Vairagya Prakarana: Bab 14 Menurunnya Nilai Kehidupan Manusia
Vairagya Prakarana
Rama tidak berhenti pada kritiknya terhadap kemakmuran. Kini ia mengarahkan perenungannya pada sesuatu yang lebih mendasar—lebih dekat—lebih personal: usia, kehidupan, dan kefanaan.
Ia pergi tanpa sebab, meninggalkan jasad seperti orang gila yang meninggalkan rumahnya tanpa alasan."
Ia mengamati bagaimana penderitaan muncul: "Pikiran telah usang sepenuhnya, terikat pada racun ular-ular yang bernama objek indria. Penyebab penderitaan kehidupan ini adalah kebijaksanaan pembeda—viveka—yang belum matang. Kita belum benar-benar mampu membedakan yang abadi dari yang fana, sehingga kita terjerat dalam kekalutan."
Namun bagi mereka yang telah mencapai tempat di mana yang harus diketahui telah diketahui, bagi mereka yang telah beristirahat dalam pemahaman—kehidupan justru menjadi ketenangan. Bukan lagi beban, bukan lagi teka-teki, melainkan aliran kesadaran yang jernih.
Dan apa arti hidup di dunia yang bagaikan gumpalan kilat di awan? Sekejap, lalu lenyap."
Ia menantang logika manusia yang berusaha menggenggam kehidupan: "Memotong langit, membungkus angin—apakah itu mungkin? Maka samalah halnya dengan harapan kita untuk merangkai gelombang kehidupan yang terus bergerak. Di musim gugur, awan menghilang dengan sendirinya. Lampu tanpa minyak akan padam. Kesadaran bahwa sesuatu telah berlalu baru muncul setelah ia pergi—seperti getaran gelombang yang kita sadari setelah air kembali tenang."
Lalu Rama mengajukan pertanyaan yang paling mendasar: Apa bedanya manusia dengan makhluk lain?
Namun apakah itu yang disebut kehidupan sejati?
Seseorang tidak hidup dengan sekadar bernapas.
Ia hidup jika pikirannya hidup.
Jika tidak,
ia hanyalah keledai renta yang dilahirkan di dunia ini berulang kali tanpa pernah benar-benar sadar."
Ia kemudian menyatakan sebuah kebenaran yang pahit: "Pengetahuan bagi mereka yang dikuasai oleh nafsu—bukanlah pengetahuan, melainkan beban. Kitab suci bagi mereka yang tidak bijaksana—bukanlah petunjuk, melainkan beban. Tubuh bagi mereka yang tidak mengenal diri—bukanlah kendaraan, melainkan beban. Pikiran bagi mereka yang tidak tenang—bukanlah alat, melainkan beban."
Ia melihat kematian sebagai kucing yang mengintai tikus—selalu mengawasi, selalu siap menerkam. Usia senja adalah raksasa pemakan yang perlahan melahap makanan yang disebut kehidupan. Masa muda adalah teman yang cepat bosan—ia akan meninggalkan kita seperti orang baik meninggalkan durjana yang tak berbudi.
Dan pada puncak perenungannya, Rama menyatakan dengan jujur...
Ia terlepas dari segala kualitas yang kita banggakan.
Setiap napas adalah langkah menuju akhir.
Setiap detik adalah kesempatan yang sekaligus merupakan ancaman."
Balairung Ayodhya menjadi sunyi. Bukan keheningan yang nyaman, melainkan keheningan yang memaksa setiap orang yang mendengarnya untuk bertanya pada diri sendiri:
Apa arti semua ini?
- ✣ Dasaratha, sang ayah, mendengar putranya berbicara tentang kematian dengan ketenangan yang mengerikan. Ia yang selama ribuan tahun memerintah kerajaan, yang mengumpulkan kekayaan dan kekuasaan, tiba-tiba merasa segala sesuatu yang ia bangun hanyalah menara di atas pasir.
- ✣ Wiswamitra mendengar dengan mata setengah terpejam. Ia mengenali suara ini—bukan suara kesedihan, melainkan suara kebijaksanaan yang mulai bangkit dari tidurnya yang panjang.
- Vasistha tersenyum. Ia tahu bahwa ini bukanlah akhir dari kegelisahan Rama, melainkan permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
- ✣ Sebab belum ada jawaban. Hanya perenungan. Hanya pertanyaan. Hanya kesadaran bahwa segala yang kita genggam erat-erat—kekayaan, kemakmuran, bahkan kehidupan itu sendiri—adalah tetesan air di ujung daun.
- ✣ Pertanyaannya tetap: lalu apa yang harus diperbuat? Apakah bunuh diri adalah jawabannya? Apakah penolakan total terhadap dunia? Ataukah ada jalan lain—jalan yang tidak pernah dibayangkan oleh mereka yang hanya melihat kematian sebagai akhir?
Wiswamitra, yang telah mendengar cukup, kini akan membuka suara. Dan apa yang akan ia katakan mungkin menjadi titik balik yang paling menentukan dalam hidup Rama.
Ikuti terus.
आयुः पल्लवकोणाग्रलम्बाम्बुकणभङ्गुरम् ।
उन्मत्तमिव संत्यज्य यात्यकाण्डे शरीरकम् ॥ १ ॥
unmattamiva saṃtyajya yātyakāṇḍe śarīrakam (1)
Bagaikan (iva) kegilaan (unmattam) meninggalkan (saṃtyajya) tanpa sebab (akāṇḍe) yang berlalu (yāti) dari jasad (śarīrakam).
अप्रौढात्मविवेकानामायुरायासकारणम् ॥ २ ॥
aprauḍhātmavivekānāmāyurāyāsakāraṇam (2)
Penyebab (kāraṇam) penderitaan (āyāsa) kehidupan(āyuḥ) adalah kebijaksanaan pembeda (viveka) diri (ātma) yang belum matang (aprauḍha).
भावाभावसमाश्वासमायुस्तेषां सुखायते ॥ ३ ॥
bhāvābhāvasamāśvāsamāyusteṣāṃ sukhāyate (3)
Menjadi kebahagiaan (sukhāyate) bagi mereka (teṣām), kehidupan (māyuḥ) ketenangan (samāśvāsa), ketiadaan (abhāva), keberadaan (bhāva).
संसाराभ्रतडित्पुञ्जे मुने नायुषि निर्वृताः ॥ ४ ॥
saṃsārābhrataḍitpuñje mune nāyuṣi nirvṛtāḥ (4)
Kepuasan (nirvṛtāḥ) dalam hidup (ayuṣi), tidak (na)? Wahai, Muni (mune) gumpalan (puñje) kilat (taḍit) dari awan (abhra) dunia (saṃsāra).
ग्रथनं च तरङ्गाणामास्था नायुषि युज्यते ॥ ५ ॥
grathanaṃ ca taraṅgāṇāmāsthā nāyuṣi yujyate (5)
Mungkin dilakukan (yujyate) dalam hidup (ayuṣi), tidak (na)? harapan (āsthā) adalah gelombang (taraṅgāṇām) yang merangkai (grathanam) juga (ca).
तरङ्गक इवालोलं गतमेवोपलक्ष्यते ॥ ६ ॥
taraṅgaka ivālolaṃ gatamevopalakṣyate (6)
Bagaikan (iva) baru disadari (upalakṣyate) sungguh (eva) setelah berlalu (gatam) oleh getaran (alolam) gelombang (taraṅgakaḥ).
ग्रहीतुमास्थां बध्नामि न त्वायुषि हतस्थितौ ॥ ७ ॥
grahītumāsthāṃ badhnāmi na tvāyuṣi hatasthitau (7)
Kondisi (sthitau) binasa (hata) dari kehidupan (āyuṣi) adapun (tu), tidak (na)?aku tambatkan (baddhnāmi) harapan (āsthām) untuk meraih (grahītum).
दुःखायैव विमूढोऽन्तर्गर्भमश्वतरी यथा ॥ ८ ॥
duḥkhāyaiva vimūḍho'ntargarbhamaśvatarī yathā (8)
Bagaiakan (yathā) kuda betina (aśvatarī) yang sedang mengandung (antar garbham) kebodohan (vimūḍhaḥ) sungguh (eva) menuju penderitaan (duḥkhāya).
कायवल्लयाम्भसो ब्रह्मञ्जीवितं मे न रोचते ॥ ९ ॥
kāyavallayāmbhaso brahmañjīvitaṃ me na rocate (9)
Menyenangkan (rocate), tidak (na)? bagiku (me) kehidupan (jīvitam) Wahai Brahmana (brahman), cairan (ambhasaḥ) yang membungkus (vallayā) tubuh (kāya).
पराया निर्वृतेः स्थानं यत्तज्जीवितमुच्यते ॥ १० ॥
parāyā nirvṛteḥ sthānaṃ yattajjīvitamucyate (10)
Dikatakan (ucyate) sebagai kehidupan (jīvitam) itu (tat) yang (yat) keadaan (sthānam) oleh nirvrti [ketenangan, kebebasan, moksa] (nirvṛteḥ) tertinggi (parāyāḥ).
स जीवति मनो यस्य मननेन न जीवति ॥ ११ ॥
taravo'pi hi jīvanti jīvanti mṛgapakṣiṇaḥ , sa jīvati mano yasya mananena na jīvati (11)
Hidup (jīvati) tidak (na) dengan perenungan (mananena) olehnya (yasya), pikiran (manaḥ) yang hidup (jīvati) dia ini (sa).
ये पुनर्नेह जायन्ते शेषा जरठगर्दभाः ॥ १२ ॥
ye punarneha jāyante śeṣā jaraṭhagardabhāḥ (12)
Keledai (gardabhāḥ) yang renta (jaratha) sisanya (śeṣāḥ) dilahirkan (jāyante) di sini (iha) tidak (na) kembali (punar) mereka (ye).
अशान्तस्य मनो भारो भारोऽनात्मविदो वपुः ॥ १३ ॥
aśāntasya mano bhāro bhāro'nātmavido vapuḥ (13)
Tubuh (vapuḥ) bagi yang tidak mengenal diri (anātmavidaḥ) adalah beban (bhāraḥ), adalah beban (bhāraḥ) pikiran (manaḥ) bagi yang tidak tenang (aśāntasya).
भारो भारधरस्येव सर्वं दुःखाय दुर्धियः ॥ १४ ॥
bhāro bhāradharasyeva sarvaṃ duḥkhāya durdhiyaḥ (14)
Bagaikan (iva) bagi pemikul beban (bhāradharasya) keseluruhan (sarvam), penderitaan (duḥkhāya) bagi yang berpikiran (dhiyaḥ) buruk (dur) adalah beban (bhāraḥ).
नीडं रोगविहङ्गानामायुरायासनं दृढम् ॥ १५ ॥
nīḍaṃ rogavihaṅgānāmāyurāyāsanaṃ dṛḍham (15)
Sekokoh (dṛḍham) tempat duduk (āyāsanam) kehidupan (āyur) burung-burung (vihangānām) penyakit (roga) bersarang (nīḍam).
आखुनेव जरच्छुभ्रं कालेन विनिहन्यते ॥ १६ ॥
ākhuneva jaracchubhraṃ kālena vinihanyate (16)
Bagaikan (iva) oleh tikus (ākhuḥ) yang memutih (cchubhram) karena kerentaan (jarat) oleh waktu (kālena) dihancurkan (vinihanyate).
रोगैरापीयते रौद्रैर्व्यालैरिव वनानिलः ॥ १७ ॥
rogairāpīyate raudrairvyālairiva vanānilaḥ (17)
Bagaikan (iva) ular-ular (vyālaiḥ) ganas (raudraiḥ), angin hutan (vanānilaḥ) dilahap (āpīyate) oleh penyakit (rogaiḥ).
दुःखैरावृश्च्यते क्रूरैर्घुणैरिव जरद्द्रुमः ॥ १८ ॥
duḥkhairāvṛścyate krūrairghuṇairiva jaraddrumaḥ (18)
Bagaikan (iva) oleh rayap (ghuṇaiḥ) ganas (krūraiḥ) pada pohon (drumaḥ) tua (jarat) yang digerogoti (āvṛścyate) oleh penderitaan (duḥkhaiḥ).
आखुर्मार्जारकेणेव मरणेनावलोक्यते ॥ १९ ॥
ākhurmārjārakeṇeva maraṇenāvalokyate (19)
Bagaikan (iva) oleh kucing (mārjāraka) kepada tikus (ākhuḥ) pandangan (avalokyate) kematian (maraṇena).
अन्नं महाशनेनेव जरया परिजीर्यते ॥ २० ॥
annaṃ mahāśaneneva jarayā parijīryate (20)
Bagaikan (iva) oleh raksasa pemakan (mahāśanena) usia senja (jarayā) sedang melahap (parijīryate) makanan (annam).
दुर्जनः सुजनेनेव यौवनेनावमुच्यते ॥ २१ ॥
durjanaḥ sujaneneva yauvanenāvamucyate (21)
Bagaikan (iva) orang baik (sujanena) ditinggalkan (avamucyate) oleh masa mudanya (yauvаnena) yang tidak berbudi (durjanaḥ).
रूपं खिङ्गवरेणेव कृतान्तेनाभिलष्यते ॥ २२ ॥
rūpaṃ khiṅgavareṇeva kṛtāntenābhilaṣyate (22)
Bagaikan (iva) kecerdikan (vareṇa) bangau (khiṅga) diincar (abhilaṣyate) oleh Krtanta [nama lain untuk Yama, dewa kematian] (kṛtāntena) yang berwujud (rūpam).
जगति नास्ति तथा गुणवर्जितं मरणभाजनमायुरिदं यथा ॥ २३ ॥
jagati nāsti tathā guṇavarjitaṃ maraṇabhājanamāyuridaṃ yathā (23)
Bagaikan (yathā) ini (idam) kehidupan (āyuḥ) adalah wadah (bhājanam) kematian (maraṇa) yang terlepas dari (varjitam) kualitas (guṇa) demikian (tathā) ada (asti), tidak (na)? di dunia (jagati).
✎ᝰ Catatan Esoteris…
Monolog ini merupakan bentuk penyangkalan dari total terhadap nilai kehidupan duniawi ( samsarika jivana) dari sudut pandang absolut ( paramarthika). Rama telah mencapai realisasi anityata (ketidakkekalan) secara mendalam. Namun, ini bukan pesimisme nihilistik. Melainkan “smasana-vairagya” (kekecewaan seperti di kuburan) yang diperlukan sebelum kebangkitan spiritual.
Dengan menolak kehidupan biasa sebagai “buih” dan “beban”, Rama sedang membersihkan landasan untuk satu-satunya jenis hidup yang ia anggap bermakna: hidup yang mencapai moksa, tanpa penyesalan, dan sebagai tempat kebahagiaan tertinggi (Sloka 10).
Bentuk permohonan terselubung Rama kepada Wiswamitra...
Berilah saya jenis hidup yang lain—hidup yang bermakna,
hidup yang adalah sadhana (praktik spiritual) aktif, hidup yang adalah pengabdian pada dharma.
Bawalah saya keluar dari kehidupan yang sia-sia ini dan masukkan saya ke dalam ‘kehidupan sejati’ melalui tugas yang Anda berikan.”
Dengan demikian, analisis mendalam mengenai Sri (kemakmuran) serta Ayuh (hidup) adalah bentuk pembenaran filosofis untuk keputusannya meninggalkan istana dan mengikuti Vishvamitra. Tidak pergi karena depresi, melainkan karena pencerahan tentang kesia-siaan segala sesuatu yang ditawarkan dunia. Sekarang dirinya siap secara mental dan spiritual untuk menerima misi yang akan memberi-nya “jivitam” yang sesuai dengan definisi suci (Sloka 10). Wiswamitra, sebagai guru yang sempurna, telah membiarkannya menyuarakan semuanya ini sebagai bagian dari proses pembersihan diri ( Suddhi) sebelum inisiasi.
Komentar
Posting Komentar
"Terima kasih banyak telah meninggalkan komentar di blog kami! Kami sangat menghargai partisipasi Anda. Komentar Anda membantu kami untuk terus berkembang dan memberikan konten terbaik. Kami akan segera membalasnya begitu kami online. Tetaplah terhubung dan terus berbagi pemikiran Anda!
Jejaktantra — berbagi makna, menumbuhkan kesadaran."