Featured Post

Vairagya Prakarana: Bab 15 Kecaman terhadap Egoisme

Gambar
Musuh Abadi yang Bernama "Aku" ⎯ Vairagya Prakarana — Bab 15 Kecaman terhadap Egoisme — "Aku" adalah musuh abadi yang paling licik. Bukan di luar sana, bukan pada orang lain—melainkan pada keyakinan bahwa kita adalah entitas terpisah yang harus dilindungi dan dipuaskan. Di sinilah Rama membongkar akar penderitaan sejati: ke-aku-an yang berpura-pura menjadi diri.

Vairagya Prakarana: Bab 10 Kesedihan Rama

Kesunyian di Balik Dinding Istana ⎯
Vairagya Prakarana: Bab 10  Kesedihan Rama

Vairagya Prakarana

— Bab 9 Kesedihan Rama —
Dinding istana menyembunyikan rahasia. Di balik kemegahan singgasana, Rama duduk termenung—pandangan kosong, hati layu. Para pelayan hanya bisa gempar menyaksikan pangeran mereka berangsur-angsur lenyap dalam kesunyian. Apa yang sebenarnya terjadi pada putra mahkota Ayodhya?

Sementara Dasaratha dan Wiswamitra bergulat dalam pusaran dharma dan cinta, di sudut lain istana, Rama—yang tak tahu bahwa namanya telah dipertaruhkan—duduk dalam keheningan yang mencemaskan.

Valmiki menggambarkan pemandangan yang menyayat hati. Sang pangeran bermata teratai itu bagaikan sekuntum bunga teratai di malam hari, ditinggalkan oleh kumbang yang seharusnya menghisap madunya. Ia duduk sendiri di istananya, merenung, bicara pada dirinya sendiri, namun tak mampu menjawab panggilan siapa pun. Para pelayan yang diutus raja untuk memanggilnya hanya bisa pulang dengan laporan yang membuat Dasaratha semakin gelisah.

"Apa yang terjadi pada putraku?" tanya sang raja.

Dan para pelayan itu—yang setiap hari menyaksikan Rama dari dekat—bercerita dengan suara yang bergetar...

  • "Wahai raja, semenjak ia kembali dari ziarah ke tempat-tempat suci, Rama tak lagi sama. Ia tidak lagi bersemangat menyantap makanan, bahkan setelah didesak sekalipun. Ia tidak lagi tertarik pada tawa para wanita istana, pada gelang-gelang permata yang gemerlap, pada hembusan angin yang membawa aroma bunga, pada tarian para gadis yang memikat hati. Semua yang dulu menyenangkannya, kini justru tampak menyiksanya."

Mereka melanjutkan...

  • "Ia duduk dalam padmasana, telapak tangan kiri di atas pipi, mata kosong meratap ke dalam dirinya sendiri. Wajahnya pucat setiap hari, tubuhnya semakin kurus—bagaikan pohon di akhir musim gugur yang meranggas tanpa gairah. Ia menangis, lalu tertawa, lalu menyanyi sendiri bagaikan orang gila. Lalu diam. Selalu diam."

Para pelayan itu bingung. Apakah ia menginginkan kedaulatan? Tidak. Apakah ia merindukan kemewahan? Tidak. Apakah ia membenci sesuatu? Juga tidak. Ia seperti orang yang telah melepaskan segalanya—namun bukan dengan kebijaksanaan seorang bijak yang tenang, melainkan dengan kegelisahan yang meradang.

  • "Di hutan-hutan terpencil, di tepian sungai yang sunyi, di tempat-tempat yang sepi dari manusia, ia justru menemukan kesenangan," kata para pelayan. "Ia berperilaku seperti seorang pertapa yang telah melepaskan dunia—namun matanya terus berkaca-kaca, dadanya bergemuruh dengan isak yang tak tertumpahkan."

Laksmana dan Satrughna, yang selalu setia di sisinya, pun larut dalam kesedihan yang sama. Mereka bagaikan bayangan yang setia mengikuti tuannya ke dalam jurang gelap.

  • "Wahai penguasa," kata para pelayan di akhir laporan mereka, "kami ini hanyalah tiang penopang tubuh kami. Engkaulah pelindung kami. Di hadapan orang yang memberi nasehat—baik brahmana maupun raja—Rama hanya tertawa merendahkan, tanpa kegelisahan sedikit pun. Ia telah terbebaskan—atau mungkin hanya orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa? Kami tidak tahu."
  • Apakah Rama telah gila? Atau justru sedang mengalami sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal sehat?
  • Apakah kesedihannya ini—yang begitu misterius, yang menolak semua hiburan duniawi—adalah tanda kelemahan? Ataukah ia sedang berada di ambang pintu pencerahan yang tidak dapat dipahami oleh mereka yang masih terikat pada dunia?
  • Dan yang lebih menggugah: apakah Wiswamitra—dengan permintaannya yang mendesak—sesungguhnya melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh Dasaratha? Bahwa kegelisahan Rama ini mungkin justru adalah persiapan bagi panggilan yang lebih besar?

Di balairung, Dasaratha mendengar semua ini dengan hati yang hancur. Di hadapannya, Wiswamitra masih berdiri dengan mata menyala. Vasistha telah berbicara tentang dharma.

  • ✣ Kini beban semakin berat: putranya sedang hancur, dan seorang maharsi menagih janji.
  • ✣ Dasaratha harus memutuskan. Namun apakah keputusan itu akan menyelamatkan Rama—atau justru menjadi awal dari perjalanan yang akan mengubah segalanya?

Ikuti terus. Karena di sinilah titik balik yang sesungguhnya: ketika kesedihan Rama dan permintaan Wiswamitra bertemu, takdir akan mengguncang Ayodhya.

❖ Kesedihan Rama
दशमः सर्गः वाल्मीकिरुवाच ।
तथा वसिष्ठे ब्रुवति राजा दशरथः सुतम् ।
संप्रहृष्टमना राममाजुहाव सलक्ष्मणम् ॥ १ ॥
daśamaḥ sargaḥ vālmīkir uvāca ,
tathā vasiṣṭhe bruvati rājā daśarathaḥ sutam ,
saṃprahṛṣṭamanā rāmamājuhāva salakṣmaṇam (1)
Terjemahan: 1. Valmiki berkata: Demikianlah (tathā) Vasistha (vasiṣṭhe) berbicara (bruvati) kepada raja (rājā) Dasaratha (daśarathaḥ) mengenai putranya (sutam);
Bersama Laksmana (sa-lakṣmaṇam) ia memanggil (ājuhāva) Rama (rāmam) dengan pikiran (manaḥ) yang sangat gembira (samprahṛṣṭa).
दशरथ उवाच ।
प्रतिहार महाबाहुं रामं सत्यपराक्रमम् ।
सलक्ष्मणमविघ्नेन पुण्यार्थं शीघ्रमानय ॥ २ ॥
daśaratha uvāca ,
pratihāra mahābāhuṃ rāmaṃ satyaparākramam ,
salakṣmaṇamavighnena puṇyārthaṃ śīghramānaya (2)
Terjemahan: 2. Dasaratha berkata: Berperilaku jujur (satya-parākramam) sang Rama (rāmaṃ) yang berlengan besar (mahā-bāhum) Wahai, penjaga pintu (pratihāra);
Bawalah (ānaya) dengan segera (śīghram) demi kebaikan (artham) berpahala (puṇya) tanpa halangan (avighnena) beserta Laksmana (sa-lakṣmaṇam).
इति राज्ञा विसृष्टोऽसौ गत्वान्तःपुरमन्दिरम् ।
मुहूर्तमात्रेणागत्य समुवाच महीपतिम् ॥ ३ ॥
iti rājñā visṛṣṭo'sau gatvāntaḥpuramandiram ,
muhūrtamātreṇāgatya samuvāca mahīpatim (3)
Terjemahan: 3. Ke kediaman (mandiram) istana (antaḥpuram) pergilah (gatvā) dia (asau) karena diutus (visṛṣṭaḥ) oleh raja (rājñā) demikian (iti);
Penguasa bumi (mahīpatim) bersabda (samuvāca) agar datang (āgatya) dalam waktu (ātreṇa) sejenak (muhūrtam).
देव दोर्दलिताशेषरिपो रामः स्वमन्दिरे ।
विमनाः संस्थितो रात्रौ षट्पदः कमले यथा ॥ ४ ॥
deva dordalitāśeṣaripo rāmaḥ svamandire ,
vimanāḥ saṃsthito rātrau ṣaṭpadaḥ kamale yathā (4)
Terjemahan: 4. Di istananya sendiri (sva-mandire) sang Rama (rāmaḥ) musuh (ripo) dari semua (aśeṣa) yang ditaklukkan (dalita) dengan lengan (dor) dewa (deva);
Bagaikan (yathā) bunga teratai (kamale) dengan seekor kumbang (ṣaṭpadaḥ) pada malam hari (rātrau) yang terdiam (saṃsthitaḥ) termenung (vimanaḥ).
आगच्छामि क्षणेनेति वक्ति ध्यायति चैकतः ।
न कस्यचिच्च निकटे स्थातुमिच्छति खिन्नधीः ॥ ५ ॥
āgacchāmi kṣaṇeneti vakti dhyāyati caikataḥ ,
na kasyacicca nikaṭe sthātumicchati khinnadhīḥ (5)
Terjemahan: 5. Dari satu sisi (ekataḥ) ia sedang merenung (dhyāyati) dan (ca) berkata (vakti) “demikian (iti) sesaat lagi (kṣaṇena) aku akan datang (āgacchāmi)”;
Pikiran (dhīḥ) yang sedih (khinna) ia menginginkan (icchati) untuk berada (sthātum) di samping (nikate) dan (ca) dengan siapa pun (kasyacit), tidak (na)?
इत्युक्तस्तेन भूपालस्तं रामानुचरं जनम् ।
सर्वमाश्वासयामास पप्रच्छ च यथाक्रमम् ॥ ६ ॥
ityuktastena bhūpālastaṃ rāmānucaraṃ janam ,
sarvamāśvāsayāmāsa papraccha ca yathākramam (6)
Terjemahan: 6. Demikianlah (iti) kepadanya (tena) diperintahkan (uktaḥ) itu (tam) oleh sang penguasa bumi (bhūpālaḥ) pengikut (anucaram) Rama (rāma) orang-orangnya (janam) ;
Secara berurutan (yathākramam) bertanya (papraccha) dan (ca) ia (āsa) berusaha menenangkan (āśvāsayām) semuanya (sarvam).
कथं कीदृग्विधो राम इति पृष्टो महीभृता ।
रामभृत्यजनः खिन्नो वाक्यमाह महीपतिम् ॥ ७ ॥
kathaṃ kīdṛgvidho rāma iti pṛṣṭo mahībhṛtā ,
rāmabhṛtyajanaḥ khinno vākyamāha mahīpatim (7)
Terjemahan: 7. Demikianlah (iti) bertanya (pṛṣṭaḥ) Penguasa bumi (mahībṛtā) “Rama (rāma) seperti apa (kīdṛgvidaḥ) dan bagaimana (katham)?”;
Kepada penguasa bumi (mahīpatim) mengucapkan (āha) kata-kata (vākyam) oleh yang masih sedih (khinnāḥ) yaitu orang-orang (janāḥ) para pengikut setia (bhṛtya) Rama (rāma).
देहयष्टिमिमां देव धारयन्त इमे वयम् ।
खिन्नाः खेदे परिम्लानतनौ रामे सुते तव ॥ ८ ॥
dehayaṣṭimimāṃ deva dhārayanta ime vayam ,
khinnāḥ khede parimlānatanau rāme sute tava (8)
Terjemahan: 8. Kami (vayam) inilah (ime) yang menopang (dhārayantaḥ) dewa (deva), inilah (imām) tiang penopang (yāṣṭim) tubuh (deha);
Anda (tava) yang berputra (sute) Rama (rāme) yang bertubuh (tanau) layu (parimlāna) oleh penderitaan (khede) dalam kesedihan (khinnāḥ).
रामो राजीवपत्राक्षो यतःप्रभृति चागतः ।
सविप्रस्तीर्थयात्रायास्ततःप्रभृति दुर्मनाः ॥ ९ ॥
rāmo rājīvapatrākṣo yataḥprabhṛti cāgataḥ ,
saviprastīrthayātrāyāstataḥprabhṛti durmanāḥ (9)
Terjemahan: 9. Setelah kedatangannya (gataḥ), semenjak (prabhṛti) saat itu (yataḥ) dan () yang bermata daun teratai (rājīvapatrākṣaḥ) Rama (rāmo);
Berhati sedih (durmanāḥ) semenjak (prabhṛti) dari sana (tataḥ) dari perjalanan ziarah ke tempat suci (tīrthayātrāyāḥ) bersama para brahmana (sa-vipraḥ).
यत्नप्रार्थनयास्माकं निजव्यापारमाह्निकम् ।
सोऽयमाम्लानवदनः करोति न करोति वा ॥ १० ॥
yatnaprārthanayāsmākaṃ nijavyāpāramāhnikam ,
so'yamāmlānavadanaḥ karoti na karoti vā (10)
Terjemahan: 10. Rutinitas (āhnikam) kegiatan (vyāpāram) hariannya (nija) kami (asmākam) memohon (prārthanayā) untuk diperhatikan (yatna);
Melakukan (karoti) atau () tidak (na) melakukan (karoti), dengan wajah (vadanāḥ) yang layu (āmlāna) ini (ayam) ia (saḥ).
स्नानदेवार्चनादानभोजनादिषु दुर्मनाः ।
प्रार्थितोऽपि हि नातृप्तेरश्नात्यशनमीश्वरः ॥ ११ ॥
snānadevārcanādānabhojanādiṣu durmanāḥ ,
prārthito'pi hi nātṛpteraśnātyaśanamīśvaraḥ (11)
Terjemahan: 11. Dengan murung (durmanāḥ) dalam hal seperti (ādiṣu) makan (bhojana), berderma (dāna) memuja dewa (devārcana) penyucian diri (snāna);
Sesungguhnya (hi) Wahai, penguasa (īśvaraḥ) makanan (aśanam) dimakan (aśnāti) sampai puas (ātṛpteḥ), tidak (na)? bahkan (api) setelah didesak (prārthitaḥ).
लोलान्तःपुरनारीभिः कृतदोलाभिरङ्गणे ।
नच क्रीडति लीलाभिर्धाराभिरिव चातकः ॥ १२ ॥
lolāntaḥpuranārībhiḥ kṛtadolābhiraṅgaṇe ,
naca krīḍati līlābhirdhārābhiriva cātakaḥ (12)
Terjemahan: 12. Di halaman (aṅgaṇe) berayun-ayun (dolābhiḥ) dengan (kṛta) para wanita (nārībhiḥ) istana (antaḥpura) yang bersuka ria (lolā);
Bagaikan (iva) burung cataka (cātakaḥ) yang dipermainkan (līlābhiḥ) tetesan air hujan (dhārābhiḥ) untuk bermain (krīḍati) juga (ca), tidak (na)?
माणिक्यमुकुलप्रोता केयूरकटकावलिः ।
नानन्दयति तं राजन्द्यौः पातविषयं यथा ॥ १३ ॥
māṇikyamukulaprotā keyūrakaṭakāvaliḥ ,
nānandayati taṃ rājandyauḥ pātaviṣayaṃ yathā (13)
Terjemahan: 13. Rangkaian (āvaliḥ) gelang tangan (kaṭaka), gelang lengan (keyūra) bertabur (protā) kuncup bunga (mukula) terbuat dari permata ruby (māṇikya);
Bagaikan (yathā) objek indera (viṣayam) yang runtuh (pāta) dari langit (dyauḥ) Wahai raja (rājan) itu (tam) membahagiakan (ānandayati), Tidak (na)?
क्रीडद्वधूविलोकेषु वहत्कुसुमवायुषु ।
लतावलयगेहेषु भवत्यतिविषादवान् ॥ १४ ॥
krīḍadvadhūvilokeṣu vahatkusumavāyuṣu ,
latāvalayageheṣu bhavatyativiṣādavān (14)
Terjemahan: 14. Hembusan angin (vāyuṣu) bunga (kusuma) yang mengalir (vahat) dalam pemandangan (vilokeṣu) para wanita muda (vadhū) yang sedang bermain (krīḍat);
Kesedihan teramat (viṣādavān) sangat (ati) ia dibuatnya (bhavati) di rumah (geheṣu) yang melengkung dari tanaman merambat (latāvalaya).
यद्द्रव्यमुचितं स्वादु पेशलं चित्तहारि च ।
बाष्पपूर्णेक्षण इव तेनैव परिखिद्यते ॥ १५ ॥
yaddravyamucitaṃ svādu peśalaṃ cittahāri ca ,
bāṣpapūrṇekṣaṇa iva tenaiva parikhidyate (15)
Terjemahan: 15. Memikat hati (cittahāri) dan (ca) indah (peśalam), lezat (svādu), berharga (ucitam), oleh objek-objek (dravyam) apapun (yad);
Bagaikan (iva) sungguh (eva) karenanya (tena) ia tenggelam dalam kesedihan (parikhidyate) dengan pandangan (īkṣaṇe) yang berlinang air mata (bāṣpapūrṇa).
किमिमा दुःखदायिन्यः प्रस्फुरन्तीः पुराङ्गनाः ।
इति नृत्तविलासेषु कामिनीः परिनिन्दति ॥ १६ ॥
kimimā duḥkhadāyinyaḥ prasphurantīḥ purāṅganāḥ ,
iti nṛttavilāseṣu kāminīḥ parinindati (16)
Terjemahan: 16. Para wanita (aṅganāḥ) istana (pura) yang lemah gemulai (prasphurantīḥ) justru menimbulkan (dāyinyaḥ) duka (duḥkha) ini (imāḥ) mengapa (kim)?
Demikianlah (iti) dalam gerakan anggun (vilāseṣu) tarian (nṛtta) para wanita yang mempesona (kāminīḥ) dikecam (parinindati).
भोजनं शयनं यानं विलासं स्नानमासनम् ।
उन्मत्तचेष्टित इव नाभिनन्दत्यनिन्दितम् ॥ १७ ॥
bhojanaṃ śayanaṃ yānaṃ vilāsaṃ snānamāsanam ,
unmattaceṣṭita iva nābhinandatyaninditam (17)
Terjemahan: 17. Duduk (āsanam), menyucikan diri (snānam), bersenang-senang (vilāsam) berjalam-jalan (yānam) tidur-tiduran (śayanam) makan-makan (bhojanam);
Bagaikan (iva) hal-hal yang tak tercela/rusak (aninditam) itu dinikmati (abhinandati), tidak(na)? Tingkah lakunya (ceṣṭita) tak terkendali (unmatta).
किं संपदा किं विपदा किं गेहेन किमिङ्गितैः ।
सर्वमेवासदित्युक्त्वा तूष्णीमेकोऽवतिष्ठते ॥ १८ ॥
kiṃ saṃpadā kiṃ vipadā kiṃ gehena kimiṅgitaiḥ ,
sarvamevāsadityuktvā tūṣṇīmeko'vatiṣṭhate (18)
Terjemahan: 18. Keinginan (iṅgitaiḥ) untuk apa (kim)? rumah (gehena) untuk apa (kim)? kemalangan (vipadā) untuk apa (kim)? kekayaan (sampadā) untuk apa (kim)?;
Demikianlah (iti), setelah berkata (uktvā),“Sungguh (eva) semuanya (sarvam) tidak nyata (asat)” sendiri (ekaḥ) membisu (tūṣṇīm) terdiam (avatiṣṭhate) .
नोदेति परिहासेषु न भोगेषु निमज्जति ।
न च तिष्ठति कार्येषु मौनमेवावलम्बते ॥ १९ ॥
nodeti parihāseṣu na bhogeṣu nimajjati ,
na ca tiṣṭhati kāryeṣu maunamevāvalambate (19)
Terjemahan: 19. Tenggelam (nimajjati) dalam kenikmatan (bhogeṣu), tidak (na)? Bahkan dalam canda (parihāseṣu) Ia bersukacita (udeti), tidak (na)?;
Sungguh (eva) hanya kesunyian (maunam) Ia bersandar (avalambate), pada aktivitas (kāryeṣu) Ia bertahan (tiṣṭhati) juga (ca), tidak (na)?
विलोलालकवल्लर्यो हेलावलितलोचनाः ।
नानन्दयन्ति तं नार्यो मृग्यो वनतरुं यथा ॥ २० ॥
vilolālakavallaryo helāvalitalocanāḥ ,
nānandayanti taṃ nāryo mṛgyo vanataruṃ yathā (20)
Terjemahan: 20. Mata (locanā) yang berputar (valita) dimain-mainkan (helā) bagai sulur (vallaryaḥ) rambut (alaka) yang bergelombang (vilolā);
Bagaikan (yathā) pohon (tarum) hutan (vana) yang dicari (mṛgyaḥ) oleh para wanita (nāryaḥ), dia (tam) menyenangkan (ānandayanti), tidak (na)?
एकान्तेषु दिगन्तेषु तीरेषु विपिनेषु च ।
रतिमायात्यरण्येषु विक्रीत इव जन्तुषु ॥ २१ ॥
ekānteṣu diganteṣu tīreṣu vipineṣu ca ,
ratimāyātyaraṇyeṣu vikrīta iva jantuṣu (21)
Terjemahan: 21. Di hutan (vipineṣu) dan (ca) di tepian (tīreṣu) di ujung-ujung penjuru (diganteṣu) di tempat-tempat yang sepi (ekānteṣu);
Bagaikan (iva) di antara makhluk hidup (jantuṣu) yang telah dijual (vikrītaḥ) di hutan belantara (araṇyeṣu) Ia memperoleh (āyāti) kesenangan (ratim).
वस्त्रपानाशनादानपराङ्मुखतया तया ।
परिव्राड्धर्मिणं भूय सोऽनुयाति तपस्विनम् ॥ २२ ॥
vastrapānāśanādānaparāṅmukhatayā tayā ,
parivrāḍdharmiṇaṃ bhūya so'nuyāti tapasvinam (22)
Terjemahan: 22. Oleh dia [wanita] (tayā) dengan sikap berpaling (parāṅmukha) dari pemberian (adāna) makanan (aśana) minuman (pāna) pakaian (vastra) terhadapnya [wanita] (tayā);
Menjadi seorang pertapa (tapasvinam) seolah-olah (anuyāti) ia (saḥ), lebih lanjut (bhūyaḥ) melaksanakan darma (dharmiṇam) seperti pertapa (parivrāṭ).
एक एव वसन्देशे जनशून्ये जनेश्वर ।
न हसत्येकया बुद्ध्या न गायति न रोदिति ॥ २३ ॥
eka eva vasandeśe janaśūnye janeśvara ,
na hasatyekayā buddhyā na gāyati na roditi (23)
Terjemahan: 23. Sungguh (eva) di suatu tempat (deśe) tinggal (vasan) yang sepi (śūnye) dari manusia (jana) penguasa manusia (janeśvara) seorang diri (ekaḥ);
Menangis (roditi), tidak (na)? menyanyi (gāyati), tidak (na)? pikirannya (buddhyā) satupun (ekayā) tertawa (hasati), Tidak (na)?
बद्धपद्मासनः शून्यमना वामकरस्थले ।
कपोलतलमाधाय केवलं परितिष्ठति ॥ २४ ॥
baddhapadmāsanaḥ śūnyamanā vāmakarasthale ,
kapolatalamādhāya kevalaṃ paritiṣṭhati (24)
Terjemahan: 24. Telapak (sthale) tangan (kare) kiri (vāma) dengan pikiran (manaḥ) kosong (śūnya) duduk dalam sikap padmasana (baddhapadmāsanaḥ);
Ia berdiam (paritiṣṭhati) semata-mata (kevalam) meletakkan (ādhāya) di permukaan (talam) pipi (kapola).
नाभिमानमुपादत्ते न च वाञ्छति राजताम् ।
नोदेति नास्तमायाति सुखदुःखानुवृत्तिषु ॥ २५ ॥
nābhimānamupādatte na ca vāñchati rājatām ,
nodeti nāstamāyāti sukhaduḥkhānuvṛttiṣu (25)
Terjemahan: 25. Kedaulatan (rājatām) ia menginginkan (vāñchati), tidak (na)? menganggap penting (upādattе) harga diri (abhimānam) juga (ca), tidak (na).
Dalam pergantian (anuvṛttiṣu) duka (duḥkha), suka (sukha), datang (āyāti) tenggelam (astam), tidak (na)? bangkit (udеti), tidak (na)?
न विद्मः किमसौ याति किं करोति किमीहते ।
किं ध्यायति किमायाति कथं किमनुधावति ॥ २६ ॥
na vidmaḥ kimasau yāti kiṃ karoti kimīhate ,
kiṃ dhyāyati kimāyāti kathaṃ kimanudhāvati (26)
Terjemahan: 26. Ia kehendaki (īhate) apa (kim) ia lakukan (karoti) apa (kim)? pergi (yāti) ia (asau) kemana (kim) ? kita tahu (vidmaḥ), tidak (na)?
Ia kejar (anudhāvati) apa (kim)? mengenai (katham) yang datang kepadanya (āyāti) apa (kim)? yang direnungkan (dhyāyati)apa (kim)?.
प्रत्यहं कृशतामेति प्रत्यहं याति पाण्डुताम् ।
विरागं प्रत्यहं याति शरदन्त इव द्रुमः ॥ २७ ॥
pratyahaṃ kṛśatāmeti pratyahaṃ yāti pāṇḍutām ,
virāgaṃ pratyahaṃ yāti śaradanta iva drumaḥ (27)
Terjemahan: 27. Dengan kepucatan (pāṇḍutām) Ia menjadi (yāti) setiap hari (pratyaham), ia menjadi (eti) semakin kurus (kṛśatām) setiap hari (pratyaham);
Bagaikan (iva) pohon (drumaḥ) pada akhir (ante) musim gugur (śarad) ia menjadi (yāti) setiap hari (pratyaham) tanpa gairah (virāgam).
अनुयातौ तथैवैतौ राजञ्छत्रुघ्नलक्ष्मणौ ।
तादृशावेव तस्यैव प्रतिबिम्बाविव स्थितौ ॥ २८ ॥
anuyātau tathaivaitau rājañchatrughnalakṣmaṇau ,
tādṛśāveva tasyaiva pratibimbāviva sthitau( 28)
Terjemahan: 28. Sungguh (eva) demikian (tathā) keduanya (etau) Laksmana dan Satrughna (lakṣmaṇa-śatrughnau) Wahai, raja (rājan) mengikuti (anuyātau);
Sungguh (eva) keduanya serupa (tādṛśau) sungguh (eva) dengan dirinya (tasya) bagaikan (iva) bayangan (pratibimba) yang tetap setia (sthitau).
भृत्यै राजभिरम्बाभिः संपृष्टोऽपि पुनः पुनः ।
उक्त्वा न किंचिदेवेति तूष्णीमास्ते निरीहितः ॥ २९ ॥
bhṛtyai rājabhirambābhiḥ saṃpṛṣṭo'pi punaḥ punaḥ ,
uktvā na kiṃcideveti tūṣṇīmāste nirīhitaḥ (29)
Terjemahan: 29. Berkali-kali (punaḥ punaḥ) bahkan (api) telah ditanya (saṃpṛṣṭaḥ) oleh para ibu (ambābhiḥ) oleh para raja (rājabhiḥ) oleh para pelayan (bhṛtyaiḥ);
Demikianlah (iti) sungguh (eva) sama sekali (kiṃcid) ia terdiam (āste) membisu (tūṣṇīm) tanpa keinginan (nirīhitaḥ), “tidak (na)” kemudian berkata (uktvā).
आपातमात्रहृद्येषु मा भोगेषु मनः कृथाः ।
इति पार्श्वगतं भव्यमनुशास्ति सुहृज्जनम् ॥ ३० ॥
āpātamātrahṛdyeṣu mā bhogeṣu manaḥ kṛthāḥ ,
iti pārśvagataṃ bhavyamanuśāsti suhṛjjanam (30)
Terjemahan: 30. Engkau tempatkan (kṛthāḥ) pikiran (manaḥ) pada kenikmatan duniawi (bhogeṣu) Janganlah () hanya menyenangkan (hṛdyeṣu) di pandangan pertama saja (āpātamātra);
Demikianlah (iti) yang berada (gatam) di sampingnya (pārśva), menasehati (anuśāsti) dengan baik (bhavyam) para sahabatnya (suhṛj-janam).
नानाविभवरम्यासु स्त्रीषु गोष्ठीगतासु च ।
पुरस्थितमिवास्नेहो नाशमेवानुपश्यति ॥ ३१ ॥
nānāvibhavaramyāsu strīṣu goṣṭhīgatāsu ca ,
purasthitamivāsneho nāśamevānupaśyati (31)
Terjemahan: 31. Dalam perkumpulan (goṣṭhīgataṣu) dan (ca) para wanita (strīṣu) yang memikat (ramyāsu) kekayaan (vibhava) dengan berbagai macam (nānā);
Bagaikan (iva) tanpa cinta (asnehaḥ) dari orang asing (purasthitam), sungguh (eva) ia melihat (anupaśyati) kehancuran (naśam).
नीतमायुरनायासपदप्राप्तिविवर्जितैः ।
चेष्टितैरिति काकल्या भूयोभूयः प्रगायति ॥ ३२ ॥
nītamāyuranāyāsapadaprāptivivarjitaiḥ ,
ceṣṭitairiti kākalyā bhūyobhūyaḥ pragāyati (32)
Terjemahan: 32. Terbebas (vivarjitaiḥ) dari pencapaian (prāpti) melangkah (pada) tanpa kemudahan (anāyasa) dalam menjalani (nītam) usia hidupnya (āyuḥ);
Demikian (iti) dengan tingkah laku (ceṣṭitaiḥ) demikian suara gagak (kākalya) ia terus-menerus (bhūyo-bhūyaḥ) menyanyi (pragāyati).
सम्राड्भवेति पार्श्वस्थं वदन्तमनुजीविनम् ।
प्रलपन्तमिवोन्मत्तं हसत्यन्यमना मुनिः ॥ ३३ ॥
samrāḍbhaveti pārśvasthaṃ vadantamanujīvinam ,
pralapantamivonmattaṃ hasatyanyamanā muniḥ (33)
Terjemahan: 33. Demikianlah (iti) “jadilah (bhavа) seorang maharaja (samrāṭ),” yang berada (stham) di samping (pārśva) para pengikutnya (anujīvinam) mereka berkata (vadantam);
Bagaikan (iva) orang gila (unmattam) yang meracau (pralapantam) dengan pikiran (manā) di tempat lain (anyā) ia tertawa (hasati) Wahai, muni (muniḥ).
न प्रोक्तमाकर्णयति ईक्षते न पुरोगतम् ।
करोत्यवज्ञां सर्वत्र सुसमेत्यापि वस्तुनि ॥ ३४ ॥
na proktamākarṇayati īkṣate na purogatam ,
karotyavajñāṃ sarvatra susametyāpi vastuni (34)
Terjemahan: 34. Yang ada di hadapannya (purogatam) ia memandang (īkṣate), tidak (na)? Ia mendengarkan (ākarṇayati) yang diucapkan (proktam), tidak (na)?;
Terhadap segala hal (vastuni) bahkan (api) tersusun (sameta) dengan baik (su) di segala tempat (sarvatra) dengan meremehkannya (avajñām) yang ia perbuat (karoti).
अप्याकाशसरोजिन्या अप्याकाशमहावने ।
इत्थमेतन्मन इति विस्मयोऽस्य न जायते ॥ ३५ ॥
apyākāśasarojinyā apyākāśamahāvane ,
itthametanmana iti vismayo'sya na jāyate (35)
Terjemahan: 35. Hutan besar (mahāvane) di angkasa (ākāśa) meskipun (api), Taman teratai (sarojinyā) di angkasa (ākāśa) meskipun (api);
Demikianlah (ittham)pikiran (manaḥ) ini (etat), sedemikian (iti) baginya (asya) perasaan takjub (vismayaḥ) tidak (na) muncul ( jāyate).
कान्तामध्यगतस्यापि मनोऽस्य मदनेषवः ।
न भेदयन्ति दुर्भेद्यं धारा इव महोपलम् ॥ ३६ ॥
kāntāmadhyagatasyāpi mano'sya madaneṣavaḥ ,
na bhedayanti durbhedyaṃ dhārā iva mahopalam (36)
Terjemahan: 36. Panah-panah (iṣavaḥ) mandana [dewa-cinta] (madanа) dari pikiran (manaḥ) nya (asya) bahkan (api) yang berada di pangkuan (madhуa gatasya) adalah kekasihnya (kāntāyāḥ);
Bagaikan (iva) batu besar (mahopalam) oleh tetesan air (dhārāḥ) yang tak tertembus (durbhedyam) dapat menembusnya (bhedayanti), tidak (na)?
आपदामेकमावासमभिवाञ्छसि किं धनम् ।
अनुशिष्येति सर्वस्वमर्थिने संप्रयच्छति ॥ ३७ ॥
āpadāmekamāvāsamabhivāñchasi kiṃ dhanam ,
anuśiṣyeti sarvasvamarthine saṃprayacchati (37)
Terjemahan: 37. Kekayaan (dhana) untuk apa (kim)? Engkau menginginkan (abivāñchasi) tempat tinggal (āvāsam) yang satu-satunya (ekam) kemalangan (āpadām);
Demikian (iti) “terimalah (anuśiṣya).” kepada peminta (arthine) seluruh miliknya (sarvasvam) ia menyerahkannya (saṃprayacchati).
इयमापदियं संपदित्येवं कल्पनामयः ।
मनसोऽभ्युदितो मोह इति श्लोकान्प्रगायति ॥ ३८ ॥
iyamāpadiyaṃ saṃpadityevaṃ kalpanāmayaḥ ,
manaso'bhyudito moha iti ślokānpragāyati (38)
Terjemahan: 38. Demikianlah (iti) seperti inilah (evaṃ) kemakmuran (sampad), dari bentuk-bentuk ilusi (kalpanāmayaḥ) ini (yam), kemalangan (āpad) ini (iyam);
Demikianlah (iti) ia menyanyikan (pragāyati) syair-syair (ślokān) tentang delusi (mohaḥ) yang muncul (abhyuditaḥ) dari pikiran (manaḥ).
हा हतोऽहमनाथोऽहमित्याक्रन्दपरोऽपि सन् ।
न जनो याति वैराग्यं चित्रमित्येव वक्त्यसौ ॥ ३९ ॥
hā hato'hamanātho'hamityākrandaparo'pi san ,
na jano yāti vairāgyaṃ citramityeva vaktyasau (39)

Terjemahan: 39. Demikianlah (iti) meskipun (api) sangat sibuk (paraḥ) meratap (ākranda) aku (aham) tak berdaya (anāthaḥ), Aku (aham) hancur (hataḥ) begitu (san), “Aduh ()!;
Demikianlah (iti) sungguh (eva) aneh (citram), ia (asau) berkata (vakti), “ketidak kemelekatan/ vairagya (vairāgyam) bisa dicapai (yāti) oleh manusia (janaḥ) tidak (na)?.
रघुकाननशालेन रामेण रिपुघातिना ।
भृशमित्थं स्थितेनैव वयं खेदमुपागताः ॥ ४० ॥
raghukānanaśālena rāmeṇa ripughātinā ,
bhṛśamitthaṃ sthitenaiva vayaṃ khedamupāgatāḥ (40)
Terjemahan: 40. Pembunuh (ghātinā) musuh (ripu) Sang Rama (rāmeṇa), pohon Sala (śālena) hutan (kānana) bagi keturunan Raghu (raghukā);
Sungguh (eva) berat (sthitena) kami (vayam) mengalami (upāgatāḥ) kesedihan (khedam) sedemikian (ittham) menjadi amat sangat (bhṛśam).
न विद्मः किं महाबाहो तस्य तादृशचेतसः ।
कुर्मः कमलपत्राक्ष गतिरत्र हि नो भवान् ॥ ४१ ॥
na vidmaḥ kiṃ mahābāho tasya tādṛśacetasaḥ ,
kurmaḥ kamalapatrākṣa gatiratra hi no bhavān( 41)
Terjemahan: 41. Dengan pikiran (cetasā) yang demikian (tādṛśa) baginya (tasya) Wahai, yang berlengan perkasa (mahābāho) apakah (kim)? Kami mengetahui (vidmaḥ), tidak (na)?;
Sesungguhnya (hi) bagi kami (naḥ) Engkau (bhavān) di sini (atra) adalah pelindung (gatiḥ) Wahai, yang bermata kelopak teratai (kamalapatrākṣa) yang kami perbuat (kurmаḥ).
राजानमथवा विप्रमुपदेष्टारमग्रतः ।
हसत्यज्ञमिवाव्यग्रः सोऽवधीरयति प्रभो ॥ ४२ ॥
rājānamathavā vipramupadeṣṭāramagrataḥ ,
hasatyajñamivāvyagraḥ so'vadhīrayati prabho (42)
Terjemahan: 42. Di hadapan (agrataḥ) yang memberikan nasehat (upadeṣṭāram) brahmana (vipram) atau (athavā) raja (rājānam);
Bagaikan (iva) tanpa kegelisahan (avyagraḥ) orang bodoh (ajñam) ia tertawa (hasati) merendahkan (avadhīrayati) nya (saḥ), wahai Penguasa (prabho).
यदेवेदमिदं स्फारं जगन्नाम यदुत्थितम् ।
नैतद्वस्तु नचैवाहमिति निर्णीय संस्थितः ॥ ४३ ॥
yadevedamidaṃ sphāraṃ jagannāma yadutthitam ,
naitadvastu nacaivāhamiti nirṇīya saṃsthitaḥ (43)
Terjemahan: 43. Sungguh (eva) ini (idam) apa pun (yad), ini (idam) yang tampak luas (sphāram) bernama (nāma) dunia (jagat), yang telah membangkitkan (utthitam) apa pun (yad);
Sungguh (eva) aku (aham) demikian (iti) dan (ca) tidak (na) memutuskannya (nirṇīya) dengan mantap (saṃsthitaḥ) realitas sejati (vastu) ini (etat), tidak (na)?
नारौ नात्मनि नो मित्रे न राज्ये न च मातरि ।
न संपदा न विपदा तस्यास्था न विभो बहिः ॥ ४४ ॥
nārau nātmani no mitre na rājye na ca mātari ,
na saṃpadā na vipadā tasyāsthā na vibho bahiḥ (44)
Terjemahan: 44. Pada ibu (mātari), tidak? (na) pada kerajaan (rājye) dan (ca) pada sahabat (mitre), tidak (na)? pada diri sendiri (ātmani), tidak (na) pada orang lain (arau) tidak (na?);
Pada hal eksternal (bahiḥ) Wahai, Penguasa (vibho), tidak (na)? Baginya (āsthā) kemelekatan (tasya) pada kemalangan (vipadā), tidak (na) pada kemakmuran (sampadā), tidak (na)?.
निरस्तास्थो निराशोऽसौ निरीहोऽसौ निरास्पदः ।
न मूढो न च मुक्तोऽसौ तेन तप्यामहे भृशम् ॥ ४५ ॥
nirastāstho nirāśo'sau nirīho'sau nirāspadaḥ ,
na mūḍho na ca mukto'sau tena tapyāmahe bhṛśam (45)
Terjemahan: 45. Tanpa tempat (nirāspadaḥ), dia (asau) tanpa daya (nirīhaḥ), dia (asau) tanpa harapan (nirāśaḥ), tanpa kemelekatan (nirastāsthaḥ);
Sungguh (bhṛśam) kami menderita (tapyāmahe) oleh karena itu (tena) dia (asau) terbebaskan (muktaḥ) dan (ca) bukan (na) orang bodoh (mūḍhaḥ), tidak (na).?
किं धनेन किमम्बाभिः किं राज्येन किमीहया ।
इति निश्चयवानन्तः प्राणत्यागपरः स्थितः ॥ ४६ ॥
kiṃ dhanena kimambābhiḥ kiṃ rājyena kimīhayā ,
iti niścayavānantaḥ prāṇatyāgaparaḥ sthitaḥ (46)
Terjemahan: 46. Keinginan (īhayā) untuk apa (kim)? kerajaan (rājyena) untuk apa (kim)? para ibu (ambābhiḥ) untuk apa (kim) kekayaan (dhanena) untuk apa (kim);
Demikianlah (iti), di dalam batin (antaḥ) disertai tekad bulat (niścayavān) siap (paraḥ) untuk meninggalkan kehidupan (prāṇatyāga) ia telah mantap (sthitaḥ).
भोगेऽप्यायुषि राज्येषु मित्रे पितरि मातरि ।
परमुद्वेगमायातश्चातकोऽवग्रहे यथा ॥ ४७ ॥
bhoge'pyāyuṣi rājyeṣu mitre pitari mātari ,
paramudvegamāyātaścātako'vagrahe yathā (47)
Terjemahan: 47. Pada Ibu (mātari), pada ayah (pitari), pada sahabat (mitre), pada kerajaan (rājyeṣu), pada usia hidup (āyuṣi), bahkan (api) kenikmatan duniawi (bhoge);
Bagaikan (yathā) dalam penantian (avagrаhe) burung cātaka (cātakaḥ) timbul (āyātaḥ) kegelisahan (udvegam) yang mendalam (param).
इति तोके समायातां शाखाप्रसरशालिनीम् ।
आपत्तामलमुद्धर्तुं समुदेतु दयापरः ॥ ४८ ॥
iti toke samāyātāṃ śākhāprasaraśālinīm ,
āpattāmalamuddhartuṃ samudetu dayāparaḥ (48)
Terjemahan: 48. Demikianlah (iti) pada putra (toke) yang telah datang (samāyātām), seperti cabang pohon (śākhā) yang berkembang (prasara) merambah (śālinīm);
Wahai, yang penuh welas asih (dayāparaḥ) hendaknya bangkit (samudetu) untuk menyelamatkan (uddhartum) dengan kesanggupan (alam) keadaan bahaya (āpattām).
तस्य तादृक्स्वभावस्य समग्रविभवान्वितम् ।
संसारजालमाभोगि प्रभो प्रतिविषायते ॥ ४९ ॥
tasya tādṛksvabhāvasya samagravibhavānvitam ,
saṃsārajālamābhogi prabho prativiṣāyate (49)
Terjemahan: 49. Dilengkapi (anvitam) dengan kemewahan (vibhava) segalanya (samagra) yang memiliki sifat (svabhāvasya) demikian (tādṛk) baginya (tasya);
Menentang objek-objek rasa (prativiṣāyate) Wahai, Penguasa (prabho) yang menikmati (ābhogi) telah terjaring (jālam) oleh dunia ini (saṃsāra).
ईदृशः स्यान्महासत्त्वः क इवास्मिन्महीतले ।
प्रकृते व्यवहारे तं यो निवेशयितुं क्षमः ॥ ५० ॥
īdṛśaḥ syānmahāsattvaḥ ka ivāsminmahītale ,
prakṛte vyavahāre taṃ yo niveśayituṃ kṣamaḥ (50)
Terjemahan: 50. Bagaikan (iva) di permukaan bumi ini (asmin mahītale) siapa (kaḥ) makhluk agung (mahāsattvaḥ) yang mungkin ada (syāt) seperti ini (īdṛśaḥ);
Sanggup (kṣamaḥ) mengarahkan (niveśayitum) siapa (yaḥ) dia itu (tam) ? urusan duniawi (vyavahāre) dalam kenyataanya (prakṛte).
मनसि मोहमपास्य महामनाः सकलमार्तितमः किल साधुताम् ।
सफलतां नयतीह तमो हरन् दिनकरो भुवि भास्करतामिव ॥ ५१ ॥
manasi mohamapāsya mahāmanāḥ sakalamārtitamaḥ kila sādhutām ,
saphalatāṃ nayatīha tamo haran dinakaro bhuvi bhāskaratāmiva (51)
Terjemahan: 51. Menuju kesucian (sādhutām) konon (kila) kegelapan (tamaḥ) penderitaan (ārti) semuanya (sakalam), Sang jiwa agung (mahāmanāḥ) setelah mengusir (apāsya) kebingungan (moham) dalam pikirannya (manasi);
Bagaikan (iva) membawa cahaya (bhāskaratām) ke bumi (bhuvi) matahari (dinakaraḥ) dengan menghancurkan (haraṇ) kegelapan (tamo) membawa (nayatīha) kesuksesan (saphalatām).

✎ᝰ Catatan Esoteris…

Adegan ini adalah momen transisi Rama dari manusiawi ke Rama Awatara. Pen-deritaan batin (visada) yang digambarkan secara rinci merupakan proses nirveda (kekecewaan mendalam) dan vairagya yang mendahului pencerahan dan tin-dakan dharma besar. Ini adalah “kematian” simbolis dari identitas pribadi (jiva) sebelum “kelahiran” kembali sebagai instrumen ilahi. Raja Dasaratha, kemudian memanggilnya, tidak lagi memanggil seorang anak yang sedih, tetapi membuka pintu bagi manifestasi penuh dari prinsip Rama (kesadaran dharma) ke dalam arena dunia.

💡 Tekan dan tahan tombol untuk melihat judul halaman

Komentar

FF Aditya Wahyudi
FF ADITYA WAHYUDI

Penulis spiritual yang mendalami Tantra, Jyotisha, dan Ayurveda. Melalui JejakTantra, saya berbagi sari pati manuskrip kuno dan pengalaman batin untuk membantu Anda menemukan makna sejati kehidupan. Selamat menjelajahi kedalaman diri.

"Menyebarkan pengetahuan adalah bagian dari persembahan (Yadnya) yang saya jalani dengan penuh syukur. Jika tulisan di Jejak Tantra telah memberikan manfaat dalam perjalanan batin Anda, Anda dapat memberikan dukungan sukarela untuk menjaga ruang berbagi ini agar tetap mandiri."

☕ Apresiasi Ruang Berbagi

(Apresiasi Anda membantu operasional & keaslian konten blog ini)

Postingan populer dari blog ini

Mantra: Kekuatan Perlindungan Pikiran dan Pencerahan

Materi Tantrik: Kunci Memahami Keragaman Spiritualitas

Menguak Sejarah Tantra Sebagai Sistem Pemikiran Spiritual