Menguji guru spiritual sejati penting untuk memastikan keaslian, serta kesiapan mereka dalam membimbing kita. Proses ini menjamin bahwa bimbingan yang diberikan, tidak hanya berdasar pada pengetahuan tulus, tetapi juga pada kemampuan menghilangkan ego, serta batasan diri kita.
Tulisan ini mengeksplorasi pentingnya menguji guru spiritual sejati, guna memastikan keaslian, serta kesiapan mereka membimbing kita. Melalui kisah perseteruan antara Joowala Sai, bersama Bappa, kita diingatkan akan nilai kesabaran, kerendahan hati, juga pengorbanan, selama proses pembelajaran spiritual.
Semoga setiap artikel di blog kami memotivasi pembaca untuk mengeksplorasi aspek spiritualitas yang otentik. Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, atau berlangganan untuk mendapatkan pembaruan terbaru dari kami. Terima kasih atas kunjungan Anda.
Selamat membaca!
Menguji Guru Spiritual untuk Menemukan Kualitas Sejati
Seorang murid mempunyai hak menguji seorang guru, begitulah yang selalu terjadi dalam dunia spiritual. Pertama-tama seorang praktisi akan menguji calon gurunya, guna memastikan apakah dia memang benar-benar tepat untuknya, sedangkan guru juga akan menguji calon muridnya, untuk mengetahui apa yang cocok dipelajari, serta pantas didapatkannya.
Proses tersebut memang diharuskan, bahkan dalam teks Ayurweda sendiri, seorang siswa disarankan terlebih dahulu menguji calon guru secara menyeluruh, hanya bila dia merasa puas terhadap guru serta kemampuannya, maka ia harus menyerahkan namanya sebagai calon pemuridan. Selanjutnya guru akan mendapat gilirannya menguji muridnya.
Seorang guru spiritual harus menguji muridnya, bila dia adalah benar-benar seorang guru sejati, maka seluruh perlawanan dari muridnya akan mampu dipatahkannya. Guru yang sedang menguji, sebenarnya sedang mengajarkan untuk menghilangkan ego, melepaskan kesadaran muridnya, darinya batasan-batasan yang telah diciptakan serta dipertahankan oleh Kundalini pada tubuhnya sendiri.
Hanya melalui cara menurunkan ego muridnya, maka barulah ia bisa belajar. Guru tersebut mirip seperti seorang tukang kebun, sedangkan muridnya seperti bunga. Betapapun indahnya bentuk bunga, tukang kebun harus tetap harus memikirkan, apa yang dianggap penting untuk pertumbuhan dari bunga itu sendiri.
Kapanpun guru mengabaikan, atau menghina seorang murid, sebenarnya itu hanyalah ujian, melihat seberapa jauh ego muridnya telah mampu dihapuskan. Jangan pernah untuk membalasnya dengan kemarahan, cukup dengan diam, serta melihat bagaimana kita memperoleh manfaat dari hal tersebut.
Salah satu dari guru kami memiliki temperamen keras, bahkan terlalu keras bagi kebanyakan orang. Pada suatu hari ada orang suci, secara tidak sengaja bertabrakan dengan Guru kami tersebut. Joowala Sai, atau Orang Suci penuh Kutu begitulah julukannya, karena tubuhnya dipenuhi ribuan kutu serta serangga kecil lainnya. Setiap hari dia dengan hati-hati melepaskan serangga-serangga itu dari seluruh tubuhnya, berbicara, serta bermain dengan mereka, kemudian dengan hati-hati memindahkannya kembali kebadannya.
Suatu hari Bappa, panggilan dari guru kami tersebut, tidak sengaja bertabrakan dengan Joowala Sai, tapi dibalas dengan tersenyum oleh Joowala Sai padanya. Sesaat kemudian senyuman itu menghilang, serta merta berubah menjadi linangan air mata, dan permohonan maaf, bahkan ia rela berdiri dibawa terik matahari selama berjam-jam menunggu, sampai kakinya melepuh terbakar tanpa melakukan apa-apa.
Bappa berkata kepada kami kemudian, “Bagaimana dia mampu menunjukkan giginya padaku?” Ini merupakan salah satu tradisi tidak sopan dalam tradisi spiritual, dengan tersenyum, dan menunjukkan gigi kepada seseorang. Ketika Joowala Sai tersenyum pada Bappa, itu dianggap sebagai sebuah sebuah tantangan baginya. Itu sama saja dengan mengatakan, “Lihat betapa tingginya tingkat spiritualitas yang telah saya capai!”
Bappa sebenarnya merasa kasihan padanya, namun dalam sekejap dia merebut semua shaktinya. Joowala Sai segera menyadari apa yang telah terjadi, maka ia berusaha mencoba menenangkan Bappa, namun tidak berhasil. Jadi, apa yang selanjutnya terjadi? Tidak terjadi apa-apa. Joowala Sai harus mengulang kembali, mengumpulkan seluruh shaktinya dari awal. Itulah Hukum Karma, tapi Bappa tidak terburu-buru untuk mengembalikannya.
Tapi apakah perbuatan tersebut adil? Apa yang kita ketahui mengenai apa dimaksud dengan keadilan bagi orang seperti Bappa, yang memiliki tingkat spiritual lebih tinggi? Bila Joowala Sai benar-benar sudah merasa sakti, seharusnya ia sudah mampu menyadari, bahwa Bappa jauh lebih kuat dibandingkan dengan dirinya. Kemudian berusaha mencoba tidak pamer, dan tentunya sekarang, ia masih bisa bermain bersama-sama kutunya dengan gembira.
Pentingnya Menyucikan Sikap dalam Perjalanan Spiritual
Kalau berbicara tentang rasa adil, ini karena kita masih memiliki masalah terhadap kehilangan sikap kotor, yang pantas untuk diajarkan secara sederhana. Sayangnya kebanyakan orang tidak memiliki kesabaran. Kita sekarang hidup pada titik, semua keinginan harus segera terpuaskan.
Contohnya, hubungan seksual pranikah. Tidak ada romansa, tidak misteri, tidak ada kegembiraan. Karena Seks adalah fungsi alami, itu kata para ilmuwan, dan begitulah fungsinya kelamin diciptakan, bukan hanya sekedar alat untuk buang air kecil, pasti setidaknya pembaca pernah mendengar, ada orang mengatakan hal tersebut. Sehingga fungsi seks sekarang berada pada level sama, dengan fungsi tubuh lainnya, seperti keinginan buang air yang harus segera dituntaskan.
Begitu juga dengan dorongan ingin memperoleh pengetahuan spiritual, juga ingin dipuaskan dengan cara sama. Makanya tidak heran bila jaman sekarang, kita lebih banyak mendapatkan guru spiritual palsu. Kenapa banyak guru spiritual palsu? karena kita tidak bisa membeli seorang guru spiritual sejati. Bila memaksa untuk mencoba membelinya, maka hal didapat hanyalah tendangan, dan diusir.
Hal ini juga berlaku bagi seorang murid, menjadi tidak sabar terhadap pengetahuan, maka guru akan sengaja menundanya, untuk memberikan pelajaran kepadanya. Bila kemudian murid tersebut mulai kehilangan kesabarannya, maka dia akan pergi, mengapa gurunya harus peduli? setidaknya satu beban telah berkurang.
Banyak praktisi spiritual setengah matang atau ardha dagdha, merasa mampu membeli segalanya, termasuk spiritualitas. Ketika sesuatu tidak bisa diucapkan, bagaimana bisa dibeli? Inilah sebabnya mengapa orang-orang tersebut tidak diajarkan sesuatu yang benar.
Menyadari Nilai Pengetahuan Spiritual
Hanya guru spiritual palsu, yang mau mengajar seseorang dengan imbalan uang, tentu saja ajarannya tidak memiliki keunikan sama sekali. Bahkan muridnya juga berpikir, dengan memberi makan, memberi pakaian, serta menampung gurunya, maka akan membawanya ke surga. Tapi tidak begitu cara kerjanya.
Seorang guru hanya bisa menunjukkan caranya, dan dia, tidak bisa menggantikan segala ritual serta sadhana bagi orang lain. Namun bukankah dibutuhkan keberanian ekstra, mampu menolak semua uang yang datang dengan mudah tersebut? Lalu bagimana guru spiritual mampu memenuhi kebutuhan sehari harinya? Ingatlah guru spiritual seperti pemandu jalan, paham serta mengetahui jalan yang di laluinya, mereka mampu menjaga dirinya sendiri, dengan cara yang tidak Anda, dan saya bisa bayangkan.
Ilmu sejati diturunkan oleh guru kepada muridnya, setelah diperoleh melalui banyak kesulitan. Bahkan bila bisa menjual pengetahuan tersebut, tentu saja harganya akan tetap sangat tinggi, sehingga calon murid tidak akan mampu membayarnya. Bagaimana kita bisa memberi harga, pada hasil pertapaan yang dilakukannya selama berpuluh-puluh tahun?
Selain itu, orang tua tidak akan pernah mengharapkan uang dari seorang anak, kecuali bila mereka bukan orang tua sejati, hanya sekadar berpikir bagaimana caranya berprokreasi atau berkembang biak. Banyak hal akan bisa kita pelajari, tapi juga harus siap untuk mempelajarinya, termasuk kundalini juga harus siap menerimanya.
Ketahuilah, bahwa kebenaran tidak mampu diungkapkan melalui kata-kata. Bila bisa, maka tidak akan ada namanya kebenaran. Guru hanya mampu menggunakan kata-kata, metode untuk menunjukkan kebenaran tersebut. Tapi guru juga bisa menularkan ilmu tersebut, secara langsung tanpa disadari. Ini adalah cara pemberian hadiah. Namun tetap dibutuhkan kerja sama dari murid untuk bisa menerimanya.
Kesimpulan
Dalam dunia spiritual, hubungan antara murid, dan guru, melibatkan proses saling menguji guna memastikan kesesuaian, juga kesiapan kedua belah pihak. Seorang murid memiliki hak menguji calon gurunya terlebih dahulu.
Tujuan dari pengujian ini adalah, untuk memastikan bahwa guru tersebut memang tepat, serta memiliki kemampuan memadai untuk membimbingnya. Ini adalah bagian penting dari proses spiritual, sebagaimana diatur dalam teks Ayurweda, yang menyarankan agar seorang siswa menguji calon gurunya secara menyeluruh, sebelum memutuskan untuk menjadi muridnya.
Selain itu, guru juga akan menguji calon muridnya, guna memahami apa yang cocok untuk dipelajari oleh murid tersebut, serta layak diterima. Pengujian ini tidak hanya bertujuan untuk menilai kemampuan murid, tetapi juga membantu murid menghilangkan ego, serta batasan-batasan yang diciptakan oleh Kundalini dalam tubuhnya. Dengan menurunkan ego murid, guru mampu membantu muridnya mencapai pemahaman lebih mendalam, serta pertumbuhan spiritual yang lebih baik.
0 Comments
"Terima kasih banyak telah meninggalkan komentar di blog kami! Kami sangat menghargai partisipasi Anda. Komentar Anda membantu kami untuk terus berkembang dan memberikan konten terbaik. Kami akan segera membalasnya begitu kami online. Tetaplah terhubung dan terus berbagi pemikiran Anda!"