri, dengan seluruh pasukan lengkapku, akan memimpin pertempuran. Biarlah aku yang maju ke medan laga, bukan putraku yang masih hijau.”

Ada kepedihan yang mendalam dalam setiap kata yang keluar dari mulut Dasaratha. Ia tahu bahwa Wiswamitra adalah seorang brahmarṣi agung yang tak bisa ditolak begitu saja. Namun sebagai seorang ayah, ia juga tahu bahwa melepaskan Rama ke dalam bahaya adalah sesuatu yang hampir mustahil baginya.

Dasaratha mengakui keterbatasannya dengan jujur:

““Para dewa, danawa, gandharwa, yaksha, burung, dan naga sekalipun tidak berdaya melawan Rahwana—apa lagi manusia dalam peperangan? Para raksasa mampu menghisap kekuatan para pahlawan terkuat sekalipun.”

Di sanalah Dasaratha berdiri—terombang-ambing di samudra keraguan, tenggelam dalam gelombang kebingungan antara cinta kepada putra dan kewajiban kepada seorang brahmarṣi agung yang meminta dengan penuh kewibawaan. Ia tidak lagi menemukan kepastian. Jiwanya yang agung pun tercabik-cabik oleh dilema yang tak terpecahkan.

  • ✢ Akankah Dasaratha akhirnya melepaskan Rama?
  • ✢ Ataukah ia akan terus berusaha menghindar—menawarkan pasukan, menawarkan dirinya sendiri, menawarkan apa pun kecuali putra kesayangannya?
  • ✢ Dan yang lebih mendasar: apakah yang sebenarnya Wiswamitra lihat pada diri Rama sehingga ia begitu mendambakan pemuda itu?

Di balairung Ayodhya, keheningan kembali menyelimuti...

Wiswamitra mendengar semua alasan dan tangisan seorang ayah. Kini, giliran sang maharsi untuk menjawab—dan mungkin, untuk membuka tabir kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Ikuti terus. Karena apa yang akan dikatakan Wiswamitra selanjutnya tidak hanya akan mengubah hati Dasaratha, tetapi juga akan membuka jalan bagi perjalanan sejati Rama—perjalanan yang akan membawanya pada penyingkapan jati dirinya yang sesungguhnya.

❖ Jawaban Dasaratha Kepada Rsi Wiswamitra
अष्टमः सर्गः वाल्मीकिरुवाच ।
तच्छ्रुत्वा राजशार्दूलो विश्वामित्रस्य भाषितम् ।
मुहूर्तमासीन्निश्चेष्टः सदैन्यं चेदमब्रवीत् ॥ १ ॥
aṣṭamaḥ sargaḥ vālmīkir uvāca ,
tacchrutvā rājaśārdūlo viśvāmitrasya bhāṣitam,
muhūrtamāsīnniśceṣṭaḥ sadainyaṃ cedamabravīt (1)
Terjemahan: 1. Valmiki berkata: Ucapan (bhāṣitam) yang disampaikan oleh Vishvamitra (viśvāmitrasya), sang harimau di antara raja (rājaśārdūlaḥ) setelah mendengar (śrutvā) itu (tat);
Demikian (idam) berkata (abravīt) dengan penuh duka (sa dainyam) dan (ca) tanpa bergerak (niśceṣṭaḥ) Ia duduk (āsīt) sejenak (muhūrtam).
ऊनषोडशवर्षोऽयं रामो राजीवलोचनः ।
न युद्धयोग्यतामस्य पश्यामि सह राक्षसैः ॥ २ ॥
ūnaṣoḍaśavarṣo'yaṃ rāmo rājīvalocanaḥ,
Na yuddhayogyatāmasya paśyāmi saha rākṣasaiḥ (2)
Terjemahan: 2. Yang bermata teratai (rājīvalocanaḥ) Rama (rāmaḥ) ini (ayam) berusia berusia (varṣaḥ) enam belas tahun (ṣoḍaśa) kurang (ūna);
Para raksasa (rākṣasaiḥ) bersama (saha) aku memandang (paśyāmi) dari dirinya (asya) berkemampuan (yogyatām) untuk berperang (yuddha), tidak (na).?
इयमक्षौहिणी पूर्णा यस्याः पतिरहं प्रभो ।
तया परिवृतो युद्धं दास्यामि पिशिताशिनाम् ॥ ३ ॥
Iyamakṣauhiṇī pūrṇā yasyāḥ patirahaṃ prabho,
Tayā parivṛto yuddhaṃ dāsyāmi piśitāśinām (3)
Terjemahan: 3. Wahai, yang mulia (prabho) aku (aham) adalah pemimpin (patir) yang memiliki (yasyāḥ) perlengkapan (pūrṇā) dengan formasi pasukan [gajah, kereta, kuda, dan prajurit] (akṣauhiṇī) ini (iyam);
Dengan para pemakan daging (piśitāśinām) aku akan memberikan (dāsyāmi) pertempuran (yuddham) disertai (parivṛtaḥ) oleh mereka (tayā).
इमे हि शूरा विक्रान्ता भृत्या मन्त्रविशारदाः ।
अहं चैषां धनुष्पाणिर्गोप्ता समरमूर्धनि ॥ ४ ॥
Ime hi śūrā vikrāntā bhṛtyā mantraviśāradāḥ,
Ahaṃ caiṣāṃ dhanuṣpāṇirgoptā samaramūrdhani (4)
Terjemahan: 4. Sesungguhnya (hi) para pemberani (śūrāḥ) yang gagah perkasa (vikrāntāḥ) para pengikut (bhṛtyāḥ) Ahli strategi (mantraviśāradāḥ) ini (ime);
Di barisan depan pertempuran (samaramūrdhani) sebagai pelindung (goptā) adalah pemanah (dhanuṣpāṇiḥ) dari mereka (eṣām) dan (ca) aku (aham).
एभिः सहैव वीराणां महेन्द्रमहतामपि ।
ददामि युद्धं मत्तानां करिणामिव केसरी ॥ ५ ॥
Ebhiḥ sahaiva vīrāṇāṃ mahendramahatāmapi,
Dadāmi yuddhaṃ mattānāṃ kariṇāmiva kesarī (5)
Terjemahan: 5. Sungguh (eva) bersama (saha) para pahlawan (vīrāṇām) bahkan (api) seperkasa (mahatām) Mahendra [Indra] (mahendra) mereka (ebhiḥ);
Bagaikan (iva) singa (kesarī) melawan gajah-gajah (kariṇām) yang mabuk (mattānām) pertempuran (yuddham) aku berikan (dadāmi).
बालो रामस्त्वनीकेषु न जानाति बलाबलम् ।
अन्तःपुरादृते दृष्टा नानेनान्या रणावनिः ॥ ६ ॥
Bālo rāmastvanīkeṣu na jānāti balābalam,
Antaḥpurādṛte dṛṣṭā nānenānyā raṇāvaniḥ (6)
Terjemahan: 6. Kekuatan dan kelemahan (balābalam) mengetahui (jānāti), tidak (na) ?dalam formasi militer (tvanīkeṣu) Rama (rāmaḥ) masih belia (bālaḥ);
Medan pertempuran (raṇāvaniḥ) yang lain (anyā) olehnya (anena), tidak (na)? yang pernah dilihat (dṛṣṭā) selain (ṛte) dari dalam istana (antaḥpurāt).
न शस्त्रैः परमैर्युक्तो न च युद्धविशारदः ।
नवास्त्रैः शूरकोटीनां तज्ज्ञः समरभूमिषु ॥ ७ ॥
Na śastraiḥ paramairyukto na ca yuddhaviśāradaḥ,
Navāstraiḥ śūrakoṭīnāṃ tajjñaḥ samarabhūmiṣu (7)
Terjemahan: 7. Ahli (viśāradaḥ) dalam peperangan (yuddha), tidak (na)? dilengkapi (yuktaḥ) kemahiran (paramaiḥ) dan (ca) dengan senjata-senjata (śastraiḥ), tidak (na)?;
Di medan pertempuran (samarabhūmiṣu) yang ahli (tajjñaḥ) tak terhitung jumlahnya (koṭīnām) dari para pahlawan (śūra) dengan senjata-senjata baru (navāstraiḥ).
केवलं पुष्पखण्डेषु नगरोपवनेषु च ।
उद्यानवनकुञ्जेषु सदैव परिशीलनम् ॥ ८ ॥
Kevalaṃ puṣpakhaṇḍeṣu nagaropavaneṣu ca,
Udyānavanakuñjeṣu sadaiva pariśīlanam (8)
Terjemahan: 8. Di taman kota (nagaropavaneṣu) dan (ca) di hamparan bunga (puṣpakhaṇḍeṣu) semata-mata (kevalam);
Sungguh (eva) senantiasa (sada) di pelajarinya (pariśīlanam) sudut-sudut (kuñjeṣu) di hutan taman (udyānavana).
विहर्तुमेष जानाति सह राजकुमारकैः ।
कीर्णपुष्पोपहारासु स्वकास्वजिरभूमिषु ॥ ९ ॥
Vihartumeṣa jānāti saha rājakumārakaiḥ,
Kīrṇapuṣpopahārāsu svakāsvajirabhūmiṣu (9)
Terjemahan: 9. Para pangeran (rājakumārakaiḥ) bersama (saha) yang diketahui (jānāti) Ia (eṣa) hanya bersenang-senang (vihartum);
Di tempat (bhūmiṣu) halaman (ajira) miliknya sendiri (svakāsu) dalam persembahan (upahārāsu) bunga (puṣpa) yang ditaburkan (kīrṇa).
अद्य त्वतितरां ब्रह्मन्मम भाग्यविपर्ययात् ।
हिमेनेव हि पद्माभः संपन्नो हरिणः कृशः ॥ १० ॥
Adya tvatitarāṃ brahmanmama bhāgyaviparyayāt,
Himeneva hi padmābhaḥ saṃpanno hariṇaḥ kṛśaḥ (10)
Terjemahan: Karena perubahan (viparyayāt) nasib (bhāgya) milikku (mama) Wahai, Brahmana (brahman) berbeda (itarām) denganmu (tvat) kini (adya);
Bagaikan (iva) oleh salju (hima) sesungguhnya (hi) yang berkilau bagaikan teratai (padmābhaḥ) menjadi (saṃpannaḥ) rusa (hariṇaḥ) kurus (kṛśaḥ).
नात्तुमन्नानि शक्नोति न विहर्तुं गृहावनिम् ।
अन्तःखेदपरीतात्मा तूष्णीं तिष्ठति केवलम् ॥ ११ ॥
Nāttumannāni śaknoti na vihartuṃ gṛhāvanim,
Antaḥkhedaparītātmā tūṣṇīṃ tiṣṭhati kevalam (11)
Terjemahan: 11. Di halaman rumah (gṛhāvanim) bersenang-senang (vihartum), tidak (na)? Ia mampu (śaknoti) memakan (annāni) makanan (āttum), tidak (na)?;
Semata-mata (kevalam) ia diam (tiṣṭhati) membisu (tūṣṇīm) pikirannya diliputi (parītātmā) kesedihan batin (antaḥkheda).
सदारः सहभृत्योऽहं तत्कृते मुनिनायक ।
शरदीव पयोवाहो नूनं निःसारतां गतः ॥ १२ ॥
Sadāraḥ sahabhṛtyo'haṃ tatkṛte munināyaka,
śaradīva payovāho nūnaṃ niḥsāratāṃ gataḥ (12)
Terjemahan: 12. Wahai, pemimpin para muni (munināyaka) karena alasan itu (tatkṛte) Aku (aham) bersama para pengikut (sahabhṛtyaḥ) bersama istri (sadāraḥ);
Bagaikan (iva) musim gugur (śaradi) yang berawan (payovāhaḥ) sungguh (nūnam) telah menjadi kosong/tak bermakna (niḥsāratām gataḥ).
ईदृशोऽसौ सुतो बाल आधिनाऽथ वशीकृतः ।
कथं ददामि तं तुभ्यं योद्धुं सह निशाचरैः ॥ १३ ॥
īdṛśo'sau suto bāla ādhinā'tha vaśīkṛtaḥ,
Kathaṃ dadāmi taṃ tubhyaṃ yoddhuṃ saha niśācaraiḥ (13)
Terjemahan: 13. Ditundukkan (vaśīkṛtaḥ) kemudian (atha) oleh kesedihan (ādhinā) yang masih belia (bālaḥ) sang Putra (sutaḥ) dia (asau) seperti ini (īdṛśaḥ);
Para penghuni malam (niśācaraiḥ) bersama (saha) untuk bertarung, (yoddhum) kepadamu (tubhyam) dia (tam) aku serahkan (dadāmi) bagaimana (katham)?
अपि बालाङ्गनासङ्गादपि साधो सुधारसात् ।
राज्यादपि सुखायैव पुत्रस्नेहो महामते ॥ १४ ॥
Api bālāṅganāsaṅgādapi sādho sudhārasāt,
Rājyādapi sukhāyaiva putrasneho mahāmate (14)
Terjemahan: 14. Dari bagaikan nektar (sudhārasāt) Wahai, orang baik (sādho) bahkan (api) dari pergaulan (saṅgāt) dengan gadis-gadis muda (bālāṅganā) meskipun (api);
Sungguh (eva) demi kebahagiaan (sukhāya) kasih sayang kepada putra (putrasnehaḥ) Wahai yang berpikiran agung (mahāmate) bahkan (api) melebihi kerajaan (rājyāt).
ये दुरन्ता महारम्भास्त्रिषु लोकेषु खेददाः ।
पुत्रस्नेहेन सन्तोऽपि कुर्वते तानसंशयम् ॥ १५ ॥
Ye durantā mahārambhāstriṣu lokeṣu khedadāḥ, Putrasnehena santo'pi kurvate tānasaṃśayam (15)
Terjemahan: 15. Mendatangkan kesedihan (khedadāḥ) dalam dunia (lokeṣu), dalam tiga (triṣu) perbuatan-perbuatan (rambhāḥ) besar (mahā), yang tak terkendalikan (durantāḥ) mereka (ye);
Dengan tanpa keraguan (asaṃśayam) itu (tān) mereka melakukan (kurvante) bahkan (api) orang-orang baik (santaḥ) demi kasih sayang (snehena) terhadap putranya (putra).
असवोऽथ धनं दारास्त्यज्यन्ते मानवैः सुखम् ।
न पुत्रो मुनिशार्दूल स्वभावो ह्येष जन्तुषु ॥ १६ ॥
Asavo'tha dhanaṃ dārāstyajyante mānavaiḥ sukham,
Na putro muniśārdūla svabhāvo hyeṣa jantuṣu (16)
Terjemahan: 16. Kesenangan (sukham) oleh manusia (mānavaiḥ) ditinggalkan (tyajyante) istri (dārāḥ) kekayaan (dhanam) bahkan (atha) nyawa (asavaḥ);
Sesungguhnya (hi) ini (eṣaḥ) pada makhluk hidup (jantuṣu) adalah sifat bawaan (svabhāvaḥ) Wahai harimau di antara para muni (muniśārdūla), terhadap putra (putraḥ), tidak (na)?
राक्षसाः क्रूरकर्माणः कूटयुद्धविशारदाः ।
रामस्तान्योधयत्वित्थं युक्तिरेवातिदुःसहा ॥ १७ ॥
Rākṣasāḥ krūrakarmāṇaḥ kūṭayuddhaviśāradāḥ,
Rāmastānyodhayatvitthaṃ yuktirevātiduḥsahā (17)
Terjemahan: 17. Ahli (viśāradāḥ) dalam tipu daya perang (kūṭayuddha) berperilaku (karmāṇaḥ) kejam (krūra) para raksasa (rākṣasāḥ);
Sungguh (eva) sangat (ati) sangat sulit ditanggung (duḥsahā) siasat (yuktiḥ) seperti ini (ittaṃ) harus melawan (yodhayatu) mereka (tān) Rama (rāmaḥ).
विप्रयुक्तो हि रामेण मुहूर्तमपि नोत्सहे ।
जीवितुं जीविताकांक्षी च रामं नेतुमर्हसि ॥ १८ ॥
Viprayukto hi rāmeṇa muhūrtamapi notsahe,
Jīvituṃ jīvitākāṃkṣī ca rāmaṃ netumarhasi (18)
Terjemahan: 18. Sesungguhnya (hi) dengan Rama (rāmeṇa) bahkan (api) untuk sesaat (muhūrtam) terpisahkan (viprayuktaḥ) sanggup (utsahe), tidak (na);
Engkau patut (arhasi) untuk membawa (netum) Rama (rāmam) yang mendambakan (akāṃkṣin) kehidupan (jīvitā) dan (ca) untuk hidup (jīvitum).
नववर्षसहस्राणि मम जातस्य कौशिक ।
दुःखेनोत्पादितास्त्वेते चत्वारः पुत्रका मया ॥ १९ ॥
Navavarṣasahasrāṇi mama jātasya kauśika,
Duḥkhenotpāditāstvete catvāraḥ putrakā mayā (19)
Terjemahan: 19. Wahai, Kausika (kauśika) semenjak terlahir (jātasya) diriku (mama) sembilan ribu (navasahasrāṇi) tahun (varṣāṇi);
Olehku (mayā) putra (putrakāḥ) keempat (catvāraḥ) ini (ete) memang (tu) diperoleh (utpāditāḥ) dengan susah payah (duḥkhena).
प्रधानभूतस्तेष्वेव रामः कमललोचनः ।
तं विनेह त्रयोऽप्यन्ये धारयन्ति न जीवितम् ॥ २० ॥
Pradhānabhūtasteṣveva rāmaḥ kamalalocanaḥ,
Taṃ vineha trayo'pyanye dhārayanti na jīvitam (20)
Terjemahan: 20. Sungguh (eva) di antara mereka (teṣu) yang paling utama (pradhānabhūtaḥ) adalah Rama (rāmaḥ) yang bermata teratai (kamalalocanaḥ);
kehidupan (jīvitam) tidak (na) mereka mempertahankan (dhārayanti), yang lain (anye) bahkan (api) ketiganya (trayaḥ) disini (iha) tanpa (vinā) Dia (tam).
स एव रामो भवता नीयते राक्षसान्प्रति ।
यदि तत्पुत्रहीनं त्वं मृतमेवाशु विद्धि माम् ॥ २१ ॥
Sa eva rāmo bhavatā nīyate rākṣasānprati,
Yadi tatputrahīnaṃ tvaṃ mṛtamevāśu viddhi mām (21)
Terjemahan: 21. Sungguh (eva) dia (saḥ) Rama (rāmaḥ) yang oleh Tuanku (bhavatā) akan dibawa (nīyate) kepada (prati) para raksasa (rākṣasān);
Bila (yadi) kehilangan putra (putrahīnam) itu (tat), maka (tvaṃ) seketika (āśu) kematian (mṛtam) akan menembus (viddhi) aku (mām).
चतुर्णामात्मजानां हि प्रीतिरत्रैव मे परा ।
ज्येष्ठं धर्ममयं तस्मान्न रामं नेतुमर्हसि ॥ २२ ॥
Caturṇāmātmajānāṃ hi prītiratraiva me parā,
Jyeṣṭhaṃ dharmamayaṃ tasmānna rāmaṃ netumarhasi (22)
Terjemahan: 22. Sesungguhnya (hi) sungguh (eva) kasih sayang (prītiḥ) di sini (atra) bagiku (me) yang tertinggi (parā) putraku (ātmajānām) dari keempatnya (caturṇām);
Engkau pantas (arhasi) untuk membawa (netum) Rama (rāmaṃ), tidak (na) ?karenanya (tasmāt) penuh dharma (dharmamayam) yang tertua (jyeṣṭham).
निशाचरबलं हन्तुं मुने यदि तवेप्सितम् ।
चतुरङ्गसमायुक्तं मया सह बलं नय ॥ २३ ॥
Niśācarabalaṃ hantuṃ mune yadi tavepsitam,
Caturaṅgasamāyuktaṃ mayā saha balaṃ naya (23)
Terjemahan: 23. Jika (yadi) menjadi kehendak (īpsitam) bagimu (tava) Wahai, Muni (mune) untuk menghancurkan (hantum) kekuatan (balam) para penghuni malam (niśācara);
Bawalah (naya) pasukan (balam) bersama (saha) aku (mayā) pasukan lengkap (samāyuktam) empat angkatan [pasukan gajah, kuda, kereta, dan infanteri] (caturaṅga).
किंवीर्या राक्षसास्ते तु कस्य पुत्राः कथं च ते ।
कियत्प्रमाणाः के चैव इति वर्णय मे स्फुटम् ॥ २४ ॥
Kiṃvīryā rākṣasāste tu kasya putrāḥ kathaṃ ca te,
Kiyatpramāṇāḥ ke caiva iti varṇaya me sphuṭam (24)
Terjemahan: 24. Mereka (te) bagaimana (katham)? dan (ca) putra siapa (kasya putrāḥ)?sesungguhnya (tu) itu (te) para raksasa (rākṣasāḥ) sekuat (vīryāḥ) apakah (kiṃ)?;
Sungguh (eva) demikian (iti) jelaskan (varṇaya) kepadaku (me) dengan jelas (sphuṭam) siapa (ke) dan (ca) berapa besar ukurannya (kiyatpramāṇāḥ)?.
कथं तेन प्रकर्तव्यं तेषां रामेण रक्षसाम् ।
मामकैर्बालकैर्ब्रह्मन्मया वा कूटयोधिनाम् ॥ २५ ॥
Kathaṃ tena prakartavyaṃ teṣāṃ rāmeṇa rakṣasām,
Māmakairbālakairbrahmanmayā vā kūṭayodhinām (25)
Terjemahan: 25. Para raksasa (rakṣasām) oleh Rama (rāmeṇa) terhadap mereka (teṣām) harus diperlakukan (prakartavyam) olehnya (tena) dengan cara apa (katham)?
Oleh para prajurit (yodhinām) yang licik (kūṭa) atau (vā) olehku sendiri (mayā) Wahai, Brahmana (brahman) masih belia (bālakaiḥ) anak-anakku (māmakaiḥ).
सर्वं मे शंस भगवन्यथा तेषां महारणे ।
स्थातव्यं दुष्टभाग्यानां वीर्योत्सिक्ता हि राक्षसाः ॥ २६ ॥
Sarvaṃ me śaṃsa bhagavanyathā teṣāṃ mahāraṇe,
Sthātavyaṃ duṣṭabhāgyānāṃ vīryotsiktā hi rākṣasāḥ (26)
Terjemahan: 26. Bagaimana (yathā) Wahai, bhagawan (bhagavan) melawan mereka (teṣām) Dalam pertempuran besar (mahāraṇe) ceritakanlah (śaṃsa) kepadaku (me) seluruhnya (sarvam);
Sesungguhnya (hi) para raksasa (rākṣasāḥ) yang meluap-luap (utsiktāḥ) keperkasaannya (vīrya) mereka yang bernasib (bhāgyānām) sial (duṣṭa) harus menghadapinya (sthātavyam).
श्रूयते हि महावीर्यो रावणो नाम राक्षसः ।
साक्षाद्वैश्रवणभ्राता पुत्रो विश्रवसो मुनेः ॥ २७ ॥
śrūyate hi mahāvīryo rāvaṇo nāma rākṣasaḥ,
Sākṣādvaiśravaṇabhrātā putro viśravaso muneḥ (27)
Terjemahan: 27. Sesungguhnya (hi) yang sangat perkasa (mahāvīryaḥ) Rahwana (rāvaṇo) bernama (nāma) seorang raksasa (rākṣasaḥ) terdengar (śrūyate);
Muni (muneḥ) yang bernama Visravas (viśravaso) memiliki putra (putraḥ) saudara (bhrātā) Vaisravana [Kubera] (vaiśravaṇa) secara langsung (sākṣāt)
स चेत्तव मखे विघ्नं करोति किल दुर्मतिः ।
तत्संग्रामे न शक्ताः स्मो वयं तस्य दुरात्मनः ॥ २८ ॥
Sa cettava makhe vighnaṃ karoti kila durmatiḥ,
Tatsaṃgrāme na śaktāḥ smo vayaṃ tasya durātmanaḥ (28)
Terjemahan: 28. Berakal rendah (durmatiḥ) sungguh (kila) membuat (karoti) gangguan (vighnam) Yajna (makhe) milikmu (tava) bila (cet) dia (saḥ);
Terhadap otak jahat (durātmanaḥ) dari dia (tasya) kepada kami (vayam), kami (smaḥ) sanggup (śaktāḥ), tidak (na)? dalam pertempuran (saṃgrāme) itu (tat).
काले काले पृथग्ब्रह्मन्भूरिवीर्यविभूतयः ।
भूतेष्वभ्युदयं यान्ति प्रलीयन्ते च कालतः ॥ २९ ॥
Kāle kāle pṛthagbrahmanbhūrivīryavibhūtayaḥ,
Bhūteṣvabhyudayaṃ yānti pralīyante ca kālataḥ (29)
Terjemahan: 29. Ada manisfestasi (vibhūtayaḥ) kekuatan (vīrya) besar (bhūri) Wahai, Brahmana (brahman) secara berbeda-beda (pṛthak) pada setiap masa (kāle kāle);
Karena waktu (kālataḥ) mereka hancur (pralīyante) dan (ca) berkembang (yānti) mereka bangkit (abhyudayam) melalui makhluk-makhluk (bhūteṣu).
अद्यास्मिंस्तु वयं काले रावणादिषु शत्रुषु ।
न समर्थाः पुरः स्थातुं नियतेरेष निश्चयः ॥ ३० ॥
Adyāsmiṃstu vayaṃ kāle rāvaṇādiṣu śatruṣu,
Na samarthāḥ puraḥ sthātuṃ niyatereṣa niścayaḥ (30)
Terjemahan: 30. Musuh-musuhnya (śatruṣu) sejenis (ādiṣu) Rahwana (Rāvaṇā) dalam setiap masa (kāle) kami (vayam) namun (tu) dalam hal ini (asmin) sekarang (adya);
Kepastian (niścayaḥ) ini (eṣaḥ) adalah takdir (niyateḥ) untuk berdiri (sthātum) di depan (puraḥ) dengan kesanggupan (samarthāḥ), tidak (na)?
तस्मात्प्रसादं धर्मज्ञ कुरु त्वं मम पुत्रके ।
मम चैवाल्पभाग्यस्य भवान्हि परदैवतम् ॥ ३१ ॥
Yasmātprasādaṃ dharmajña kuru tvaṃ mama putrake,
Mama caivālpabhāgyasya bhavānhi paradaivatam (31)
Terjemahan: 31. Kepada putra (putrake) milikku (mama) Engkau (tvaṃ) lepaskanlah (kuru) Wahai, yang mengetahui dharma (dharmajña) bermurah hatilah (prasādam) oleh karena itu (tasmāt);
Sungguh (eva) dan (ca) yang bernasib malang (alpabhāgyasya) milikku (mama) sesungguhnya (hi) engkau yang Mulia (bhavān) Dewa (daivatam) tertinggi (para).
देवदानवगन्धर्वा यक्षाः पतगपन्नगाः ।
न शक्ता रावणं योद्धुं किं पुनः पुरुषा युधि ॥ ३२ ॥
Devadānavagandharvā yakṣāḥ patagapannagāḥ,
Na śaktā rāvaṇaṃ yoddhuṃ kiṃ punaḥ puruṣā yudhi (32)
Terjemahan: 32. Naga (pannagāḥ) burung [pataga-garuda] (pataga) yakṣa (yakṣāḥ) gandharwa (gandharvāḥ) danava [asura] (dānava) para dewa (devāḥ);
Dalam peperangan (yudhi) manusia (puruṣāḥ) lagi (punaḥ) apa (kiṃ)? untuk bertarung (yoddhum) melawan Rahwana (rāvaṇam) berdaya (śaktāḥ), tidak (na).?
महावीर्यवतां वीर्यमादत्ते युधि राक्षसः ।
तेन सार्धं न शक्ताः स्म संयुगे तस्य बालकैः ॥ ३३ ॥
Mahāvīryavatāṃ vīryamādatte yudhi rākṣasaḥ,
Tena sārdhaṃ na śaktāḥ sma saṃyuge tasya bālakaiḥ (33)
Terjemahan: 33. Sang raksasa (rākṣasaḥ) dalam peperangan (yudhi) mampu menghisap (ādatte) kekuatan (vīryam) mereka yang paling kuat (mahāvīryavatām); Dengan anak-anak (bālakaiḥ) bersamanya (tasya) dalam pertempuran (saṃyuge) kami (smaḥ) sanggup (śaktāḥ), tidak (na)? bersama (sārdham) oleh karenanya (tena).
अयमन्यतमः कालः पेलवीकृतसज्जनः ।
राघवोऽपि गतो दैन्यं यतो वार्धकजर्जरः ॥ ३४ ॥
Ayamanyatamaḥ kālaḥ pelavīkṛtasajjanaḥ,
Rāghavo'pi gato dainyaṃ yato vārdhakajarjaraḥ (34)
Terjemahan: 34. Dilemahkan (pelavīkṛtaḥ) orang-orang baik (sajjanaḥ) pada masa (kālaḥ) masa tertentu (anyatamaḥ) ini (ayam);
Renta oleh usia (vārdhaka jarjaraḥ) karena (yataḥ) kesedihan (dainyam) telah jatuh (gataḥ) bahkan (api) Raghava [Rama] (rāghavaḥ).
अथवा लवणं ब्रह्मन्यज्ञघ्नं तं मधोः सुतम् ।
कथयत्वसुरप्रख्यं नैव मोक्ष्यामि पुत्रकम् ॥ ३५ ॥
Athavā lavaṇaṃ brahmanyajñaghnaṃ taṃ madhoḥ sutam, Kathayatvasuraprakhyaṃ naiva mokṣyāmi putrakam (35)
Terjemahan: 35. Putra (sutam) Madhu (madhoḥ) itu (tam) penghancur yajna (yajñaghnam) para Brahmana (brahman) Lavana (lavaṇaṃ) justru sebaliknya (athavā); Sungguh (eva) tidak (na) akan ku lepaskan (mokṣyāmi) putraku (putrakam) yang terkenal seperti asura (asura-prakhyam) jelaskanlah (kathayatu).
सुन्दोपसुन्दयोश्चैव पुत्रौ वैवस्वतोपमौ ।
यज्ञविघ्नकरौ ब्रूहि न ते दास्यामि पुत्रकम् ॥ ३६ ॥
Sundopasundayoścaiva putrau vaivasvatopamau,
Yajñavighnakarau brūhi na te dāsyāmi putrakam (36)
Terjemahan: 36. Sungguh (eva) Upasunda dan (ca) Sunda adalah dua putra (putrau) Yang serupa (upamau) dengan [dewa kematian] Vaivasvata (Yama);
Putraku (putrakam) akan aku berikan (dāsyāmi) kepadamu (te), tidak (na)? sampaikanlah (brūhi) pembuat rintangan Yajna (yajñavighnakarau).
अथ नेष्यसि चेद्ब्रह्मंस्तद्धतोऽस्म्यहमेव ते ।
अन्यथा तु न पश्यामि शाश्वतं जयमात्मनः ॥ ३७ ॥
Atha neṣyasi cedbrahmaṃstaddhato'smyahameva te, Anyathā tu na paśyāmi śāśvataṃ jayamātmanaḥ (37)
Terjemahan: 37. Sungguh (eva) aku (aham) sendiri (asmi) yang binasah (dhataḥ) dengan demikian (tad) Wahai, Brahmana (brahman) jika (ced) olehmu (te) engkau akan membawanya (neṣyasi) demikian (atha);
Bagi diriku (ātmanaḥ) memenangan (jayam) yang mutlak (śāśvatam) Aku melihatnya (paśyāmi), tidak (na)? tetapi (tu) sebaliknya (anyathā).
इत्युक्त्वा मृदु वचनं रघूद्वहोऽसौ कल्लोले मुनिमतसंशये निमग्नः ।
नाज्ञासीत्क्षणमपि निश्चयं महात्मा प्रोद्वीचाविव जलधौ स मुह्यमानः ॥ ३८ ॥
Ityuktvā mṛdu vacanaṃ raghūdvaho'sau kallole munimatasaṃśaye nimagnaḥ,
Nājñāsītkṣaṇamapi niścayaṃ mahātmā prodvīcāviva jaladhau sa muhyamānaḥ (38)
Terjemahan: 38. Demikian (ity) setelah berkata (uktvā) dengan lembut (mṛdu) berucap (vacanam) itu (asau) keturunan (udvahaḥ) dinasti Raghu (raghu) dalam gelombang (kallole) keraguan (saṃśaye) atas pendapat sang muni (munimata) yang menenggelamkan (nimagnaḥ);
Bagaikan (iva) terombang-ambing (prodvīcau) di samudra (jaladhau) ia (sa) yang kebingungan (muhyamānaḥ) sang jiwa agung (mahātmā) keputusan (niścayam) bahkan (api) sesaat pun (kṣaṇam) mengetahui (ajñāsīt), tidak (na)?

✎ᝰ Catatan Esoteris…

Monolog tersebut adalah alegori sempurna mengenai pergumulan antara Svartha (kepentingan diri/ego) dan Parartha (kepentingan tertinggi/dharma). Dasaratha mewakili setiap pencari spiritual (sadhaka) yang, setelah bertahun-tahun berlatih, akhirnya menghasilkan “Rama”-nya sendiri—suatu keadaan kedamaian, realisasi, atau pencapaian spiritual yang sangat berharga.

Selanjutnya datanglah “Wiswamitra” (Guru Sejati atau Panggilan Dharma) yang meminta untuk melepaskan pencapaian itu demi tugas yang lebih besar di “dunia luar”. Ratapan Dasaratha adalah ratapan dari keseluruhan ego ketakutan kehilangan identitas, makna, dan buah dari kerja kerasnya selama ini. Kebuntuan yang digambarkan menunjukkan bahwa solusinya tidak akan datang dari analisis ego, melainkan hanya dari penyerahan total (saranagati) kepada kebijaksanaan yang lebih tinggi.

💡 Tekan dan tahan tombol untuk melihat judul halaman

Komentar

FF Aditya Wahyudi
FF ADITYA WAHYUDI

Penulis spiritual yang mendalami Tantra, Jyotisha, dan Ayurveda. Melalui JejakTantra, saya berbagi sari pati manuskrip kuno dan pengalaman batin untuk membantu Anda menemukan makna sejati kehidupan. Selamat menjelajahi kedalaman diri.

"Menyebarkan pengetahuan adalah bagian dari persembahan (Yadnya) yang saya jalani dengan penuh syukur. Jika tulisan di Jejak Tantra telah memberikan manfaat dalam perjalanan batin Anda, Anda dapat memberikan dukungan sukarela untuk menjaga ruang berbagi ini agar tetap mandiri."

☕ Apresiasi Ruang Berbagi

(Apresiasi Anda membantu operasional & keaslian konten blog ini)

Postingan populer dari blog ini

Mantra: Kekuatan Perlindungan Pikiran dan Pencerahan

Materi Tantrik: Kunci Memahami Keragaman Spiritualitas

Meditasi: Transformasi Kesadaran Spiritual