Featured Post
Vairagya Prakaraṇa: Bab 2 Sabda Dewa Brahma
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Vairagya Prakarana
“Mohonlah dengan sungguh-sungguh.
Ramayana yang tiada tercela ini telah dimulai.
Barang siapa mendengarnya, ia akan menyeberangi seutuhnya kebodohan—bagaikan samudra yang dijembatani hingga ke seberang.”
Inilah janji yang luar biasa. Ramayana tidak hanya diceritakan sebagai wiracarita kepahlawanan, melainkan sebagai setu—jembatan—yang menghubungkan tepi penderitaan dengan kebebasan sejati. Seperti samudra yang luas dan dalam mampu diseberangi dengan jembatan, demikian pula lautan samsara yang tak bertepi mampu dilintasi hanya dengan mendengar dan merenungkan kisah ini
Di sinilah kita berdiri saat ini. Di ambang sebuah kisah yang tidak hanya menghibur, tidak hanya mengajarkan, tetapi menyelamatkan. Sebuah kisah yang diwariskan dari Valmiki kepada Bharadvaja, dari Bharadvaja kepada Brahma, dan kini—melalui untaian sloka ini—kepada kita yang membacanya dengan kerinduan yang sama:
untuk menyeberang...
Restu telah diberikan. Jembatan telah dibangun. Yang tersisa hanyalah langkah kita untuk melintas.
Apakah kita siap mendengar kisah Rama dan Vasistha—dialog suci yang menjadi jantung dari seluruh pembebasan ini?
गुरुं वाल्मीकिमत्राशु प्रार्थयस्व प्रयत्नतः ।
तेनेदं यत्समारब्धं रामायणमनिन्दितम् ॥ ९ ॥
Guruṃ vālmīki matrāśu prārthayasva prayatnataḥ,
Tenedaṃ yatsamārabdhaṃ rāmāyaṇamaninditam (9)
Ini (idam) karenanya (tena) telah dimulai (samārabdham) yang (yat) tiada tercela (aninditam) Ramayana (rāmāyaṇam).
सेतुनेवाम्बुधेः पारमपारगुणशालिना ॥ १० ॥
Setunevāmbudheḥ pāramapāraguṇaśālinā (10)
Bagaikan (eva) samudra (ambudheḥ) dijembatani (setunā) hingga ke seberang (pāram) yang penuh dengan (śālinā) kualitas (guṇa) yang tak terbatas (apāra).
इत्युक्त्वा स भरद्वाजं परमेष्ठी मदाश्रमम् ।
अभ्यागच्छत्समं तेन भरद्वाजेन भूतकृत् ॥ ११ ॥
Ityuktvā sa bharadvājaṃ parameṣṭhī madāśramam,
Abhyāgacchatsamaṃ tena bharadvājena bhūtakṛt (11)
Bersamaan (samam) berkunjung (abhyāgacchat) itu (tena) oleh Bharadvaja (bharadvājena) dan Sang Pencipta Makhluk (bhūta-kṛt).
अवोचन्मां महासत्त्वः सर्वभूतहिते रतः ॥ १२ ॥
Avocanmāṃ mahāsattvaḥ sarvabhūtahite rataḥ (12)
Kepadaku (mām) berkata (avocat), sang Mahasatwa (mahāsattvaḥ) “Kesejahteraan (hite) bagi makhluk (bhūta) seluruhnya (sarva) yang bergembira (rataḥ).”
नोद्वेगात्स परित्याज्य आसमाप्तेरनिन्दितात् ॥ १३ ॥
Nodvegātsa parityājya āsamāpteraninditāt (13)
Itu (saḥ) jangan (na) ditinggalkan (parityājyaḥ) karena halangan (udvegāt), yang tanpa kekurangan (aninditāt) hingga diselesaikan (ā samāpteḥ).
समुत्तरिष्यति क्षिप्रं पोतेनेवाशु सागरात् ॥ १४ ॥
Samuttariṣyati kṣipraṃ potenevāśu sāgarāt (14)
Akan diseberangi (samuttariṣyati) dengan cepat (kṣipram), bagaikan (iva) menggunakan perahu (potena) cepat (āśu) di samudra (sāgarāt).
कुरु लोकहितार्थं त्वं शास्त्रमित्युक्तवानजः ॥ १५ ॥
Kuru lokahitārthaṃ tvaṃ śāstramityuktavānajaḥ (15)
“Susunlah (kuru) tujuan [sastra] (artham) untuk kebaikan (hita) dunia (loka) mu (tvam),” Sang Yang Tak Lahir (ajaḥ, Brahma) telah berkata (uktavān) demikian (iti) mengenai sastra (śāstram).
मुहूर्ताभ्युत्थितः प्रोच्चैस्तरङ्ग इव वारिणः ॥ १६ ॥
Muhūrtābhyutthitaḥ proccaistaraṅga iva vāriṇaḥ (16)
Tampak (abhyutthitaḥ) sekejap (muhūrta) bagaikan (iva) air (vāriṇaḥ) bergelombang (taraṅgaḥ) dengan derasnya (proccaiḥ).
पुनस्तत्र भरद्वाजमपृच्छं स्वस्थया धिया ॥ १७ ॥
Punastatra bharadvājamapṛcchaṃ svasthayā dhiyā (17)
Di sana (tatra) kemudian (punaḥ) aku bertanya (apṛccham) kepada Bharadvaja (bharadvājam) dengan pikiran (dhiyā) yang tenang (svasthayā).
इत्युक्तेन पुनः प्रोक्तं भरद्वाजेन तेन मे ॥ १८ ॥
Ityuktena punaḥ proktaṃ bharadvājena tena me (18)
Setelah berkata (uktena) demikian (iti) disampaikanlah (proktam) kembali (punaḥ) oleh Bharadvaja (bharadvājena) itu (tena) kepadaku (me).
एतदुक्तं भगवता यथा रामायणं कुरु ।
सर्वलोकहितार्थाय संसारार्णवतारकम् ॥ १९ ॥
Etaduktaṃ bhagavatā yathā rāmāyaṇaṃ kuru,
Sarvalokahitārthāya saṃsārārṇavatārakam (19)
Demi tujuan (arthāya) untuk kebaikan (hita) dunia (loka) (sarva) sebagai penyelamat (tārakam) dari samudra (arṇava) samsara (saṃsāra).”
✎ᝰ. Catatan Esoteris…
Bagian ini kembali menegaskan status Ramayana sebagai Sastra Moksa (Kitab Pembebasan) yang setara dengan Upanisad. Karena:
- ~ Diilhami oleh Belas Kasih Kosmis (Brahma sebagai sarva bhutahite ratah).
- ~ Dilahirkan dari Realisasi Guru (Valmiki sebagai sumber).
- ~ Memiliki Efektivitas Terjamin (metafora setu dan pota).
- ~ Bertujuan Universal (sarva lokahitarthaya).
Dengan demikian, teks ini telah memposisikan dirinya bukan sebagai karya sastra biasa, melainkan sebagai yajna (korban suci) dengan menggunakan kata-kata yang dipersembahkan untuk menyelamatkan semua makhluk. Pembaca diajak untuk mempercayai keampuhan sastra ini sebagai sarana (upaya) yang hidup dan menggunakannya sebagai alat penyeberangan pribadinya sendiri.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Penulis spiritual yang mendalami Tantra, Jyotisha, dan Ayurveda. Melalui JejakTantra, saya berbagi sari pati manuskrip kuno dan pengalaman batin untuk membantu Anda menemukan makna sejati kehidupan. Selamat menjelajahi kedalaman diri.
Postingan populer dari blog ini
Mantra: Kekuatan Perlindungan Pikiran dan Pencerahan
Menguak Sejarah Tantra Sebagai Sistem Pemikiran Spiritual
Materi Tantrik: Kunci Memahami Keragaman Spiritualitas
"Menyebarkan pengetahuan adalah bagian dari persembahan (Yadnya) yang saya jalani dengan penuh syukur. Jika tulisan di Jejak Tantra telah memberikan manfaat dalam perjalanan batin Anda, Anda dapat memberikan dukungan sukarela untuk menjaga ruang berbagi ini agar tetap mandiri."
☕ Apresiasi Ruang Berbagi(Apresiasi Anda membantu operasional & keaslian konten blog ini)
Komentar
Posting Komentar
"Terima kasih banyak telah meninggalkan komentar di blog kami! Kami sangat menghargai partisipasi Anda. Komentar Anda membantu kami untuk terus berkembang dan memberikan konten terbaik. Kami akan segera membalasnya begitu kami online. Tetaplah terhubung dan terus berbagi pemikiran Anda!
Jejaktantra — berbagi makna, menumbuhkan kesadaran."