Featured Post

Vairagya Prakarana: Bab 15 Kecaman terhadap Egoisme

Gambar
Musuh Abadi yang Bernama "Aku" ⎯ Vairagya Prakarana — Bab 15 Kecaman terhadap Egoisme — "Aku" adalah musuh abadi yang paling licik. Bukan di luar sana, bukan pada orang lain—melainkan pada keyakinan bahwa kita adalah entitas terpisah yang harus dilindungi dan dipuaskan. Di sinilah Rama membongkar akar penderitaan sejati: ke-aku-an yang berpura-pura menjadi diri.

Vairagya Prakarana: Bab 11 Penghiburan Rama

Ketika Dua Maharesi Bersatu Membangkitkan Jiwa ⎯
Vairagya Prakarana: Bab 11 Penghiburan Rama

Vairagya Prakarana

— Bab 11 Penghiburan Rama —
Senjata terkuat tidak selalu terbuat dari baja. Terkadang ia hadir sebagai kata-kata bijak yang membangunkan jiwa yang tertidur. Dua maharesi agung kini bersatu—bukan untuk melawan raksasa, melainkan untuk membangkitkan Rama dari kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Rama akhirnya hadir di balairung. Namun kehadirannya bukanlah kedatangan seorang pangeran yang penuh semangat. Ia melangkah bagaikan matahari yang terbit dari balik gunung—perlahan, agung, namun diselimuti awan kesunyian. Dasaratha memeluknya erat, mencium kepalanya berulang kali, seolah takut putranya akan lenyap begitu saja.

Namun Wiswamitra dan Vasistha tidak tinggal diam...

Wiswamitra adalah orang pertama yang memecah keheningan. Dengan suara yang tenang namun penuh wibawa, ia berkata kepada Dasaratha dan para menteri:

  • "Bawalah Rama ke sini. Bukan karena nafsu, bukan karena bahaya, kebingungan ini tidak layak bagi Raghupati. Sesungguhnya, ini adalah kebangkitan besar dari pencerahan—yang lahir dari ketidakmelekatan dan kebijaksanaan membedakan."

Ia melanjutkan dengan keyakinan yang tak tergoyahkan...

  • "Kami akan menghilangkan kebingungannya, bagaikan angin yang menyingkirkan awan tebal dari puncak gunung. Dengan metode pemurnian, ia akan memperoleh ketenangan, kedamaian, kebijaksanaan, kegembiraan, dan kejujuran. Ia akan meminum amerta dan merasakan kelimpahannya."

Wiswamitra meramalkan bahwa Rama akan hidup tanpa terputus dalam perilaku yang terhormat, dengan pikiran yang utuh. Ia akan mengetahui tinggi rendahnya dunia, menyamakan emas, batu, dan gumpalan tanah—terbebas dari keadaan duka dan suka.

Vasistha kemudian menambahkan dengan nada yang lembut namun menusuk kesadaran...

  • "Wahai putra, engkau adalah teladan segala kebaikan. Kebijaksanaan membedakan telah kau peroleh. Lepaskan dirimu dalam kedukaan dengan pikiran yang usang dan tumpul? Tidak. Dilaksanakan oleh orang sepertimu, diajarkan oleh para guru dan brahmana bijak—dengan mengejar kebingungan, kedudukan suci tidak akan pernah kau raih."

Ia mengingatkan bahwa bahaya akan tetap berada jauh dan lemah selama kebingungan tidak dibiarkan menyebar. "Musuh-musuh indria ini," kata Vasistha, "bahkan yang sulit diatasi, telah kau taklukkan. Mengapa engkau tenggelam dalam samudra kebodohan yang digulung ombak bergelora?"

Wiswamitra kembali bertanya dengan tegas...

  • "Kegelisahan matamu yang serupa deretan bunga teratai biru bergoyang—engkau bingung karena apa? Katakanlah alasanmu melepaskan yang diciptakan oleh pikiran itu. Siapa mereka, para penderitaan batin itu? Seberapa besar? Dengan apa mereka bekerja? Seperti perampok yang merusak rumah, mereka merusak pikiranmu."

Ia kemudian menegur dengan kasih yang keras...

  • "Engkau adalah kedudukan tertinggi, tidak pantas bagi penderitaan-penderitaan yang bahkan sampai terhina sekalipun tidak berguna bagimu, apalagi dalam kesulitan. Ucapkanlah keinginanmu, dan engkau akan memperolehnya. Semua penyebab penderitaan akan hancur—tetapi penderitaan batin tidak akan kembali lagi."
"Dua maharesi agung, dua suara yang berbeda namun searah—telah berbicara.
Wiswamitra dengan ketegasannya yang membara, Vasistha dengan kebijaksanaannya yang menyejukkan. "

Namun pertanyaannya tetap menggantung...

  • Apakah kata-kata mereka cukup untuk membangkitkan Rama dari kebingungan yang telah lama menyelimuti jiwanya?
  • Dan yang lebih penting: kesedihan seperti apa yang mampu membuat seorang yang kelak dikenal sebagai inkarnasi kebijaksanaan ini terdiam begitu lama?

Valmiki menyaksikan semua ini dari kejauhan. Dan ia mencatat bahwa Rama, yang mendengar semua ucapan itu—bagaikan seekor merak di musim hujan yang mendengar gemuruh awan—akhirnya meninggalkan kesedihannya.

Rama tersenyum...

Bukan senyuman kemenangan, bukan pula senyuman kepasrahan. Ia adalah senyuman yang lahir dari pengertian yang dalam—bahwa apa yang selama ini ia cari, ternyata tidak pernah jauh. Bahwa kegelisahan yang membungkamnya bukanlah musuh, melainkan pintu.

Kini, dengan hati yang mulai jernih, Rama siap mendengar—dan mungkin, untuk pertama kalinya, siap menjawab panggilan yang selama ini menunggu.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Rama akan menerima permintaan Wiswamitra? Atau akankah keraguan kembali menyelimuti hatinya?

Ikuti terus. Karena pertemuan di balairung Ayodhya ini hanyalah awal dari perjalanan yang akan mengubah segalanya—bagi Rama, bagi Dasaratha, dan bagi dunia yang kelak akan dikisahkan sepanjang zaman.

❖ Penghiburan Rama
विश्वामित्र उवाच ।
एवं चेत्तन्महाप्राज्ञा भवन्तो रघुनन्दनम् ।
इहानयन्तु त्वरिता हरिणं हरिणा इव ॥ १ ॥
viśvāmitra uvāca ,
evaṃ cettanmahāprājñā bhavanto raghunandanam ,
ihānayantu tvaritā hariṇaṃ hariṇā iva (1)
Terjemahan: 1. Vishvamitra berkata: Demikian (evam) yang sangat bijaksana (mahāprājñā) ini (tan) juga (cet) Wahai, tuan-tuan (bhavantaḥ) yang Sang penyejuk dinasti Raghu [Rama] (raghunandanam);
Bagaikan (iva) rusa (hariṇāḥ) oleh rusa (hariṇam) segera (tvaritāḥ) bawalah (ānayantu) ke sini (iha).
एष मोहो रघुपतेर्नापद्भ्यो न च रागतः ।
विवेकवैराग्यवतो बोध एव महोदयः ॥ २ ॥
eṣa moho raghupaternāpadbhyo na ca rāgataḥ ,
vivekavairāgyavato bodha eva mahodayaḥ (2)
Terjemahan: 2. Karena nafsu (rāgataḥ), tidak (na)? dan (ca) dari bahaya (āpadbhyaḥ) terhadap Raghupati-Rama (raghupateḥ) kebingungan (mohaḥ), tidak (na) ini (eṣah);
Sesungguhnya (eva) kebangkitan besar (mahodayaḥ) dari pencerahan (bodhaḥ) bagi yang memiliki (vataḥ) yang memiliki ketidakmelekatan (vairāgyavataḥ) kebijaksanaan membedakan (viveka).
इहायातु क्षणाद्राम इह चैव वयं क्षणात् ।
मोहं तस्यापनेष्यामो मारुतोऽद्रेर्घनं यथा ॥ ३ ॥
ihāyātu kṣaṇādrāma iha caiva vayaṃ kṣaṇāt ,
mohaṃ tasyāpaneṣyāmo māruto'drerghanaṃ yathā (3)
Terjemahan: 3. Sungguh (eva) dan (ca) kami (vayam) segera (kṣaṇāt) ke sini (iha) Rama (rāma) segera (kṣaṇāt) hendaknya datang (āyātu) ke sini (iha);
Bagaikan (yathā) awan tebal (ghanam) dari gunung (adreḥ) tertiup angin (mārutaḥ) kami akan menghilangkan (apanesyāmaḥ) nya (tasya) dari kebingungan (moham).
एतस्मिन्मार्जिते युक्त्या मोहे स रघुनन्दनः ।
विश्रान्तिमेष्यति पदे तस्मिन्वयमिवोत्तमे ॥ ४ ॥
etasminmārjite yuktyā mohe sa raghunandanaḥ ,
viśrāntimeṣyati pade tasminvayamivottame (4)
Terjemahan: 4. Raghunandanah [Rama] (raghunandanaḥ) dia (saḥ) kebingungan (mohe), melalui metode (yuktyā) pemurnian (mārjite) dalam hal ini (etasmim);
Bagaikan (iva) keutamaan (uttame) kami (vayam) dalam hal itu (tasmin), pada tingkat (pade) memperoleh (eṣyati) ketenangan (viśrāntim).
सत्यतां मुदितां प्रज्ञां विश्रान्तिमपतापताम् ।
पीनतां वरवर्णत्वं पीतामृत इवैष्यति ॥ ५ ॥
satyatāṃ muditāṃ prajñāṃ viśrāntimapatāpatām ,
pīnatāṃ varavarṇatvaṃ pītāmṛta ivaiṣyati (5)
Terjemahan: 5. Ketiadaan penderitaan (ap-atāpatām): adalah kedamaian (viśrāntim), kebijaksanaan (prajñām) kegembiraan (muditām) kejujuran (satyatām);
Bagaikan (iva) memperoleh (eṣyati) amerta (amṛta) yang diminum (pīta), penuh warna (varṇatvam) terbaik (vara) yang berkelimpahan (pīnatām).
निजां च प्रकृतामेव व्यवहारपरम्पराम् ।
परिपूर्णमना मान्य आचरिष्यत्यखण्डितम् ॥ ६ ॥
nijāṃ ca prakṛtāmeva vyavahāraparamparām ,
paripūrṇamanā mānya ācariṣyatyakhaṇḍitam (6)
Terjemahan: 6. Sungguh (eva) rangkaian (paramparām) mengikuti kodrat (prakṛtām) berperilaku (vyavahāra) dan (ca) menjadi diri sendiri (nijām);
Tanpa terputus (akhaṇḍitam) dalam prilakunya (ācariṣyati) menjadi terhormat (mānyaḥ) dengan pikiran (manāḥ) yang utuh (paripūrṇa).
भविष्यति महासत्त्वो ज्ञातलोकपरावरः ।
सुखदुःखदशाहीनः समलोष्टाश्मकाञ्चनः ॥ ७ ॥
bhaviṣyati mahāsattvo jñātalokaparāvaraḥ ,
sukhaduḥkhadaśāhīnaḥ samaloṣṭāśmakāñcanaḥ (7)
Terjemahan: 7. Rendah (avara) tinggi (para) dunia (loka) yang mengetahui (jñāta) makhluk agung (mahāsattvaḥ) akan hadir (bhaviṣyati);
Emas (kāñcana), batu (aśma) gumpalan tanah (loṣṭa) disamakan (sama) terbebas (hīnaḥ) dari keadaan (daśā) duka (duḥkha) suka (sukha).
इत्युक्ते मुनिनाथेन राजा संपूर्णमानसः ।
प्राहिणोद्राममानेतुं भूयो दूतपरम्पराम् ॥ ८ ॥
ityukte munināthena rājā saṃpūrṇamānasaḥ ,
prāhiṇodrāmamānetuṃ bhūyo dūtaparamparām (8)
Terjemahan: 8. Demikian (iti) disampaikan (ukte) oleh pemimpin para muni (munināthena) raja (rājā) pikirannya (mānasaḥ) telah mantap (saṃpūrṇa);
Serangkaian (paramparām) utusan (dūta) sekali lagi (bhūyaḥ) untuk membawa (ānetum) Rama (rāma) Ia mengutus (prāhiṇot).
एतावताथ कालेन रामो निजगृहासनात् ।
पितुः सकाशमागन्तुमुत्थितोऽर्क इवाचलात् ॥ ९ ॥
etāvatātha kālena rāmo nijagṛhāsanāt ,
pituḥ sakāśamāgantumutthito'rka ivācalāt (9)
Terjemahan: 9. Dari tempat duduknya (āsanāt) di rumahnya (gṛha) sendiri (nija) Rama (rāmo) beberapa waktu (kālena) kemudian (atha) berselang (etāvatā);
Bagaikan (iva) dari gunung (acalāt) matahari (arkaḥ) yang terbit (utthitaḥ) untuk datang (āgantum) ke hadapan (sakāśam) Ayahnya (pituḥ).
वृतः कतिपयैर्भृत्यैर्भ्रातृभ्यां च जगाम ह ।
तत्पुण्यं स्वपितुः स्थानं स्वर्गं सुरपतेरिव ॥ १० ॥
vṛtaḥ katipayairbhṛtyairbhrātṛbhyāṃ ca jagāma ha ,
tatpuṇyaṃ svapituḥ sthānaṃ svargaṃ surapateriva (10)
Terjemahan: 10. Kemudian (ha) ia pergi (jagāma) oleh kedua saudaranya (bhrātubhyām), oleh pelayan (bhṛtyaiḥ) yang seberapa (katipayaiḥ) dan (ca) ditemani (vṛtaḥ);
Bagaikan (iva) milik raja para dewa (surapateḥ) surga (svargam) kediaman (sthānam) milik ayah (svapituḥ) yang penuh kebajikan (puṇyam) itu (tat).
दूरादेव ददर्शासौ रामो दशरथं तदा ।
वृतं राजसमूहेन देवौघेनेव वासवम् ॥ ११ ॥
dūrādeva dadarśāsau rāmo daśarathaṃ tadā ,
vṛtaṃ rājasamūhena devaugheneva vāsavam (11)
Terjemahan: 11. Sebenarnya (eva) dari jauh (dūrāt) dia (asau) bisa melihat (dadarśa) Rama (rāmo), Dasaratha (daśaratham) pada saat itu (tadā);
Bagaikan (iva) oleh kumpulan (augha) para dewa (deva) Sang Vasava [Indera] (vāsavam) oleh sekumpulan (samūhena) raja (rāja) yang menemani (vṛtam).
वसिष्ठविश्वामित्राभ्यां सेवितं पार्श्वयोर्द्वयोः ।
सर्वशास्त्रार्थतज्ज्ञेन मन्त्रिवृन्देन मालितम् ॥ १२ ॥
vasiṣṭhaviśvāmitrābhyāṃ sevitaṃ pārśvayordvayoḥ ,
sarvaśāstrārthatajjñena mantrivṛndena mālitam (12)
Terjemahan: 12. Di kedua (dvayoḥ) sisinya (pārśvayoḥ) diiringi (sevitam) oleh keduanya Vishvamitra dan Vasistha (vasiṣṭha-viśvāmitrābhyām);
Dikelilingi oleh (mālitaḥ) sekelompok para menteri (mantrivṛndena) mereka yang memahami (tajjñena) makna pengetahuan (artha) sastra (śāstra) seluruhnya (sarva).
चारुचामरहस्ताभिः कान्ताभिः समुपासितम् ।
ककुब्भिरिव मूर्ताभिः संस्थिताभिर्यथोचितम् ॥ १३ ॥
cārucāmarahastābhiḥ kāntābhiḥ samupāsitam ,
kakubbhiriva mūrtābhiḥ saṃsthitābhiryathocitam (13)
Terjemahan: 13. Dilayani (samupāsitam) oleh para wanita cantik (kāntābhiḥ) Dengan tangan (hastābhiḥ) menggerakan kipas (cāmara) indah (cāru);
Bagaikan (iva) penjuru mata angin (kakubhbhiḥ) yang berwujud (mūrtābhiḥ) sebagaimana mestinya (yathocitam) mereka ditempatkan (saṃsthitābhiḥ).
वसिष्ठविश्वामित्राद्यास्तथा दशरथादयः ।
ददृशू राघवं दूरादुपायान्तं गुहोपमम् ॥ १४ ॥
vasiṣṭhaviśvāmitrādyāstathā daśarathādayaḥ ,
dadṛśū rāghavaṃ dūrādupāyāntaṃ guhopamam (14)
Terjemahan: 14. Demikian pula (tathā) yang lainnya (ādayaḥ) Vishvamitra (viśvāmitra) Vasistha (vasiṣṭha), yang lainnya (ādayaḥ) Dasaratha (daśaratha);
Bagaikan (upamam) gua (guha) yang datang mendekat (upayāntam) dari kejauhan (dūrāt) Raghava (Rama) mereka melihat (dadṛśūḥ).
सत्त्वावष्टब्धगर्भेण शल्येनेव हिमाचलम् ।
श्रितं सकलसेव्येन गम्भीरेण स्फुटेन च ॥ १५ ॥
sattvāvaṣṭabdhagarbheṇa śalyeneva himācalam ,
śritaṃ sakalasevyena gambhīreṇa sphuṭena ca (15)
Terjemahan: 15. Bagaikan (iva) puncak (śalyeṇa) Himalaya (himācalam) dengan inti (garbheṇa) yang berdiri kokoh (avaṣṭabdha) oleh kemurnian (sattva);
Nyata (sphuṭena) karena kedalamannya (gambhīreṇa) dan (ca) yang layak (sevyena) bagi semua (sakala) menjadi sandaran (śritam).
सौम्यं समं शुभाकारं विनयोदारमानसम् ।
कान्तोपशान्तवपुषं परस्यार्थस्य भाजनम् ॥ १६ ॥
saumyaṃ samaṃ śubhākāraṃ vinayodāramānasam ,
kāntopaśāntavapuṣaṃ parasyārthasya bhājanam (16)
Terjemahan: 16. Pikiran (manasam) luhur (udāra) rendah hati (vinaya) rupawan (śubhākāram) seimbang (samam) penuh ketenangan (saumyam);
Wadah (bhājanam) bagi tujuan (arthasya) orang lain (parasya) berpenampilan (vapuṣam) rupawan (kānta) dan tenang (upaśānta).
समुद्यद्यौवनारम्भं वृद्धोपशमशोभनम् ।
अनुद्विग्नमनानन्दं पूर्णप्रायमनोरथम् ॥ १७ ॥
samudyadyauvanārambhaṃ vṛddhopaśamaśobhanam ,
anudvignamanānandaṃ pūrṇaprāyamanoratham (17)
Terjemahan: 17. Indah (śobhanam) dengan ketenangan (upaśama) yang matang (vṛddha) permulaan (ārambham) masa mudanya (yauvana) yang sedang berkembang (samudyat);
Keinginan hati (manoratham) yang hampir (prāyam) terpenuhi (pūrṇa) penuh kebahagiaan (ānandam) pikiran (mana) tidak gelisah (anudvignam).
विचारितजगद्यात्रं पवित्रगुणगोचरम् ।
महासत्त्वैकलोभेन गुणैरिव समाश्रितम् ॥ १८ ॥
vicāritajagadyātraṃ pavitraguṇagocaram ,
mahāsattvaikalobhena guṇairiva samāśritam (18)
Terjemahan: 18. Berpengalaman (gocaram) oleh kualitas (guṇa) yang murni (pavitra) perjalanan (yātrām) dunia (jagat) yang telah direnungkan (vicārita);
Bagaikan (iva) kualitas-kualitas (guṇaiḥ) yang bernaung (samāśritam) dengan satu-satunya (eka) kerinduan (lobhena) pada kekuatan luhur (mahāsattva).
उदारमार्यमापूर्णमन्तःकरणकोटरम् ।
अविक्षुभितया वृत्त्या दर्शयन्तमनुत्तमम् ॥ १९ ॥
udāramāryamāpūrṇamantaḥkaraṇakoṭaram ,
avikṣubhitayā vṛttyā darśayantamanuttamam (19)
Terjemahan: 19. Rongga (koṭaram) hati nurani (antaḥkaraṇa) yang penuh (āpūrṇam), terhormat (āryam), dan mulia (udāram);
Keunggulan (anuttamam) memperlihatkan (darśayantam) dengan perilaku (vṛttyā) yang tenang (avikṣubhitayā).
एवङ्गुणगणाकीर्णो दूरादेव रघूद्वहः ।
परिमेयस्मिताच्छाच्छस्वहाराम्बरपल्लवः ॥ २० ॥
evaṅguṇagaṇākīrṇo dūrādeva raghūdvahaḥ ,
parimeyasmitācchācchasvahārāmbarapallavaḥ (20)
Terjemahan: 20. Valmiki berkata: Sungguh (eva) dari kejauhan (dūrāt) penopang dinasti Raghu [Rama] (raghūdvahaḥ) dipenuhi (ākīrṇaḥ) kumpulan (gaṇa) kualitas (guṇa) yang demikian (evam);
Membalut (pallavaḥ) sebagai pakaian (ambara) penghias diri (svahāra) yang murni (accha) dengan senyuman (smita) tipis (parimeya).
प्रणनाम चलच्चारुचूडामणिमरीचिना ।
शिरसा वसुधाकम्पलोलदेवाचलश्रिया ॥ २१ ॥
praṇanāma calaccārucūḍāmaṇimarīcinā ,
śirasā vasudhākampaloladevācalaśriyā (21)
Terjemahan: 21. Dengan cahaya (marci-na) dari permata di mahkota (cūḍāmaṇi) yang indah (cāru) berkilau (cala), Ia bersujud (pranānāma);
Keagungan (śriyā) gunung para dewa (devācala) yang bergetar (lola) karena gempa (kampа) bumi (vasudhā) dengan menggunakan kepala (śirasā).
एवं मुनीन्द्रे ब्रुवति पितुः पादाभिवन्दनम् ।
कर्तुमभ्याजगामाथ रामः कमललोचनः ॥ २२ ॥
evaṃ munīndre bruvati pituḥ pādābhivandanam ,
kartumabhyājagāmātha rāmaḥ kamalalocanaḥ (22)
Terjemahan: 22. Kemudian (evam) pemimpin para muni (munīndre) berkata (bruvati) kepada ayahnya (pituḥ) untuk melakukan penghormatan (abhi-vandanam) kaki (pādau);
Yang bermata teratai (kamalalocanaḥ) Rama (rāmaḥ) kemudian (atha) ia mendekat (abhyājagāma) untuk melaksanakannya (kartum).
प्रथमं पितरं पश्चान्मुनी मान्यैकमानितौ ।
ततो विप्रांस्ततो बन्धूंस्ततो गुरुगणान्सुहृत् ॥ २३ ॥
prathamaṃ pitaraṃ paścānmunī mānyaikamānitau ,
tato viprāṃstato bandhūṃstato gurugaṇānsuhṛt (23)
Terjemahan: 23. Keduanya yang sangat dihormati (eka-mānitau) dan dimuliakan (mānya) kepada sang muni (munī) kemudian (paścāt) kepada ayah (pitaram) pertama-tama (prathamam);
Lalu (tataḥ) kepada para sahabat (suhṛt) dan kepada kelompok (gaṇān) para guru (guru) lalu (tataḥ) kepada para kerabat (bandhūn) lalu (tataḥ) kepada para brahmana (viprān).
जग्राह च ततो दृष्ट्या मनाङ्मूर्ध्ना तथा गिरा ।
राजलोकेन विहितां तां प्रणामपरम्पराम् ॥ २४ ॥
jagrāha ca tato dṛṣṭyā manāṅmūrdhnā tathā girā ,
rājalokena vihitāṃ tāṃ praṇāmaparamparām (24)
Terjemahan: 24. Demikian pula (tathā) kata-kata (girā) kepala (mūrdhnā) sedikit menunduk (manāk) dengan tatapan mata (dṛṣṭyā) kemudian (tataḥ) Ia menerimanya (jagrāha) juga (ca);
Rangkaian (paramparām) penghormatan (praṇāmа) itu (tāṃ) yang telah di tetapkan (vihitām) oleh pandangan [aturan] kerajaan (rājalokena).
विहिताशीर्मुनिभ्यां तु रामः सुसममानसः ।
आससाद पितुः पुण्यं समीपं सुरसुन्दरः ॥ २५ ॥
vihitāśīrmunibhyāṃ tu rāmaḥ susamamānasaḥ ,
āsasāda pituḥ puṇyaṃ samīpaṃ surasundaraḥ (25)
Terjemahan: 25. Dengan berpikiran (manāsaḥ) tenang (susama) Rama (rāmaḥ) oleh (tu) para muni (munibhyām) diberikann doa-doa yang baik (āśīḥ) direstui (vihita);
Serupawan (sundaraḥ) dewa (sura) ke sisi (samīpam) yang penuh pahala (puṇyam) ayahnya (pituḥ) Ia menghampiri (āsasāda).
पादाभिवन्दनपरं तमथासौ महीपतिः ।
शिरस्यभ्यालिलिङ्गाशु चुचुम्ब च पुनःपुनः ॥ २६ ॥
pādābhivandanaparaṃ tamathāsau mahīpatiḥ ,
śirasyabhyāliliṅgāśu cucumba ca punaḥpunaḥ (26)
Terjemahan: 26. Penguasa bumi (mahīpatiḥ) ia (asau) kemudian (atha) kepadanya (tam) mendahulukan (param) penghormatan kaki (pādābhi-vandanam);
berulang kali (punah punah) menciumnya (cucumba) dan (ca) segera (āśu) memeluk erat (abhyāliliṅga) di kepala (śirasya).
शत्रुघ्नं लक्ष्मणं चैव तथैव परवीरहा ।
आलिलिङ्ग घनस्नेहो राजहंसोऽम्बुजे यथा ॥ २७ ॥
śatrughnaṃ lakṣmaṇaṃ caiva tathaiva paravīrahā ,
āliliṅga ghanasneho rājahaṃso'mbuje yathā (27)
Terjemahan: 27. Sungguh (eva) dan (ca) sungguh (iva) demikian (tatha) sang pembasmi musuh [Bharata] (paravīra-hā) Laksmana (lakṣmaṇaṃ), Satrughna (śatrughnaṃ);
Bagaikan (yathā) bunga teratai (ambuje) sang raja angsa (rājahaṃsaḥ) dengan kasih sayang (snehaḥ) mendalam (ghana) ia memeluknya (āliliṅga).
उत्सङ्गे पुत्र तिष्ठेति वदत्यथ महीपतौ ।
भूमौ परिजनास्तीर्णे सोंऽशुकेऽथ न्यविक्षत ॥ २८ ॥
utsaṅge putra tiṣṭheti vadatyatha mahīpatau ,
bhūmau parijanāstīrṇe soṃ'śuke'tha nyavikṣata (28)
Terjemahan: 28. “Demikanlah (iti) duduklah (tiṣṭha),” begitulah (atha) berkata (vadati) Sang penguasa bumi (mahīpatau). “Wahai Putra (putra) di pangkuanku (utsaṅge)”;
Kemudian (atha) di atas kain [amsuka] (aṃśuke) dia (sah) duduklah (nyavikṣata) yang telah dihampar (stīrṇe) oleh para pelayan (parijanaiḥ) di tanah (bhūmau).
राजोवाच ।
पुत्र प्राप्तविवेकस्त्वं कल्याणानां च भाजनम् ।
जडवज्जीर्णया बुद्ध्या खेदायात्मा न दीयताम् ॥ २९ ॥
rājo uvāca ,
putra prāptavivekastvaṃ kalyāṇānāṃ ca bhājanam ,
jaḍavajjīrṇayā buddhyā khedāyātmā na dīyatām (29)
Terjemahan: 29. Raja berkata: Contoh teladan (bhājanam) dari segala kebaikan (kalyāṇānām) dan (ca) engkau (tvam) kebijaksanaan pembeda (viveka) telah diperoleh (prāpta) Wahai, Putra (putra);
Lepaskanlah (dīyatām), tidak (na)? diri (ātmā) dalam kedukaan (khedāya) pikiran (buddhyā) yang telah usang (jīrṇayā) dan tumpul (jaḍavat).
वृद्धविप्रगुरुप्रोक्तं त्वादृशेनानुतिष्ठता ।
पदमासाद्यते पुण्यं न मोहमनुधावता ॥ ३० ॥
vṛddhavipraguruproktaṃ tvādṛśenānutiṣṭhatā ,
padamāsādyate puṇyaṃ na mohamanudhāvatā (30)
Terjemahan: 30. Dilaksanakan (anutiṣṭhatā) oleh orang sepertimu (tvādṛśena) diajarkan (proktam) oleh para guru (guru) para brahmana bijak (vṛddha-vipra),;
Dengan mengejar (anudhāvatā) kebingungan (moham) suci (puṇyam) bukan (na) maka diperoleh (āsādyate) kedudukan (padam).
तावदेवाऽऽपदो दूरे तिष्ठन्ति परिपेलवाः ।
यावदेव न मोहस्य प्रसरः पुत्र दीयते ॥ ३१ ॥
tāvadevā'pado dūre tiṣṭhanti paripelavāḥ ,
yāvadeva na mohasya prasaraḥ putra dīyate (31)
Terjemahan: 31. Sungguh (eva) bahaya (āpadaḥ) sejauh itu (tāvat) masih (tiṣṭhanti) cukup jauh (dūre) dan lemah (paripelavāḥ);
Sungguh (eva) sejauh itu (yāvat) kebingungan (mohasya), tidak (na)? menyebar (prasaraḥ) oleh putra (putra) dibiarkan (dīyate).
श्रीवसिष्ठ उवाच ।
राजपुत्र महाबाहो शूरस्त्वं विजितास्त्वया ।
दुरुच्छेदा दुरारम्भा अप्यमी विषयारयः ॥ ३२ ॥
śrīvasiṣṭha uvāca ,
rājaputra mahābāho śūrastvaṃ vijitāstvayā ,
durucchedā durārambhā apyamī viṣayārayaḥ (32)
Terjemahan: 32. Sri Vasistha berkata: Olehmu (tvayā) telah ditaklukkan (vijitaḥ) engkau (tvam) adalah pahlawan (śūraḥ) yang berlengan perkasa (mahābāho) Wahai, pangeran (rājaputra);
Musuh-musuh (arayaḥ) indria (viṣaya) ini (amī) bahkan (api) yang sulit diatasi (durārambhāḥ) sulit dihentikan (durucchhedāḥ).
किमतज्ज्ञ इवाज्ञानां योग्ये व्यामोहसागरे ।
विनिमज्जसि कल्लोलबहुले जाड्यशालिनि ॥ ३३ ॥
kimatajjña ivājñānāṃ yogye vyāmohasāgare ,
vinimajjasi kallolabahule jāḍyaśālini (33)
Terjemahan: 33. Bagaikan (iva) kebodohan (ajñānām) yang layak (yogyе) oleh kebingungan (vyāmoha) di samudra (sāgare) dengan tidak memahami (atatjña) apa (kim)?;
Penuh (śālini) dengan kebodohan (jāḍya) digulung (bahule) oleh ombak yang bergelora (kallola) engkau tenggelam (vinimajjasi) ?
विश्वामित्र उवाच चलन्नीलोत्पलव्यूहसमलोचनलोलताम् ।
ब्रूहि चेतःकृतां त्यक्त्वा हेतुना केन मुह्यसि ॥ ३४ ॥
viśvāmitra uvāca, calannīlotpalavyūhasamalocanalolatām ,
brūhi cetaḥkṛtāṃ tyaktvā hetunā kena muhyasi (34)
Terjemahan: 34. Vishvamitra berkata: Kegelisahan (lolatām) mata (locana) serupa (sama) deretan (vyūha) bunga teratai biru (nīlotpala) yang bergoyang (calat);
Engkau bingung (muhyasi) dengan apakah (kena)? Dengan alasan (hetunā) melepaskan (tyaktvā) yang diciptakan (kṛtām) oleh pikiran (cetaḥ), katakanlah (brūhi)?
किंनिष्ठाः के च ते केन कियन्तः कारणेन ते ।
आधयः प्रविलुम्पन्ति मनो गेहमिवाखवः ॥ ३५ ॥
kiṃniṣṭhāḥ ke ca te kena kiyantaḥ kāraṇena te ,
ādhayaḥ pravilumpanti mano gehamivākhavaḥ (35)
Terjemahan: 35. Mereka (te) penyebabnya (kāraṇena) sejauh mana (kiyantaḥ)? dengan apa (kena) mereka (te)? siapakah (ke) dan (ca) dasar mereka (niṣṭhāḥ) apa (kiṃ)? ;
Bagaikan (iva) merampok (ākhavaḥ) rumah (geham) pikiran (mano) merusak (pravilumpanti) penderitaan batin (ādhayaḥ).
मन्ये नानुचितानां त्वमाधीनां पदमुत्तमम् ।
आपत्सु चाऽप्रयोज्यं ते निहीना अपि चाधयः ॥ ३६ ॥
manye nānucitānāṃ tvamādhīnāṃ padamuttamam ,
āpatsu cā'prayojyaṃ te nihīnā api cādhayaḥ (36)
Terjemahan: 36. Meninggikan (uttamam) kedudukan (padam) dari penderitaan-penderitaan (ādhīnām) mu (tvam) adalah sepantasnya (anucitānām), tidak (na)? Aku berpikir (manye);
Penderitaan (ādhayaḥ) bahkan (api) sampai terhina (nīhīnāḥ) dan (ca) bagimu (te) tidaklah (a) berguna (prayojyam) dan (ca) menyusahkan (āpatsu).
यथाभिमतमाशु त्वं ब्रूहि प्राप्स्यसि चानघ ।
सर्वमेव पुनर्येन भेत्स्यन्ते त्वां तु नाधयः ॥ ३७ ॥
yathābhimatamāśu tvaṃ brūhi prāpsyasi cānagha ,
sarvameva punaryena bhetsyante tvāṃ tu nādhayaḥ (37)
Terjemahan: 37. Seperti (yathā) keinginan (abhimatam) segera (āśu), engkau (tvam) ucapkanlah (brūhi) dan (ca) akan memperoleh (prāpsyasi-Hūṃ Phat) Wahai, yang tak ternoda (anagha);
Sungguh (eva) semuanya (sarvam) oleh sebab (yena) akan kembali lagi (punar) mereka akan menghancurkan (bhetsyante) engkau (tvām) tetapi (tu) bukan (na) penderitaan batin (adhayaḥ).
इत्युक्तमस्य सुमते रघुवंशकेतुराकर्ण्य वाक्यमुचितार्थविलासगर्भम् ।
तत्याज खेदमभिगर्जति वारिवाहे बर्ही यथा त्वनुमिताभिमतार्थसिद्धिः ॥ ३८ ॥
ityuktamasya sumate raghuvaṃśaketurākarṇya vākyamucitārthavilāsagarbham ,
tatyāja khedamabhigarjati vārivāhe barhī yathā tvanumitābhimatārthasiddhiḥ (38)
Terjemahan: 38. Valmiki berkata: Demikian (iti) yang disampaikan (uktam) olehnya (asya) yang berpikiran baik (sumate) setelah mendengarkan (ākarṇya) sang panji (ketuḥ) dinasti Raghu (raghuvaṃśa) dengan mengandung (garbham) keindahan (vilāsa) makna (artha) yang sesuai (ucita) ucapan (vākyam);
Bagaikan (yathā) pencapaian (siddhiḥ) tujuan (artha) apa yang diinginkan (abhimata) setelah dipahami (anumita) engkau (tvam) seekor merak (barhī) pada musim hujan datang (vārivāhe) yang bergemuruh (abhigarjati) kesedihannya (khedam) ia kemudian tinggalkan (tatyāja).

✎ᝰ Catatan Esoteris…

Adegan ini merupakan inisiasi diam-diam. Rama, yang telah mencapai vairagya dan viveka melalui penderitaan batinnya, selanjutnya secara resmi diperkenalkan ke dalam misi kosmisnya oleh tiga otoritas, cinta ayah (Dasaratha), pengetahuan murni (Vasistha), dan kekuatan spiritual terapan (Wiswamitra). Kondisi “Moha”-nya bukanlah halangan, melainkan kualifikasi. Bukan lagi sebagai pangeran yang rapuh, tetapi sosok mahasattva yang kokoh siap bertindak.

Wiswamitra, sebagai guru yang sempurna, tidak menghakimi penderitaannya, melainkan mengenalinya sebagai gejala kebangkitan spiritual dan menjanjikan transformasi total. Saat Rama duduk di pangkuan ayahnya, sebenarnya ia telah melampaui peran sebagai “putra”dan siap berdiri sebagai instrumen dharma di bawah bimbingan langsung kekuatan kosmis (Wiswamitra).

💡 Tekan dan tahan tombol untuk melihat judul halaman

Komentar

FF Aditya Wahyudi
FF ADITYA WAHYUDI

Penulis spiritual yang mendalami Tantra, Jyotisha, dan Ayurveda. Melalui JejakTantra, saya berbagi sari pati manuskrip kuno dan pengalaman batin untuk membantu Anda menemukan makna sejati kehidupan. Selamat menjelajahi kedalaman diri.

"Menyebarkan pengetahuan adalah bagian dari persembahan (Yadnya) yang saya jalani dengan penuh syukur. Jika tulisan di Jejak Tantra telah memberikan manfaat dalam perjalanan batin Anda, Anda dapat memberikan dukungan sukarela untuk menjaga ruang berbagi ini agar tetap mandiri."

☕ Apresiasi Ruang Berbagi

(Apresiasi Anda membantu operasional & keaslian konten blog ini)

Postingan populer dari blog ini

Mantra: Kekuatan Perlindungan Pikiran dan Pencerahan

Materi Tantrik: Kunci Memahami Keragaman Spiritualitas

Menguak Sejarah Tantra Sebagai Sistem Pemikiran Spiritual